19

Muhammad di Mekkah: Ke-Tauhid-an, Alat Berbalut Motif Ekonomi dan Balas Dendam

Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian (wa idhan laa,”tapi/dan kemudian tidak”), niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja[863]”.[AQ 17:76]
[863] Maksudnya: kalau sampai terjadi Nabi Muhammad SAW diusir, oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah Nabi Muhammad SAW. ke Madinah bukan karena pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata karena perintah Allah.

Apa yang sebenernya terjadi?!.

Kejadian yang mengawali surat tersebut di atas sangatlah kompleks. Setidaknya, di beberapa tahun sebelum Hijrah saja telah terjadilah sangsi pengucilan adat, sosial dan ekonomi oleh majoritas suku Quraish terhadap Suku Hasyim [baik mereka kafir maupun tidak].

Suku-suku Quraish Mekkah terdiri dari banyak suku (kurang lebih 40 suku) masing-masing atau sekelompoknya, tergabung dalam aliansi dengan suku-suku lainnya baik dari daerahnya sendiri maupun dari daerah lainnya di luar Mekkah. Dalam aliansi, mereka bahu membahu jika aliansi mereka diserang atau ketika berperang. Dari perang diperoleh-lah pampasan berupa: daerah, harta dan tawanan (yang kemudian dijadikan budak mereka atau dikawini atau dibebaskan). Pampasan (ghanima) tersebut dibagi menurut aturan 1/5 (khums) bagi yang mengusahakan dan terkadang dibagi secara rata. Jika ada kematian akibat pembunuhan di antara mereka yang beraliansi, diselesaikan dengan pembayaran diyat (uang darah) kepada pihak terkait.

Tuhan kalangan Quraish Mekkah dan sekitarnya banyak (dikatakan terdapat 360 tuhan). Mereka menyembah satu atau beberapanya. Walaupun bertuhan berbeda, mereka hidup cukup damai dalam keragaman (demikian pula para budak, biasanya ikut tuhan majikannya). Pola pendidikan kepada budak keras namun ketika pemiliknya berkaul membebaskan dan kaul terpenuhi, budaknya bebas tanpa memandang apakah budaknya bertuhan sama atau beda. Bagi mereka, menepati kaul adalah utama. Beberapa kaum wanita, ketika berapa kali gagal melahirkan berkaul pada tuhan lain yang bukan tuhannya saat itu, jika bayinya lahir selamat, akan memuja tuhan tersebut. kadang berhasil, kadang tidak. Tidak terjadi pertengkaran karena menyembah beda tuhan, tidak juga dilakukan paksaan karena menyembah beda tuhan, tidak juga di antara mereka memaki sesembahan lainnya atau menyatakan hanya tuhannya yang paling tuhan dan layak sembah atau jika tidak mau menyembah tuhannya diazab dunia akherat, juga tidak terjadi penghinaan terhadap adat istiadat suku mereka.

Ketika bulan-bulannya tiba bagi mereka untuk membina diri, mereka berpuasa. Saat itu mereka bersabar dan menahan diri, diantaranya tidak melakukan hubungan seksual dan tidak menumpahkan darah. Ketika waktunya memberikan Qurban, yaitu setelah binatang qurban (had) tersebut diberikan kalung bunga (qalaid), kemudian disembelih dihadapan tuhan-tuhan, kemudian dagingnya dibagikan pada siapapun baik bertuhan sama maupun berbeda. Beberapanya melakukan tambahan ‘qurban’ berupa pembebasan budak.

Demikianlah suku-suku tersebut hidup bertetangga.

Agar tidak kebingungan dalam membaca kelanjutan artikel, maka perlu kita kenali terlebih dahulu beberapa pelaku seputaran kejadian ini dan difokuskan pada sedikit suku di antara banyak suku kaum Quraish:

  • Klan Maksum, di antara turunannya: Abu Jahl (Abu Al-Hakam), Khalid bin walid dan juga suami ke-1 dan ke-2 Khadijah [Abu-Hala Al-Tamimi; Ateq ibn `Aaith] sebelum menikah dengan Muhammad SAW. Berikut pertemuan Muhammad dan Khadijah yang berawal dari hubungan bisnis:

    Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pedagang, terhormat, dan kaya raya. Ia mengkontrak banyak orang untuk menjualkan barang dagangannya dan berbagai hasil dengan mereka. Quraisy adalah bangsa pedagang. Ketika Khadijah mendengar informasi tentang Rasulullah SAW, kebenaran tutur beliau, keagungan kejujuran beliau, dan kebaikan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah SAW. Khadijah meminta beliau menjualkan barang dagangannya ke Syam dengan ditemani budak laki-lakinya yang bernama Maisarah dan akan memberikan gaji yang lebih banyak daripada gaji yang pernah diterima orang-orang lain. Rasulullah SAW menerima tawaran Khadijah, kemudian beliau pergi membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani budak laki-laki Khadijah, Maisarah hingga beliau tiba di Syam..Setelah itu, Rasulullah SAW menjual barang dagangan yang dibawanya dari Makkah, dan membeli apa yang ingin beliau beli. Setelah merampungkan aktifitas bisnisnya, beliau pulang ke Makkah dengan didampingi Maisarah..Tiba di Makkah, beliau menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang ia bawa dengan harga dua kali lipat atau lebih sedikit..” [Tabari, vol.6, hal.47-48]

    Riwayat Al-Harith – Muhammad b.Sa’d – Muhammad b.’Umar – Ma’mar dan lainnya – Ibn Shihab al-Zuhri: Riwayat yang sama disampaikan para ulama lokal, Khadijah hanya menyewa Muhammad SAW dan satu orang lain dari suku Quraish untuk pergi ke Pasar Hubashah di Tihamah..[Tabari, vol.6, hal.49]

    Yang kemudian berlanjut kejenjang perkawinan:

    Riwayat Al-Harith – Muhammad b.Sa’d – Muhammad b.’Umar – Ma’mar dan lainnya – Ibn Shihab al-Zuhri: Riwayat yang sama disampaikan para ulama lokal…Adalah ayah dari Khuwaylid yang mengawini Khadijah kepada Muhammad dan orang yang menjadi comblang adalah seorang Mekah yang lahir dari ibu seorang budak [Tabari, vol.6, hal.49]

    Riwayat Ibn Humayd – Salamah – Ibn Ishaq: Ketika Maisarah bercerita kepadanya tentang Rasulullah SAW, ia mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW dengan membawa pesannya, ‘Hai saudara misanku, sungguh aku tertarik padamu, karena akhlakmu, dan kebenaran tutur katamu.’ Khadijah menawarkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, wanita paling terhormat, dan wanita terkaya. Semua orang-orang Quraisy ingin menikah dengannya, jika mampu..Ketika Khadijah mengungkapkan tawarannya kepada Rasulullah SAW, beliau menceritakannya kepada paman-pamanbeliau. Kemudian bersama pamannya, Hamzah bin Abdul Muththalib, beliau pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muththalib melamar Khadijah untuk beliau, kemudian Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah SAW” [Tabari, vol.6, hal.47-48]

    Riwayat Muhammad b.’Abdallah b. Muslim – ayahnya – Muhammad b. Jubayr b.Mut’im; Riwayat Ibn Abi al-Zinad – Hisham b.Urwah – ayahnya -‘A’ishah; Riwayat Ibn Abi Habibah-Daud b.al-Husayn -`Ikrimah-Ibn’Abbas: Paman Khadijah ‘Amr b. Asad yang mengawini Khadijah kepada Rasullulah SAW. Ayah Khadijah wafat sebelum perang al-fijar [Tabari, vol.6, hal.49-50]

    Variasi umur Muhammad dan Khadijah ketika menikah dan bahwa Muhammad suami ke-3 Khadijah:

    Riwayat Al-Harith – Ibn Sa’d-Hisham b.Muhammad: Dari ayahku..Ia (Muhammad) mengawini Khadijah bt.Khuwaylid b.Asad b.’Abd al-‘Uzza di jaman pra islam ketika Muhammad berusia 20 lebih berapa tahun…Sebelumnya, Khadijjah telah kawin dengan ‘Atiq b.’Abid..setelah ‘Atiq wafat, Khadijah kawin dengan Abu Hilah b.Zurirah..” [Tabari vol.9, hal.127. Di catatan kaki no.872 menyampaikan variasi sumber bahwa ada yang menyatakan umur Muhammad 21/30 tahun, juga ada yang menyatakan Khadijah wafat di 10 tahun masa kenabian (3 tahun sebelum Hijrah), yaitu dari Ibn Sa’d, tabaqat vol.8, 7-27 dan Ibn kathir, Sirah, IV, 581]
    Riwayat Hisham b. Muhammad: Nabi mengawini Khadijah ketika Muhammad berusia 25 tahun dan saat itu Khadijah berusia 40 tahun [Tabari, vol.6, hal.47]

    Tentang “AL-AMIN”-nya Muhammad,
    Abu ja’far (al-Tabari): ..10 tahun setelah pernikahan Nabi (dengan Khadijah), Quraish menghancurkan Kabah dan membangunnya ulang. Menurut Ibn Ishaq, ini terjadi saat Nabi SAW berusia 35 tahun [Tabari, vol.6, hal.51]. Riwayat Humayd – Salamah – Muhammad b.Ishaq – perawi tertentu: Semua kabilah di Quraisy mengumpulkan batu-batu untuk membangun ulang Kabah. Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri ketika memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, mereka bertengkar. Setiap kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad, mereka bertengkar..dan bersiap-siap untuk perang..Orang-orang Quraisy selama empat atau lima malam dalam kondisi seperti itu..Kemudian mereka bertemu di Masjidil Haram untuk berunding. Beberapa perawi menambahkan bahwa Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah, orang tertua di kalangan Quraisy berkata, “Hai kaum Quraish, biarlah orang yang pertama masuk pintu Mesjid ini menjadi penengah perbedaan kalian dan boleh menjadi hakim untuk masalah ini” Orang pertama yang masuk adalah Nabi SAW dan ketika mereka melihatnya mereka berkata, “Ini adalah seorang ‘Al-Amin”, Kami menerimanya, Ia adalah Muhammad”..Sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu, orang-orang Quraisy menyebutnya Al-Amin (orang yang terpercaya).” [Tabari, vol.6, hal.58-59]

    Note:
    Dengan mengesampingkan bahwa hadis di atas terdapat perawi yang tidak diketahui, sehingga bukan hadis terpercaya, maka kata Al-Amin bukanlah gelar khusus hanya untuk Muhammad. Kata “amin” adalah kata benda, yang artinya, “Sesuatu yang dipecayakan padanya, pengawas, administrator”, yaitu posisi yang khususnya dalam tanggung jawab ekonomi atau keuangan atau representatif sah. Arti teknis kata amin adalah “kepala sebuah serikat dagang”, jamak “amin” adalah “aminat” [Lihat Kamus: “The New Encyclopedia of Islam“, Cyril Glassé, hal.48 atau “Encyclopaedia of Islam“, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. hal.437]. Hadis di atas bertentangan dengan Quran, yang menyebutkan pandangan kaum Quraish Mekkah terhadap Muhammad yaitu sebagai seorang pendusta, misal di AQ 42.24, “Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.”. Jadi maksud “Al-Amin” adalah jabatan yang dikelolanya selama dalam perdagangan.


  • Klan Abd Manad, di antara anak dan turunannya:
    Kembar yang sulung: Klan Abd Shams, diantara turunannya adalah: Shaybah ibn Rabi’ah, Utba ibn Rabi’ah, Walid ibn Utba, Hind bint Utba [Isri Abu Sufyan dan punya anak Muawiyah yang nantinya jadi Bani Umayyah]
    Kembar ke-2: Klan Hasyim, diantara turunannya adalah: Shaiba bin Hasyim (kelak di kenal dengan nama Abdul Al-Mutallib ). Keturunan dari Abdul Al-Muttalib, diantaranya adalah: Abdul Lahab, Harith, Abu Talib [yang kemudian pemimpin Klan Hasyim setelah wafatnya Abdul Al-Muttalib], Hamzah, Abbas, Abdullah, Muhammad SAW, Ali, dll
    Adik si kembar: Klan Muttalib. Ketika kakak ke-2nya, Hasyim, wafat, maka Ia yang kemudian menjadi pemimpin klan Hasyim. Ia membesarkan anak kakaknya yang bernama Shaiba bin Hasyim [yang juga di kenal dengan nama Abdul Al-Muttalib]. Setelah Muttalib wafat, maka Abdul Al-Muttalib menggantikannya sebagai pemimpin Klan Hasyim [dan Mutallib]. Turunan dari Abdul Al-Muttalib (shaiba bin Hasyim) adalah Abdullah ibn Abd al-Muṭṭalib, yang dikatakan sebagai ayahanda Muhammad SAW.
Mereka ini lah yang kemudian berbunuhan sendiri di antara sesamanya.

Tentang kontroversi ayah dari Muhammad SAW,
Walaupun secara umum diyakini bahwa jalur leluhur Muhammad misalnya seperti ini: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Firh, NAMUN, Ada INDIKASI KUAT bahwa Muhammad BUKAN anak ABDULLAH-AMINAH tapi BUDAKNYA ABDUL MUTHALIB (ayah dari Abdullah bin Muthalib):

Penampilan Hamza digambarkan kuat secara fisik. Baik Abdul Muttalib, Abdullah dan Hamza bin muttalib tidak pernah digambarkan pendek/cebol, namun Muhammad digambarkan dengan fisik yang PENDEK/cebol:

    Riwayat Muslim bin Ibrahim – Abdussalam bin Abu Hazim:
    Aku melihat Abu Barzah datang menemui Ubaidullah bin Ziyad, lalu seseorang dalam rombongan bernama Muslim bercerita kepadaku. Ketika Ubaidullah melihatnya, ia berkata, “Itu Muhammad kalian ini al-dahdaahu (pendek/cebol dan gemuk) (“إِنَّ مُحَمَّدِيَّكُمْ هَذَا الدَّحْدَاحُ”/ai̹nã muḥamãdīمkum̊ hadẖā ạldمḥ̊dāḥu)” Abu Dawud no.4124/41.4731 dan di Ahmad no.18943]
Tampaknya fisik Muhammad berbeda dari Hamzah, Abdullah dan Abdul Muthalib. Hadis menyampaikan ucapan Hamzah bahwa Muhammad adalah budak Abdul Muthalib:
    Riwayat Yahya bin Yahya At Tamimi – Hajjaj bin Muhammad – Ibnu Juraij – Ibnu Syihab – Ali bin Husain bin Ali – ayahnya Husain bin Ali – Ali bin Abu Thalib:

    ..saat hendak menikahi Fatima..[2 H, yaitu setelah Badr dan Sebelum Uhud]..

    Di dalam rumah tersebut terdapat Hamzah bin Abdul Mutthalib (sering disebut sebagai paman Nabi) sedang meminum minuman keras, sedang dihibur oleh seorang penyanyi perempuan yang dalam salah satu nyanyiannya terselip kata-kata, “Wahai Hamzah, ingatlah pada unta-unta yang montok.” Maka Hamzah pun berdiri dengan membawa pedang terhunus. Lalu dia memotong punuk kedua unta tersebut, lalu membelah perutnya dan mengambil hati yang ada di dalamnya.” Saya lalu bertanya kepada Ibnu Syihab, “Dan dua punuknya?” dia menjawab, “Dan dia telah memotong kedua punuk unta tersebut.”

    Ibnu Syihab berkata, “Ali berkata, “Saya melihat pemandangan yang mengejutkan bagiku, lantas saya langsung mendatangi Nabi SAW, dan di samping beliau terdapat Zaid bin Haritsah. Lalu saya memberitahukan kepada beliau apa yang terjadi. Setelah itu beliau keluar bersama Zaid bin Tsabit, dan saya pun ikut bersama beliau.

    Kemudian beliau menemui Hamzah dan memarahinya. Ternyata Hamzah memandangi beliau sambil berkata, “أَنْتُمْ إِلَّا عَبِيدٌ لِآبَائِي” (KAMU (antum “أَنْتُمْ”) TIDAK LAIN HANYALAH BUDAK (Abiidun “عَبِيدٌ”) BAPAKKU)

    (Muslim 23.4881/no.3661:
    Lalu Rasulullah SAW mulai mencela Hamzah terhadap apa yang telah diperbuatnya. Pada saat itu, kedua mata Hamzah memerah dan dia juga mulai mengamati Rasulullah SAW dari kedua lutut naik ke pusar dan akhirnya ke wajah beliau. Kemudian Hamzah berkata, “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku

    Bukhari 4.53.324/no.2861:
    Maka Rasulullah SAW langsung mencela Hamzah atas apa yang telah dilakukannya. Ternyata Hamzah benar-benar dalam keadaan mabuk, kedua matanya merah. Hamzah memandangi Rasulullah SAW, lalu mengarahkan pandangannya ke atas, kemudian memandang ke arah lutut Beliau, lalu mengarahkan pandangannya kembali ke atas, kemudian memandang pusar Beliau, lalu mengarahkan pandangan ke atas lagi, kemudian memandang wajah Beliau. Kemudian Hamzah berkata; “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku

    Bukhari 5.59.340/no.3702:
    Lalu Nabi SAW mulai mencela Hamzah terhadap apa yang telah di perbuatnya. Pada saat itu, kedua mata Hamzah memerah dan dia juga mulai mengamati Nabi SAW, mulai dari kedua lutut beliau naik hingga ke wajah beliau. Kemudian Hamzah berkata, “Kamu tidak lain hanyalah budak bapakku“)

    Akhirnya Rasulullah SAW kembali pulang dan meninggalkan mereka.” Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid telah mengabarkan kepadaku Abdurrazaq telah mengabarkan kepadaku Ibnu Juraij dengan isnad seperti ini.” [Muslim 23.4879/no.3660]

Mengapa Hamzah menyatakan Muhammad BUKAN cucu Bapaknya tapi budak Bapaknya?

Dalam biographynya Al-Halabi dan juga “The Comprehensive Compilation of the Names of the Prophet’s Companions” oleh Ibn Abd al-Barr: Ibunda Muhammad (Amina), tinggal di rumah Wahib (paman Amina). Abd Mutallib (kakek Muhammad) kemudian meminta 2 kemenakan perempuan Wahib, (Amina untuk Abdullah dan Hala untuk nya sendiri). Mereka berdua kawin di waktu yang sama.

    “Al-Sirat al-Halabiya”, Al-Halabi, vol.1, hal. 51 [atau di vol.1 hal. 62] السيرة الحلبية للحلبي

    ثم رأيت في أسد الغابة ما يوافقه، وهو أن عبد المطلب تزوج هو وعبد الله في مجلس واحد،
    [Abdul-Muttalib, dan juga anaknya, Abdullah, MENIKAH PADA SAAT YANG SAMA]

    The Major Classes, Ibn Sa’d, vol. 1, hal. 94-95 الطبقات الكبرى لإبن سعد

    فمشى إليه عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف بن قصي بابنه عبد الله بن عبد المطلب أبي رسول الله، صلى الله عليه وسلم، فخطب عليه آمنة بنت وهب فزوجها عبد الله بن عبد المطلب، وخطب إليه عبد المطلب ابن هاشم في مجلسه ذلك ابنته هالة بنت وهيب على نفسه فزوجه إياها، فكان تزوج عبد المطلب بن هاشم وتزوج عبد الله بن عبد المطلب في مجلس واحد،
    [Jadi, Abdul Muthalib menuju kepadanya (Wahib) bersama putranya Abdullah, bapak nabi, meminta Amina dan menikahi Abdullah. Dalam saat yang sama, Ia meminta Hala untuk dirinya sendiri dan dia (Wahib) menikahkan padanya. Oleh karena itu, PERNIKAHAN Abdul Muthalib dan Abdullah, anaknya, TERJADI BERSAMAAN]

Beberapa saat setelah kawin, Abdullah pergi berdagang ke Syiria dan wafat diperjalanan pulang dari Syria:
    SOME MONTHS PREVIOUS TO THE INVASION OF ABRAHA, Abdul Muttalib had affianced his then youngest son, Abdullah, who was twenty-four years of age, to Amina, the niece of Wahb of Bani Zuhra, under whose guardianship she lived. The marriage took place, and NOT LONG AFTER Abdullah left his wife, WHO WAS WITH CHILD, and set out on a mercantile expedition to Syria. ON HIS WAY BACK, he fell ill at Medina, and was left behind by the caravan with his father’s maternal relatives.

    [BEBERAPA BULAN SEBELUM INVASI ABRAHA, Abdul Muttalib mempertunangkan dirinya juga anak bungsunya, Abdullah, yang berusia 24 tahun, dengan Amina, ponakan perempuan Wahb dari suku Zuhra, yang berada diperwaliannya. PERKAWINAN DILANGSUNGKAN, DAN TIDAK LAMA SETELAHNYA Abdullah meninggalkan istrinya, YANG TELAH DENGAN ANAK, dan berangkat untuk ekspedisi dagang ke Syira. Dalam perjalanan pulangnya, ia jatuh sakit di Medina, dan ditinggalkan oleh Kafilah bersama kerabat dari pihak ibunya] [AlIslam.org, Variasi lainnya: sunnah.org: Abdullah pergi ke Syiria 2 MINGGU setelah perkawinan]

    Muhammad Husayn Haikal:
    …Abdullah dengan Aminah tinggal SELAMA 3 HARI di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd’l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullahpun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin lagi selain dengan Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan diri kepadanya? Rasanya tak ada gunanya menyelidiki keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti ialah Abdullah adalah seorang pemuda yang tegap dan tampan…

    Kebiasaan (sunnah) bangsa arab adalah sebagaimana diriwayatkan Musaddad – Bisyr – Khalid dari Abu Qilabah – Anas – Nabi SAW: Termasuk perkara sunnah bila menikahi gadis hendaklah bermukim ditempatnya 7 hari dan bila menikahi janda hendaklah bermukim ditempatnya selama 3 hari.” [Bukhari no.4812]

Hala melahirkan Hamza bin Abdul Muttalib, sedangkan Amina melahirkan Muhammad. Masalahnya, walaupun kedua ibu menikah di hari yang sama: Hamza lebih tua 2 tahun s.d 4 tahun dari Muhammad.
    Al-Isaba fi Tamyiz al-Sahaba, Ibn Hajar, vol.2, hal. 121 الإصابة فى تميز الصحابة لإبن حجر

    1828 حمزة بن عبد المطلب بن هاشم بن عبد مناف القرشي الهاشمي أبو عمارة عم النبي صلى الله عليه وسلم وأخوه من الرضاعة أرضعتهما ثويبة مولاة أبي لهب كما ثبت في الصحيحين وقريبه من أمه أيضا لأن أم حمزة هالة بنت أهيب بن عبد مناف بن زهرة بنت عم آمنة بنت وهب بن عبد مناف أم النبي صلى الله عليه وسلم ولد قبل النبي صلى الله عليه وسلم بسنتين وقيل بأربع
    [Hamza anak dari Abdul-Muttalib [..] lahir 2 atau 4 tahun SEBELUM Nabi]

    The Major Classes, Ibn Sa’d, vol. 3, hal. 10 الطبقات الكبرى لإبن سعد

    قال: أخبرنا محمد بن عمر، قال حدثني موسى بن محمد بن إبراهيم عن أبيه، قال: كان حمزة معلما يوم بدر بريشة نعامة. قال محمد بن عمر: وحمل حمزة لواء رسول الله، صلى الله عليه وسلم، في غزوة بني قينقاع ولم يكن الرايات يومئذ. وقتل، رحمه الله، يوم أحد على رأس اثنين وثلاثين شهرا من الهجرة وهو يومئذ بن تسع وخمسي سنة، كان أسن من رسول الله، صلى الله عليه وسلم، بأربع سنين،
    [Hamza [..] terbunuh di Uhud [..] Ia berusia 59 tahun [..] Ia 4 tahun lebih tua dari Rasulullah..]

    Di “Uyun al-Athar”, Ibn Sayyid al-Nas:
    “Zubair meriwayatkan bahwa Hamza 4 tahun lebih tua dari Nabi. Tapi tampaknya ini tidak benar, karena hadis terpercaya menyatakan Thaybiya menyusui keduanya Hamza dan Nabi.” Ibn Sayyid menyimpulkan bahwa Hamza 2 tahun lebih tua dari Muhammad, bukan 4 tahun seperti diklaim Zubayr.

    Ibn Sa’d:
    Riwayat Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami – Musa lbn Shaybah – ‘Umayrah Bint `Ubayd Allah Ibn Ka`b Ibn Malik – Barrah Bint Abi Tajrah:

    Yang pertama menyusui Rasulullah SAW adalah Thuwaybah dengan susu anaknya yang bernama Masruh, beberapa hari sebelum Halimah datang. Ia (Thuwaybah) pernah menyusui Hamza bin Abdul Al-Muttalib sebelumnya dan Abu Salamah Bin Abdul Al-As’ad Al-Mahzumi setelahnya Nabi. [Ibn Sa’d, AL-Tabaqat Al-Kabir, Vol 1, bagian 1.27.1]

    [note:
    Kebiasaan lama waktu menyusui sekurangnya adalah 2 tahun, sehingga jumlah waktu menyusui: Hamza + Abu Salamah + Masruh (berapa hari), sampai akhirnya Muhammad menyusui, sekurangnya 4 tahunan].

    The Life of Muhammad: Al-Waqidi’s Kitab Al-Maghazi, diedit oleh Rizwi Faizer, hal.36 menyatakan Hamzah lebih tua 4 tahun dari Muhammad.

Dalam suatu wawancara dengan Zakaria Botros di TV Al-Hayat, dalam program “in Dept” episode ke-3 (Lihat terjemahan: Indonesia atau Inggris, Pendeta ini kelak di FATWAKAN MATI), Ia menyampaikan pertanyaan terbuka kepada para Sheikh Muslim, Sheikh Karadawy, Sheikh Tantawy dan Sheikh Beblawy tentang “Mengapa terdapat selisih umur 2 s.d 4 antara HAMZA dan MUHAMMAD padahal Ibu mereka MENIKAH BERSAMAAN dan Ayahanda MUHAMMAD wafat HANYA BEBERAPA BULAN KEMUDIAN atau dengan kata lain: SIAPA AYAHNYA MUHAMMAD agar ia lahir empat tahun setelah Abdullah meninggal?”. Zakaria memberikan argument tambahan seperti di bawah ini:
  1. Dalam buku “Dalail al-Nubuwwah” yang ditulis oleh Abu Naim al-Isbahani yang mengutip kata-kata Ibn Abbas, dikatakan begini, “ketika orang-orang Quraysh bicara siapa leluhur mereka dan menggambarkan Muhammad sebagai “pohon palem yang tumbuh di lereng bukit” (artinya: Tidak di kenal siapa leluhurnya) Ketika Muhammad mendengar itu Ia sangat marah.

    Abu Naim al-Isbahani melanjutkan dan berkata bahwa Ibn Abbas menyampaikan pada Muhammad, “Ketika kaum quraish bertemu dengan sesamanya, mereka saling memberikan senyum lebar. Namun ketika mereka bertemu dengan kami, mereka mengejek kami dan mengatakan tidak mengetahui darimana Muhammad.” Muhammad menjadi sangat marah ketika mendengar itu. beberapa ahli sejarah menginterpretasikan ini dalam arti bahwa Bani Kindah tahu betul bahwa Muhammad berasal dari suku mereka dan bukan dari bani hasyim dan Muhammad mengakui itu. Mereka juga mengatakan bahwa statement “sebatang palem yang tumbuh dilereng bukit” artinya adalah tidak dikenal siapa ayahnya.


  2. ”Dalam “Al–Sirah Al-Halabiyah”, oleh Imam Ali Burhan al-Din al-Halabi dimana ia menulis bahwa amina mengatakan bahwa kehamilan Muhammad LEBIH MUDAH dari dari kehamilan lainnya [juga disebutkan “The Beginning and the End”-nya Ibn Kathir, dan “Al-Khasas al-Kubra”-nya Jalal al-Din al-Suyuti dan banyak hadis lainnya.

    [misal: “The Birth of The Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam”, Marion Holmes Katz, hal.43: “[Amina]: ‘..Then I conceived him, and by God I have never experienced a pregnancy lighter and easier than his‘” (“Kemudian aku hamil dia, dan demi tuhan Aku tak pernah mengalami sebuah kehamilan lebih ringan dan lebih mudah daripadanya”) Berapa kalikah AMINAH pernah hamil sebelumnya?]


  3. Di jaman jahiliyah tidak dipermasalahkan, para wanitanya, melakukan hubungan seksual dengan lebih dari 1 orang. Misalnya: “Al-Sirah Al-Halabiyah” menceritakan bahwa Amr Ibn al-As di Mekkah tidak tahu siapa ayahnya, karena 4 pria memiliki hubungan seksual dengan ibunya. Ketika ia bertanya kepada ibunya siapa ayahnya, ia memilih al-As dan Amr Ibn al-As menganggapnya sebagai ayahnya.

    misal: “sermon of Imam Ali, NAHJ AL-BALAGHAH“, kotbah 179:
    “An-Nabighah” adalah nama belakang/keluarga dari Layla binti Harmalah al-`Anaziyyah, ibu ‘Amr ibn al-‘Ash. Alasan menghubungkannya dengan ibunya karena reputasinya dalam hal ini. Ketika Arwa binti al-Harits ibn `Abd al-Muththalib mendatangi Mu’awiah, dalam pembicaraan, ketika ‘Amr ibn al-‘Ash ikut campur tangan, ia berkata kepadanya:

    “O Anak ‘an-Nabighah, kamu juga berani berbicara, meskipun ibumu dikenal sebagai penyanyi Mekah. Itulah mengapa 5 orang mengklaimmu (sebagai anak), dan ketika ia (ibunya) ditanya, Ia akui 5 orang telah berhubungan dengannya dan bahwa Kamu dianggap anaknya karena kamu banyak kemiripannya. kamu mirip Al-‘Ash ibn Wa’il dan karena itulah kamu dikenal sebagai anaknya”.

    Kelima orang itu (1) al-`As ibn Wa’il, (2) Abu Lahab, (3) Umayyah ibn Khalaf, (4) Hisham ibn al-Mughirah, dan (5) Abu Sufyan ibn Harb. (Ibn `Abd Rabbih, al-`lqd al-farid, vol. 2, p. 120; Ibn Tayfur, Balaghat an-nisa’, p. 27; Ibn Hijjah, Thamarat al-awraq, vol. 1, p. 132; Safwat, Jamharat khutab al-`Arab, vol. 2, p.363; Ibn Abi’l-Hadid, vol. 6, pp. 283-285, 291; al-Halabi, as-Sirah vol. 1, p. 46)

Demikanlah mengapa KUAT DUGAAN bahwa Ayah Nabi BUKAN Abdullah dan TIDAK JELAS SIAPA, dan jika dikemudian hari beliau mengatakan ayahnya adalah Abdullah adalah mungkin seperti pada kasus Amr Ibn Al-As

Tentang kapan Muhammad SAW lahir,
Dikatakan Muhammad menjadi nabi di umur 40 tahun, namun berapa lama di Mekkah dan berapa umur wafatnya, hadis menyampaikan dengan sangat bervariasi:

  1. Menjadi Nabi umur 40 tahun, di Mekkah 10 tahun dan 10 tahun lagi di Medina (Bukhari 4.56.747), Wafat diusia 60 tahun (Bukhari 4.56.748, 7.22.787, Muslim 30.57.97 dan Malik Muwatta 9.49.1.1
  2. Ibn Abbas: Menjadi Nabi umur 40, di Mekkah 13 tahun, di Medina 10 tahun. (Bukhari 5.58.190), wafat umur 63 (Bukkhari 5.58.242), Di hadis lain dari Ibn Abbas: di Mekkah 15 tahun,..(Muslim 30.5809), hadis lain dari Ibn Abbas: menjadi Nabi umur 40, di Mekkah 15 tahun dan 10 tahun lagi di Medina (Muslim 30.5805)
  3. Usia wafat 60 tahun: Muslim no. 4330; Bukhari no.3283, no 3284, 5449; Tabari vol.9 hal. 207-208
  4. Usia wafat 63 tahun: Bukhari no. 3613, 3614, 4106; Ahmad no. 16269, 16277; Tabari vol.9 hal. 206-207
  5. Usia wafat 65 tahun: Muslim no.4340, 4339; Ahmad no.1749, 1844, 2508,3207; Tirmizi no.3583, 3584, 3585; Tabari Vol. 9, hal 207
Dari hadis-hadis tentang umur beliau ini, maka rentang kelahiran Nabi SAW pun akhirnya akan berjarak 5 tahun, dan ini akan menjadi semakin tidak pasti, karena kelahiran beliaupun dikaitkan dengan tahun gajah:
    Riwayat Muhammad bin Basyar Al Abdi – Wahb bin Jarir – ayahku (Jarir bin Hazm bin Zayd) – Muhammad bin Ishaq – Al Mutthalib bin Abdullah bin Qais – ayahnya (Abdullah bin Qais bin Makhramah) – kakeknya (Qais bin Makhramah bin Al Muthallib): “Aku dan Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH.” Lalu Utsman bin ‘Affan bertanya kepada Qubats bin Asyyam -saudaranya bani Ya’mar bin Laits- “Apakah anda lebih tua ataukah Rasulullah SAW?” dia menjawab; “Rasulullah SAW lebih dewasa segala-galanya dari padaku sekalipun dari sisi usia aku lebih dahulu dilahirkan dari pada beliau, Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH, sedang ibuku melahirkanku pada waktu itu juga.” dia berkata; “(Waktu itu) AKU JUGA SEMPAT MELIHAT KOTORAN BURUNG TELAH BERUBAH BERWARNA HIJAU.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib, kami tidak mengetahui (hadits tersebut) kecuali dari hadits Muhammad bin Ishaq.” [Tirmidhi no.3552]

    Riwayat Ya’qub – Bapakku (Ibrahim bin Sa’ad bin Ibrahim bin ‘Abdur Rahman bin ‘Auf) – Ibnu Ishaq – Al Muthallib bin Abdullah bin Qais – Bapaknya – kakeknya Qais bin Makhramah: “Saya dan Rasulullah SAW dilahirkan PADA TAHUN GAJAH. Dan kami adalah dua orang bayi yang dilahirkan dalam waktu yang sama.” [Ahmad no.17218]

    Riwayat Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami – Abu Bakr Ibn ‘Abd Allah Ibn Abi Sabrah – Ishaq Ibn `Abd Allah Ibn Abi Farwah – Abu Ja`far Muhammad Ibn `Ali: Rasullullah SAW lahir pada hari senin, 10 Rabiul Awwal dan INVASI KAUM BERGAJAH (ashab al-fiil) terjadi pada pertengahan Muharam, 55 HARI SEBELUM kejadian ini [Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.1]

    Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar Ibn Waqid al-Aslami- Musa Ibn Shaybah – `Umayrah Bint `Ubayd Allah Ibn Ka’b Ibn Malik – Umm Sa’d Bint Sa`d Ibn al-Rabi’ – Nafisah Bint Munyah:..Rasullullah SAW mengawini dia (Khadijah) saat berusia 25 tahun dan khadijah 40 tahun, karena ia lahir 15 tahun sebelum tahun gajah [Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.35.1]

    Riwayat lbn Sa`d – Muhammad Ibn ‘Umar – Hishàm Ibn Sa’d – Zayd Ibn Aslam – `Abd Allah Ibn ‘Alqamah Ibn al-Faghwa (Jalur ke-1); Ibn Sa`d – Ishaq Ibn Yahya Ibn Talhah – Isa Ibn Talhah – Ibn `Abbas (Jalur ke-1); lbn Sa’d – Musa Ibn `Ubaydah – Muhámmad Ibn Ka`b (Jalur ke-3); Muhammad Ibn Sàlih – `lmran Ibn Mannah (Jalur ke-4); Ibn Sa`d – Qays Ibn al-Rabi’ – Ibn Ishaq – Sa’id Ibn Jubayr (Jalur ke-5); Ibn Sa’d – `Abd Allah Ibn `Amir al-Aslami – anak perempuan dari Abu Tajrát (Jalur ke-6); Ibn Sa`d – Hukaym Ibn Muhammad – Ayahnya – Qays Ibn Makhramah (Jalur ke-7); mereka semua berkata: Rasullullah SAW lahir di tahun gajah [Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.4]

    Riwayat Ibn Sa`d – Yahya Ibn Ma’in – Hajjaj Ibn Muhammad – Yunus Ibn Abi Ishaq – Sa’id Ibn Jubayr – lbn `Abbas: Rasullullah SAW lahir di hari gajah-gajah, yang mana maksudnya tahun gajah.[Ibn Sa’d Tabaqat al-Kabir, Vol.1, bagian 1.24.5]

Hisham Ibn Al Kalbi (w.204 H/819 – 206/821 M):
    Sebelum kronologi waktu dari Nabi, Kaum Quraish menghitung waktu dari waktu kejadian gajah. Antara peristiwa Gajah dan (perang) Fijar, mereka hitung 40 tahun. Antara Fijar dan wafatnya Hisham b. Al-Mughira, mereka hitung 6 tahun. Antara wafatnya Hisham dan pembangunan Ka’ba, mereka hitung 9 tahun. Antara pembangunan Ka’ba dan keberangkatan Nabi ke Medina, mereka hitung 15 tahun. (Scott Johnson, Hal 286: al-Zubayr b. Bakkar, Nasab Quraysh, 668 par.1649, kister 1965a, 427)
Bahkan rentang tahun akibat keterkaitan kelahiran beliau dengan tahun gajahpun lebih sangat bervariasi:
    Muhammad ibn al-Sa’ib (w.726 M) berkata bahwa Muhammad lahir 15 tahun SEBELUM “Tahun Gajah”. Ja’far ibn Abi ‘l-Mughira (wafat awal abad ke-8) menetapkan kelahiran Muhammad 10 tahun SETELAH “tahun Gajah”, sementara Al-Kalbi menceritakan bahwa Shu’ayb ibn Ishaq (w. 805 M) berkata bahwa Muhammad terlahir 23 tahun SETELAH kejadian ini (Kisah peyerangan dengan gajah). Al-Zuhri (w. 742 M) yakin bahwa Muhammad lahir 30 tahun SETELAH “Tahun Gajah”, sementara Musa ibn ‘Uqba (w. 758 M) Yakin bahwa Muhammad lahir 70 tahun kemudian! [Lawrence I. Conrad, “Abraha and Muhammad: Some Observations Apropos of Chronology and Literary “topoi” in the Early Arabic Historical Tradition“, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London, Vol. 50, No. 2 (1987), Hal. 234.]

    Dari “THE SONS OF KHADIJA“, M.J. Kister, hal 81-82, pada catatan kaki no.100:
    Mughultaay, Talkhiis al-sira; MS. Shehid ‘Ali 1878, fol.7a-b; dan lihat Mughultaay, al-Zahr al-baasim, MS.Leiden, atau 370, fol 71a-b:Nabi lahir 10 tahun SETELAH ‘gajah'”, 23 tahun SETELAH ‘gajah’, 15 tahun SEBELUM ‘gajah’, 15 tahun SETELAH ‘gajah’, 1 bulan SETELAH hari kejadian gajah“;
    Al-Zurqaani, Sharh al-mawaahib,I, 89; Al-Kalbi:23 tahun SETELAH hari kejadian gajah“; Muqatil:40 tahun“; lainnya:30 atau 50 atau 70 tahun SETELAH ‘gajah’“;
    dan lihat perbedaan tanggal ditafsir Al-Qurtubi, XX, 194; Ibn Hajar al-Haytami, al-Ni’matu al-kubraa ‘alaa al-‘aalam bi-maulidi sayyidi banii aadam, MS. di kepunyaanku, fol 18a, ult-18b:lahir di tahun gajah, 40 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA, 23 tahun SETELAHNYA, 15 tahun SEBELUMNYA, 3 tahun SETELAHNYA“;
    Khalifa b. Khayyat Ta’rikh, ed. Akram Diyaa al-‘Umarii, al-Najaf 1386/1967, hal. 9-10:di tahun gajah, 40 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA atau 15 tahun SEBELUMNYA“;
    dan lihat perbedaan tanggal di Muhammad b. Saalim al-Himawi, Ta’rikh al-saalihi, MS. Br. Mus., atau. 6657, fol 13Oa; dan lihat variasi tradisi: Ibn Kathir, al-Bidaaya; II, 262:10 tahun SETELAH tahun gajah, 23 tahun SETELAHNYA, 30 tahun SETELAHNYA, 40 tahun SETELAHNYA dan 15 tahun SEBELUM hari dari kejadian gajah” (tradisi ini ditandai sebagai gharib, munkar dan da’if);
    dan lihat variasi tanggal di Al-Bayjuri Haashiyatun ‘alaa maulidi abii al-barakaat: sayyidii ahmadi al-dardiir, Cairo 1294, hal 44-45; al-Sinjaarii, Manaa’ihu al-karam bi-akhbaari makkata wa-al-haram; MS. Leiden, atau. 7018,fol.58a:lahir di tahun gajah, atau 50 tahun SETELAH serangan dari pasukan gajah, atau 30 tahun SETELAH tahun gajah, atau 40 tahun SETELAH tahun gajah“.
    Banyak tradisi di Ibn Nasir al-Din Jami’ al-athar, fols. 179b-180b:Nabi lahir di tahun gajah, menerima wahyu 40 tahun setelah ‘gajah’ (peperangan di -K) ‘Ukaaz terjadi 15 tahun SETELAH ‘gajah’ dan kabah dibangun 25 tahun setelah ‘gajah’“; “Nabi lahir 30 hari SETELAH ‘gajah’, atau 15 hari, atau 55 hari atau 2 bulan 6 hari, atau 10 tahun; beberapa berkata 20 tahun, beberapa berkata 23 tahun, beberapa berkata 30 tahun, beberapa berkata Tuhan mengirim nabi dengan misinya 15 tahun SETELAH KABAH DI BANGUN sehingga menjadi 70 tahun antara ‘gajah’ dan kenabiannya (mab’ath)“; “beberapa berkata bahwa ia lahir 15 tahun SEBELUM ‘gajah’, beberapa berkata 40 hari atau 15 hari, beberapa berkata 30 tahun SEBELUM ‘gajah’, dan terakhir, beberapa berkata 10 tahun antara ekspedisi gajah dan kenabian, wa-bayna an bu’itha“.
    Lihat al-Bayhaqi, Dalaa’il, I, 65:Nabi di hari ‘Ukaz beruisa 20 tahun“; hal. 67: “Kabah dibangun 15 tahun SETELAH tahun gajah dan Nabi menerima wahyu 40 tahun setelah ‘gajah’. Menurut tradisi lainnya, nabi menerima misinya 15 tahun SETELAH dibangunnya kabah, misi nabi, al-mab’ath, terjadi 70 tahun SETELAH tahun gajah“; hal. 68: “Nabi lahir 10 tahun SETELAH tahun gajah

Jika “Tahun Gajah” adalah 570 M, maka rentang kelahiran Muhammad antara tahun 520 M – 640 M. dan wafat antara tahun 583 M – 703 M. Oleh karena begitu lebar rentang tahunnya, tentu saja tidak semua sepakat menghubungkan tahun gajah dan kelahiran beliau:
    Hubungan antara tanggal lahirnya nabi dan eskpedisi gajah, akan tetapi, DITOLAK Mu’tazila: Tuhan penyebab keajaiban kejadian kekalahan Abraha adalah untuk NABI LAIN SEBELUM MUHAMAD seperti Khalid b. Sinaan atau Quss b. Saida [“THE SONS OF KHADIJA“, M.J. Kister, hal 83]
Demikianlah, untuk urusan kelahiran orang no.1 dalam dunia Islam saja, riwayatnya TIDAK PASTI, rentang kebenaran tahunnya sangat jauh, TIDAK PASTI, maka, seberapa jauh rentang kebenaran tentang Quran, Allah dan Surga? Karena bahkan Quranpun punya rantai perawi dari kesaksian minimum 2 orang.

Tentang pengucilan suku Hasyim dan Muttalib,
Alasan para pemimpin suku Quraish hingga tega melakukan sangsi pengucilan kepada suku Hasyim [dan Muttalib], terekam sebagai berikut:

    [Orang-orang terkemuka Mekkah] pergi ke Abu Tablib [dan berkata] “keponakanmu telah mengutuk tuhan-tuhan kita, menghina agama kita, mengejek cara hidup kita & menuduh nenek moyang kita salah. Entah apakah kamu yang harus menghentikannya atau Kamu harus membiarkan kita mengajar adat padanya” Tapi Abu Thalib tidak akan mengalah. Rasul terus melakukan dengan caranya… konsekuensinya, hubungannya dengan orang-orang Quraisy [Mekah] memburuk & mereka menjauhinya dalam permusuhan.(Ibnu Ishaq 168)
Tindakan pengucilan tersebut dituangkan dalam satu maklumat dan di tempelkan di Ka’bah. Isinya berupa larangan berhubungan baik itu menikah dan melakukan jual-beli dengan suku Hasyim[1]. Maklumat itu ditandatangani oleh 40 (empatpuluh) pemimpin suku Quraish. Pada maklumat itu terdapat kata “Bismikallahumma” (“ﺑﺎﺳﻤﻚ اﷲ”, Atas Nama Allah)[3].

Bismikallahumma?

Ya, demikianlah yang dituliskan para Jahiliyah jaman itu.

    Kaum arab jaman jahiliyah mempunyai kebiasaan menambahkan frase (ﺑﺎﺳﻤﻚ اﷲ‬) (Bismikallahumma, Atas nama Allah) pada permulaan surat yang mereka tuliskan [3]
Bismikallahumma” adalah bukti jelas bahwa kata Allah dikenal umum para Arab jaman Pra Islam. Allah adalah nama generik sesembahan area itu, terutama sekali di kalangan Arab Quraish, sehingga tidaklah mengherankan jika Ayahanda Muhammad SAWpun bernama Abdullah (Hamba Allah). Bahkan sebelum bertemu Jibril (sang Malekat)-pun, Muhammad SAW sudah kerap berada di gua hira untuk memuja Allah [Bukhari: 1.1.3 dan 9.87.111. Lihat: Journal of Religious Culture no.90 (2007): “A Different Approach to the Narratives about the Tear of the Boycott Document Placed inside al-Ka’bah”, İsrafil Balcı‎, Associate Professor of Islamic History at the Faculty of Divinity, Ondokuz May‎s University. Untuk: [1] catatan kaki no.4, hal.2]; [2] catatan kaki no.6, hal.2; [3] catatan kaki no.27, hal.5]

Apakah Allah yang di maksud merupakan Allah yang sama yang dipuja kaum Muslim?

Beberapa hadis di bawah ini menginformasi bahwa ayah bunda, kakek (Abdul Muttalib) dan paman (Abu talib) nabi, setelah wafat ada di neraka karena tidak menyembah Allah yang Muhammad SAW sembah:

  1. Ayahanda dan Ibunda Muhammad SAW dinyatakan masuk Neraka krn tidak memuja Allah:

  2. Riwayat Musa bin Isma’il – Hammad – Tsabit – Anas: Seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah! Di manakah ayahku?” beliau menjawab, “Di Neraka!” [Abu Dawud no.4095/41.4700]. Ketika orang itu pergi, beliau memanggilnya seraya berkata, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu di neraka” [Muslim no.302/1.398 (Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah – Affan – Hammad – Tsabit – Anas). Ahmad no.11747, 13332, Juga: “Qaa’idatun Jalilah At-Tawassul wal Wasilah”, Cetakan 1977, Hal.8, Lahore-Pakistan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]

    Riwayat Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb – Muhammad bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah: Nabi SAW menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang yang di sekelilingnya pun ikut menangis. Kemudian beliau berkata: “Aku mohon izin Rabb-ku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankanNya, dan Aku meminta izin untuk menziarahi kuburnya lalu diperkenankanNya. Karena itu, berziarahlah kubur karena akan mengingatkan kalian akan kematian” [Muslim no.1622/4.2130, 1621/4.2129, Abu Daud no.2815/20.3228, Nasa’i no.2007/3.21.2036, Ibnu Majah no.1561/1.6.1572, Ahmad no.9311, Baihaqi (4/76). Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 hal.393-395]

    Riwayat Hasan bin Musa dan Ahmad bin ‘Abdul Malik – Zuhair – Zubaid bin Al Harits – Muharib bin Ditsar – ‘Abdullah bin Buraidah – ayahnya: Kami bersama Nabi SAW, beliau singgah di tempat kami, saat itu beliau bersama sekitar seribu tentara berkuda, beliau shalat dua rakaat kemudian beliau menghadapkan wajah ke arah kami bercucuran air mata. Umar bin Al Khaththab menghampirinya berkata: Wahai Rasulullah! Ada apa denganmu? Rasulullah SAW berkata: “Aku memintakan ampunan untuk ibuku pada Rabbku AzzaWaJalla tapi Ia tidak mengizinkanku, aku pun bercucuran air mata karena iba padanya dari Api (Neraka) (مِنْ النَّارِ)” [Ahmad no.21925, Ibnu Abi Syaibah, Hakim (1/376), Ibnu Hibban (no. 791), Baihaqi (4/76) dan Tirmidzi]

    Juga dari 2 (dua) hadis mursal di bawah ini, sebagai asbabunuzul AQ 2.119,
    Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad SAW) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka

    Hadis Mursal:
    Rasulullah SAW bersabda: “Betapa inginnya aku tahu nasib ibu bapakku.” Maka turunlah ayat (AQ 2.119). Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut lagi kedua ibu bapaknya hingga wafatnya [Diriwayatkan Abdurrazzaq dari atTsauri, dari Musa bin ‘Ubaidah yang bersumber dari Muhammad Ibnu Ka’b al-Qarzhi].
    Rasulullah SAW pada suatu hari berdoa. “Di mana kedua ibu bapakku kini berada?” Maka Allah turunlah ayat (AQ 2.119) [Diriwayatkan Ibnu Jarir dari Ibnu Juraiz yang bersumber dari Dawud bin Abi ‘Ashim]

  3. Paman Nabi yaitu, Abu Talib, wafat tidak memeluk Islam. Hingga di saat terakhirnya Ia tetap menolak menerima Allahnya Muhammad SAW dan menyatakan mengikuti agama dari Abu Muttalib (Kakeknya Nabi) [Riwayat Said bin Al-Musaiyab – Ayahnya (Bukhari no.2.23.442: turunnya At taubah 9.113, 5.58.223, 6.60.295, Sahih Muslim no.1.36 dan Nasai no.3.21.2037: turunnya Attaubah 9.113 dan Al qasash 28:56). Muslim no.1.37, 1.38 (Riwayat Abu huraira, turunnya Al Qasash 28.56)].
Hadis-hadis di atas memberikan kita informasi bahwa Allah yang Muhammad SAW sembah berbeda dengan Allah yang disembah oleh ayah-bundanya, kakeknya (Abdul Muttalib) dan juga pamannya (Abu talib).

Darimanakah asalmuasal perubahan pengetahuan Muhammad SAW tentang Allah?

Dalam hadis sahih Bukhari, Aisha memberikan informasi bahwa Khadijah membawa Muhammad SAW bertemu dengan sepupunya, yaitu Waraqa bin Naufal bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qusai, seorang Kristen yang biasa menterjemahkan Injil dari bahasa Ibrani kedalam bahasa Arab [Bukhari 4.55.605, 1.1.3 dan 9.87.111 atau: “Pre-Islamic Arab Converts to Christianity in Mecca and Medina“, Ghada Osman]. Khadijah sangat percaya kemampuan Waraqa dalam ilmu agama, sehingga ketika ada kejadian di gua Hira, Ia dan Muhammad SAW datang meminta petunjuk Waraqa.

Waraqa dan Khadijah merupakan penyembah Allah yang sama yang kelak diperkenalkan pada Muhammad SAW

Setelah Muhammad SAW bertemu jibril untuk kali pertamanya, Iapun meminta kejelasan kejadian ini pada Waraqa yang saat itu telah menjadi buta dan sudah tua.

Waraqa wafat beberapa hari kemudian dan sebelum wafat sempat berkata bahwa Orang-orang yang membawa sesuatu yang serupa seperti yang di bawa Muhammad SAW akan dimusuhi dan mengalami pengusiran. Jika ia masih muda dan masih hidup saat Muhammad SAW diusir kaumnya maka ia bisa memberikan dukungan sekuatnya pada Muhammad SAW. Setelah Waraqa wafat, jibril juga absen muncul sementara dan kemudian baru muncul kembali di saat-saat tertentu dalam beberapa kejadian [Bukhari 4.55.605, 1.1.3 dan 9.87.111. Ramalan Waraqa keliru, AQ 17. 76 menyatakan TIDAK ADA pengusiran].

Sehingga sangat bisa di duga bahwa selama 24 tahun pernikahan Khadijah dan Muhammad SAW, yaitu 15 tahun sebelum menjadi nabi dan 9 tahun setelah menjadi nabi, Muhammad SAW juga mempelajari buku-buku yang di translasikan oleh Waraqa [atau dari Waraqa langsung] atau dari penuturan Khadijah.

Seberapa valid-kah Nabi benar-benar mengenali Allahnya?

Sangsi pengucilan adat, sosial dan ekonomi kepada bani Hasyim [dan Mutalib] itu sangatlah berat hingga membuat banyak dari mereka hijrah ke Abbyssinia. Tidak berapa lama setelah mereka hijrah, turunlah surat AQ 53:19-20, [turun di urutan ke-23], yang merekam peristiwa Muhammad SAW memuji 3 tuhan kaum Quraish.

Hadis sahih Bukhari yang menyatakan ketika surat Al Najam dilafalkan semua orang bersujud [Kaum pagan, Muslim dan Jin] [Bukhari 6.60.386 dan 2.19.177]. Karena turunnya surat inilah maka hubungan diantara mereka kembali melunak sebagaimana tergambar di Tabari.

    Ketika [Penduduk Mekkah] mendengar itu, Mereka gembira. Yang nabi katakan tentang Allah-Allah mereka, menyenangkan dan menggembirakan mereka, Mereka mendengarkan Nabi..Ketika saatnya untuk bersujud di akhir surat itu, Nabi bersujud dan para muslim mengikuti Nabi..Para kaum Quraish musyrik dan lainnya yang ada di mesjid juga bersujud atas apa yang mereka dengar tentang Allah-allah mereka. Semua yang ada dimesjid saat itu, baik Kafir maupun bukan, semuanya bersujud. Hanya Walīd bin al-Mughīra, tetua yang telah berumur ini, tidak mampu berlutut, tangannya menggenggam sejumput tanah dari lembah di Mekkah [dan meletakannya di jidadnya]. Kemudian semua orang berhamburan keluar Mesjid.

    Kaum Quraish berhamburan keluar dengan gembira ketika mendengar bagaimana nabi membicarakan Allah mereka. Mereka berkata, “Muhammad telah menyebut Allah-Allah kita dengan sangat baiknya. Apa yang Nabi lafalkan, Mereka adalah “al-gharānīq al-‘ula (burung surgawi yang terbang tinggi)” yang syafaat/campurtangannya sangatlah diharapkan”.

    Para pengikut Nabi yang sebelumnya telah beremigrasi ke Abyssinia ketika akhirnya mendengar kejadian bersujud ini dan disampaikan kepada mereka bahwa kaum Quraish telah menerima Islam. Beberapa diantaranya memutuskan kembali, sementara beberapa lainnya tetap tinggal [“The History of al-Tabari”, Vol.6, hal.107-112; “The Life of Muhammad”, A.Guillaume, hal.165-166; “Al-Tabaqat Al-KABIR”, Ibn Sa’d, Vol.I Parts 1.51.1]

Anda yang belum terkontaminasi dan bernurani baik, ketika membaca ini segera mengetahui bagaimana watak kaum quraish yang sebenarnya. Ternyata, mereka yang dinyatakan kafir ini, bahkan tidak bersifat pendengki dan pendendam pada nabi, pengikut dan ajarannya.

Selekas mereka mendengar pujian yang sepatutnya pada yang mereka hormati, maka ketika itupula mereka membuang semua perbedaan melakukan sujud bersama-sama dengan para penghina, pencomooh, penghujatnya serta melupakan semua penghinaan terhadap leluhur, cara hidup, adat istiadat dan tuhan-tuhan mereka.

Beginikah prilaku kaum yang dikategorikan berwatak sangat keji itu?

Sekarang mari kita perhatikan surat Al Hajj 22:52 [turun di urutan ke-103]. Surat ini turun sehubungan dengan Muhammad SAW menarik kembali pengakuannya pada 3 tuhan Quraish sebagaimana di sebutkan di surat AQ 53:19-20 [turun di urutan ke-23], dengan alasan bahwa itu adalah karena ulah setan.

    Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat
Tafsir Jalalyn untuk surat 22:52-53
    Nabi, dalam satu pertemuan dengan kaum Quraish setelah melafalkan surat al Najam, “Maka apakah patut kamu menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manat yang ketiga (afara’ait-ul Lata wal Uzza wa Manat ath-thalitha-al ukhra)” [53:19-20] ditambahkan, SEBAGAI AKIBAT SETAN memasukan ke lidahnya tanpa Ia [Nabi] menyadarinya, [berikut kata-kata], “mereka adalah burung surgawi yang terbang tinggi (al-gharānīq al-‘ula) yang syafaatnya diharapkan (tilk al-gharaniqa- tal-‘ula, wa anna shafa’at-u-hunna latarja)“, dan kaum Quraish merasa gembira. Namun Gabriel belakangan memberitahunya bahwa Setan telah memasukan ke lidahnya, Ia bersedih. tetapi [kemudian] menentramkannya dengan ayat berikutnya, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan syaitan, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui apapun yang Setan telah masukkan itu, Maha Bijaksana, dengan memungkinkan setan melakukan hal-hal itu, atas apapun yang Allah kehendaki.

    Note:
    “The History of al-Tabari, Vol.6, hal.107-112 atau Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah – The Life of Muhammad, A.Guillaume, hal.165-166 atau Ibn Sa’d, Al-Tabaqat Al-KABIR, Vol.I Parts 1.51.1 atau “The Idea of Idolatry and the Emergence of Islam: From Polemic to History”, G. R. Hawting,131-132 atau “Muhammad and the Daughters of Allah: A Summation of the Evidence for the Satanic Verses” atau “The Myth of Muhammad: Islam’s Most Sacred History Refutes Popular Misconceptions about the Prophet of Islam”

    Tentang Gharaniq,
    Gharaniq adalah bentuk jamak dari ghirniq, ghurnuq, ghurnayg, ghuraniq, semacam spesies burung supranatural. kata ini muncul dalam sajak pra-islam di banyak bentuk. Kamus Al Munjid menggambarkannya sebagai burung air yang punya sayap lebar dan kaki panjang. Arti keduanya adalah pemuda/pemudi putih menarik. Dalam Al-Tibyan dari Syaikh Abu Ja’far tusi (7:292), mengutip Al-Hasan (Al-Basri) memberikan juga arti “Malaikat”. Terjemahan lainnya mentermahkannya sebagai: “Angsa”, burung yang cantik, “Burung-burung yang dapat terbang tinggi” dan “wanita-wanita yang agung” (“Debating Muslims: Cultural Dialoques in Postmodernity and tradition”, Michael M. J. Fisher, Mehdi Abedi)

Di buku “PROCEEDINGS OF THE PANEL ON “CORRECTION OF ERRONEOUS INFORMATION PUBLISHED ON ISLAM AND MUSLIMS” THE CASE OF THE SATANIC VERSES – by The Islamic Educational, Scientific, and Cultural Organization – ISESCO, 1413 AH/1992 AD, dikatakan:
  1. Pada hal.100: Al Najm (no.53) turun di tahun ke-5 kenabian dan surat Al Hajj [no.22] di tahun ke 13 (akhir periode Mekkah) atau periode awal Medinah. [Artinya peristiwa pengakuan 3 Dewa itu berlangsung hampir 8 tahun lamanya]
  2. Pada hal 107: Kisah SETAN yang ikut serta menurunkan ayat di Al Najm (no.53) yang kemudian dilanjutkan dengan pencabutan kembali oleh Allah di Al Hajj (no.22), dinyatakan autentik dan sahih oleh Al-Tabari, B. Hajar dan B. Taimiya.
Quran telah dinyatakan sebagai wahyu yang diturunkan Allah via malaikat, namun tampaknya bahkan Nabi sendiri juga ngga bisa membedakan antar pemilik “suara gaib” itu. Sementara itu, Di kitab perjanjian lama orang-orang nasrani [dan tentu saja para orang Yahudi] terdapat kata-kata seperti ini:
    Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. [Ulangan 18:20]
Sehubungan dengan ayat di kitab ulangan tersebut, maka terdapat sebuah “kebetulan” yang menarik yang terjadi di beberapa tahun kemudian, yaitu pada peristiwa kematian Muhammad SAW.

Kematian Nabi sebagaimana di laporkan oleh kalangan Sunni dan Syiah adalah akibat dibunuh dengan racun.

Pelaku peracunan itu, menurut dari sumber Sunni adalah wanita Yahudi bernama: Zainab bint Harith, sementara dari sumber Syiah: (klik!) Aisyah dan Hafsah

Setelah Nabi wafat, maka anaknya, yaitu Fatima; “Sahabatnya”, yaitu: Abubakar, Umar, Usman, Ali; Cucunya, yaitu: Hasan, Husein dan Istri tersayangnya: Aisyah-pun tidak ada yang wafat wajar, semua tewas terbunuh.

Tentang kontroversi penganiayaan pada Muhammad SAW dan pengikutnya di Mekkah,
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas siapa yang menganiaya siapa dan apa pula motifnya, mari kita susun dalam bentuk kronologis:

KE-1,
Sebelum menerima wahyu “Allah” sampai dengan Muhammad SAW berumur 40 tahun [610 M], Muhammad SAW tidaklah memusuhi dan/atau dimusuhi kaum Quraish manapun. Bukti terbaik mengenai hal ini adalah Waraqa, Ia TIDAK menyembah Allahnya kaum quraish dan Ia wafat di usia tua TANPA penganiayaan apapun oleh suku Quraish karena perbedaan sesembahan.

KE-2,
Pada 3 (tiga) tahun pertama, setelah menerima wahyu “Allah”, juga tidak terjadi kekacauan namun setelah itu terjadi peningkatan skala “kekacauan” ketika Nabi terus menerus memaki sesembahan kaum Quraish, mencerca cara hidup mereka dan agama mereka serta menghina nenek moyang mereka:

Ketika Rasul secara terbuka menggambarkan Islam sebagai Allah yang memerintahkan dia, kaum Quraish tidak berbalik melawannya, sejauh saya dengar, hingga Ia berbicara yang meremehkan dewa-dewa mereka. Ketika dia melakukan itu, mereka tersinggung hebat dan memutuskan bulat untuk memperlakukannya sebagai musuh.(Ibn Ishaq 167)

[Orang-orang Mekkah] berkata bahwa mereka ngga pernah ketemu kekacauan terus menerus seperti yang dilakukan orang ini. Ia nyatakan cara hidup mereka bodoh, menghina nenek moyang mereka, mencerca agama mereka, memecah komunitas dan mengutuki tuhan mereka(Ibn Ishaq 183)

KE-3,
Sejak menjadi nabi s/d turunnya surat Al kafirun AQ 109:1-6 [turun di urutan ke-18]. Beberapa riwayat menyampaikan bahwa walaupun Nabi kerap menghina dan memaki adat istiadat, cara hidup, nenek moyang dan sesembahan kaum Quraish namun mereka hanya memintanya dengan cara lembut dan sabar agar berhenti dari kebiasaannya:

    “Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun.” Nabi saw menjawab: “Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku.” Dan turun pula Surat Az Zumar AQ 39:64 [turun di urutan ke-59] sebagai perintah untuk menolak ajakan yang menyembah tuhan lain [Asbabunuzul AQ 109.1, Diriwayatkan at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas]

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: “Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami.” Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6) [Asbabunuzul AQ 109.1, Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Mina]

    Mereka kemudian memutuskan mengirim utusan menemui Muhammad, melakukan pembicaraan dengannya..Ketika Nabi datang dan duduk bersama mereka, Mereka menerangkan bahwa mereka di kirim untuk berbicara. Tidak ada kaum Arab lainnya yang memperlakukan sukunya seperti Muhammad lakukan pada mereka dan mereka mengulangi kembali yang disampaikan..Jika uang yang diinginkannya, Mereka dapat membuat Muhammad menjadi yang terkaya diantara mereka; Jika kehormatan persoalannya, maka Ia seharusnya menjadi pangeran mereka; Jika kedaulatan, mereka akan menjadikannya sebagai pemimpin (Ibn Ishaq 188)

    “Abu Sufyan, bersama dengan tokoh lainnya, menemui Abu Talib dan berkata: “Kau tentunya tau kekacauan yang terjadi antara kami dan kemenakanmu, Jadi, panggilah ia dan biarkan kami mengadakan perjanjian yang membuatnya tidak mengusik kami dan kamipun tak kan mengusiknya; Biarlah ia dengan agamanya dan biarkan kami dengan agama kami” (Ibn Ishaq 278)

Tabari mencatat bahwa SEKURANGNYA TELAH 3X Kaum Quraish mendatangi Abu Talib karena pembiarannya terhadap tindakan ponakan dan pengikutnya yang tidak henti-hentinya menghina adat-istiadat, agama dan Tuhan mereka:
    Ibn Humayd-Salamah-Ibn Ishaq:
    Rasulullah mewartakan pesan Tuhan secara terbuka dan menyatakan Islam di depan umum kepada sesamanya. Ketika dia melakukannya, mereka tidak menarik diri darinya atau menolaknya dengan cara apa pun, sejauh yang saya dengar, sampai dia berbicara tentang dewa-dewa mereka dan mencela mereka. Ketika dia melakukan ini, mereka bersatu menentang dan bermusuhan terhadapnya, kecuali kepada kaum muslim yang telah dilindungi Allah dari kemalangan akibat keIslamannya. Yang terakhir jumlahnya sedikit dan mempraktikkan iman mereka secara rahasia. Pamannya, Abu Thalib, bersikap ramah padanya, dan melindunginya dari bahaya… Nabi terus melakukan Dakwahnya…orang Quraisy keberatan kepada yang telah berpaling dari jalan mereka dan mencela dewa-dewa mereka, melihat Abu Thalib melindunginya, tidak menyerahkannya kepada mereka. Pemuka Quraisy, yang terdiri dari ‘Utbah b. Rabi’ah, Shaybah b. Rabi’ah, Abu al-Bakhtari b. Hisham, al-Aswad b. al-Muttalib, al-Walid b. al-Mughirah, Abu Jahl b. Hisham, al-‘As b. Wa’il, dan Nubayh dan Munabbih, putra al-Hajjaj, pergi ke Abu Thalib dan berkata, “Abu Thalib, ponakanmu telah mencaci dewa kita, mencela agama kita, mencemooh nilai-nilai tradisi kita dan mengatakan kepada kita bahwa nenek moyang kita sesat. Entah Ia hentikan penyerangannya kepada kita atau berikan kami kebebasan menghadapinya, karena kamu sama bertentangannya seperti kami, dan biarkan kami menanganinya untuk mu” Abu Thalib memberikan jawaban yang menolak dengan sopan, dan mereka meninggalkannya. Rasulullah melanjutkan usahanya seperti sebelumnya…

    Setelah ini, Muhammad diasingkan kaum Quraisy, dan mereka menarik diri darinya dan menyimpan kebencian padanya…AKHIRNYA MEREKA MENEMUI ABU TALIB SEKALI LAGI. “Abu Thalib, kami menghormatimu karena umurmu, kemuliaanmu, dan kedudukanmu. Kami memintamu melarang keponakanmu menyerang kita, TAPI KAMU TIDAK MELAKUKANNYA. Demi Tuhan, kami tidak lagi dapat menahan fitnah terhadap nenek moyang kita, cemoohan terhadap nilai-nilai tradisi kita dan pelecehan terhadap tuhan kita. Entah kamu mengekangnya atau kami akan memerangi kalian karena hal ini sampai salah satu pihak diantara kita hancur”. Lalu mereka pergi. Pepecahan dan dimusuhi sukunya ini sangat membebani Abu Thalib, tetapi Ia tidak bisa berlega menyerahkan Rasulullah kepada mereka atau menelantarkannya [The History of al-Tabari, Vol. 6, hal. 93-94]

    Tabari kemudian menyampaikan hadis dari Ibn Ishaq:
    Ibn Humayd-Salamah – Muhammad b.Ishaq – Ya’qub b.’Utbah b.al-Mughirah b.al-Akhnas: Abu Thalib kemudian memanggil Rasulullah dan berkata kepadanya, “Keponakan, sukumu telah datang kepadaku dan berkata ini-dan-itu. , dan jangan membebani saya lebih dari yang dapat saya tanggung. ” Rasulullah pikir pamannya berbalik haluan akan meninggalkan dan menyerahkannya, tekad pamanya untuk membantu dan berada di sisinya telah melemah, jadi Ia berkata, “Paman, jika mereka menempatkan matahari di tangan kananku dan bulan di kiriku, dengan syarat Aku harus meninggalkan khotbahku sebelum Tuhan memberikan kemenangan atau aku mati karena usahaku, Aku tidak akan meninggalkan ini.” Rasulullah dengan mengeluarkan air mata, menangis kemudian bangkit. Ketika berbalik, Abu Thalib memanggilnya dan berkata, “Kemarilah, keponakan.” Rasulullah mendatanginya, kemudian Abu talib berkata, “Pergilah, keponakan, dan sampaikanlah sesukamu. DEMI TUHAN, aku tidak akan pernah menyerahkanmu dengan alasan apapun.”

    Ketika kaum Quraish tahu Abu Thalib menolak meninggalkan Rasulullah dan menyerahkannya, memutuskan hubungan terhadap mereka dan menjadi musuh mereka, MEREKA MENDATANGI LAGI Abu Talib, kali ini membawa pemuda bernama Umarah b.al-Walid b. al-Mughirah, seorang pemuda paling berani, paling puitis, paling berbakat dan paling tampan di antara suku Quraisy untuk diserahkan menjadi anaknya SEBAGAI GANTI agar Abu Talib mau menyerahkan ponakan yang telah menentang agama, nenek moyang, menabur perselisihan di suku mereka dan telah mencemooh nilai-nilai tradisi mereka, untuk dibunuh, seorang pria untuk ganti seorang pria (kebiasaan suku mereka). Penawaran ini ditolak Abu Thalib. Al-Mut’im b. ‘Adi b. Nawfal b. ‘Abd Manaf berkata, “Demi Tuhan, Abu Thalib, sukumu telah berlaku adil, telah berupaya keras menghindarimu dari situasi sulit.” Abu Thalib menjawab, “Demi Tuhan, mereka tidak memperlakukanku adil. Kamu telah memutuskankan meninggalkanku dan mendukung seluruh suku untuk melawanku. Lakukan apa yang kamu nggap pantas.”

    Setelah ini, situasi makin memburuk, permusuhan makin pahit, orang-orang menarik garis satu sama lain dengan kebencian terbuka satu sama lain. Kaum Quraisy saling menyemangati untuk menghadapi mereka yang telah menerima Islam. Setiap suku yang anggotanya ada yang muslim, mereka siksa dan paksa murtad. Sementara itu, Allah melindungi Rasul-Nya melalui perantara pamannya, Abu Thalib, yang meminta orang-orang Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib untuk mengikuti, melindungi dan membela, berkumpul di sekelilingnya, berada di sampingnya, dan menanggapi seruan untuk membelanya, kecuali Abu Lahab. Abu Thalib gembira atas keseriusan mereka mendukung dan perhatian mereka, Ia pun mulai memuji mereka, Rasulullah dan posisinya untuk memperkuat putusan mereka. [Ibid, hal.96-98]

KE-4,
Abu Talib yang tetap melindungi kemenakannya walau tahu kemenakan dan penganutnya tidak mengindahkan perasaan sukun mereka dengan terus menerus menghina tuhan, nenek moyang, adat-istiadat mereka, menyebabkan kekacauan, perpecahan dikalangan mereka adalah tindakan tidak adil bagi sukunya

Ketidakadilan inilah yang membuat 40 pemimpin suku Quraish[2] bersepakat untuk memberlakukan sangsi adat sosial-ekonomi kepada Bani Hasyim [juga Bani Muttalib, baik mereka masih kafir maupun tidak].

Beberapa mengatakan, sangsi ini terjadi di tahun ke-7 masa kenabiannya [617 Masehi], namun terdapat sumber valid yang menyatakan kejadian ini terjadi di tahun ke-5 kenabiannya [615 M] [Appendix B. A Brief Chronology of the Life of Prophet Muhammad, mengutip dari: “Jihad in the Qur’an: The Truth from the Source (2nd Ed.), Louay Fatoohi; Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisham, Jilid.1 hal.608; Juga Tabari, vol.VII, Hal.57; Bukhari 3.38.498; juga: “Pedang Terhunus: Hukuman Mati bagi Pencaci Maki Nabi SAW”, Judul asli: Ash Sharimul maslul ‘ala Syatim Ar Rasul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-Rahimahullah-Taqrib: Dr Shaleh Ash Shahawi]

Tentang kontroversi kemartiran Sumayyah dan Yasir,
Dalam beberapa debat di net, terdapat sirkulasi kejamnya kaum Quraish pada yang masuk Islam, salah satunya kisah “martir” pertama Islam, Sumayyah bint Khayyat, istrinya Yasir. Ketika itu Yasir beraliansi dengan Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Abu Hudzaifah kemudian memberikan budak wanita bernama Sumayyah pada Yasir dan lahirlah Ammar bin Yasir. Berikut beberapa sumber kisah kemartiran pertama Islam:

    Yasir, Sumayyah dan Ammar bin Yasir, disiksa Abu Jahl dengan pedang, api dan cambuk, akibatnya, Summayah tewas sedangkan Ammar selamat [Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, hal 279-280], tidak diceritakan nasib Yasir, apakah wafat karena siksaan atau tidak. Di banyak terjemahan dituliskan alasan mengapa Ammar bin Yasir selamat dari “bencana” tersebut, karena Ia melakukan taqiyyah [Berkeliat, bersiasat, tidak tulus menyatakan] dengan cara mencacimaki Nabi Muhammad SAW dan menolak Allahnya Nabi. ketika kemudian alasan tersebut Ia sampaikan pada nabi, maka turunlah surat An Nahl AQ 16:106 [turun di urutan ke 70].

    Ibn Sa’ad [murid/sekretaris dari Al Waqidi] juga menyampaikan Sumayyah tewas. Beberapa sejarahwan muslim lain kemudian mengutip Ibn Sa’ad, seperti misalnya:

    Al-Asqalani: Ibnu Sa`d telah melaporkan dengan sanad sahih bahwa Mujahid berkata: ‘Orang yang pertama sahid dalam Islam adalah Sumayyah, ibunya `Ammar bin Yasir. Dia adalah seorang perempuan tua dan lemah. Ketika Abu Jahal wafat di perang Badr, Muhammad SAW berkata pada Ammar bahwa “Allah telah membunuh pembunuh ibu kamu.”‘ [Al-Asqalani dalam al-Isabah]
    Al-Bayhaqi: “Abu Jahl menusuk kemaluannya” [Al-Dalaa’il, Vol.2, Hal.282
    Di Asbabalnuzul-nya Al-Waqidi 16:106: Yasir juga tewas. Tidak disampaikan siapa yang melakukannya hanya disebutkan kaum kafir. Ibn Sa’ad di ‘Maghazi-nya: Sumayyah wafat ditangan al-Mughira karena menolak meninggalkan Islam. Ia adalah Istri Yasir yang juga wafat sahid [At-Tabaqat al-Kubra Vol.8, Hal.193]
    Ibnu Athir: Sumayyah, JANDANYA YASIR, mati karena jantungnya ditusuk pedang oleh Bani Mughira Bin Abdallah bin Ummar Bin Makhzum [Ibnu Athir, Tarikh-i Kamil,Tarikh-i Kamil, vol.II, Hal.45]

Semua laporan di atas menyebutkan Sumayah wafat berstatus menikah [dengan Yasir] atau setidaknya wafat dalam status sebagai janda-nya Yasir. Namun dalam riwayat lain, Sumayyah tidak wafat
  1. Tabari: Sumayyah TIDAKLAH wafat, setelah menjanda dari Yasir, Ia diberikan kepada Al Azraq, seorang budak bangsa Bynzatium milik keluarga Al Harith Bin Kaladah Al-Taqafi. Azraq dan Sumayya mempunyai anak bernama SALAMAH BIN AL ASRAQ. Al Asraq menetap di Taif [“History of Tabari”, “vol.39“, hal. 29-30,117]. Tabari membantah bahwa Sumayyah wafat saat menjadi istri Yasir atau bahkan Sumayyah wafat jadi martir.

  2. Ibn Sa’ad: Ammar bin Yasir sekeluarga, dinyatakan berstatus sebagai budak. [“Yasir..married his slave-girl, Sumayyah bint Khayyat. Yasir and Sumayyah begot two sons, ‘Abdullah and ‘Ammar, who according to the custom of Arabia, were considered the slaves of Abu Hudhayfah” [Ibn Sa’d, “al-Tabaqatul Kabir“, vol, III:1, p.176]

  3. Ringkasan “The earliest biography of Muhammad, by ibn Ishaq“, MICHAEL EDWARDES, terekam adanya pendidikan yang diberikan kepada para budak mereka agar kembali patuh pada majikan dan berdisiplin, salah satunya agar mereka kembali ke agama mereka sebelumnya seperti pada kasus Bilal dan beberapa budak lainnya. Para budak ini dipukul, dibiarkan tidak makan dan kehausan hingga tidak kuat berdiri, menyerah dan menyatakan, “Al‑Lat da al‑Uzza adalah tuhan-tuhanmu sebagaimana juga Allah”. Bahkan yang terjauhpun yang mereka lakukan adalah ketika ada kumbang kotoran merangkak, mereka meminta untuk sepakat bahwa “Itu adalah tuhanmu”. Para budak tersebut segera menyetujuinya agar penderitaan mereka selesai. Itu saja! Ibn Ishaq tidak menyatakan adanya kematian sebagai akibat “pendidikan” yang diterapkan pada mereka.

    Tentu saja anda boleh-boleh saja jika mengatakan: “Woi, Ini Ringkasan, Bung!”

    Perlu diketahui,
    Para budak ini ikut agama dari orang yang gemar menghina agama, adat istiadat, nenekmoyang, memecah komunitas dan menghina tuhan para majikan mereka. Ini adalah bentuk KETIDAKPATUHAN dan EJEKAN kepada para majikan yang menyebabkan para budak itu diberi tindak disiplin agar mematuhi dan menghormati majikan mereka.

    Tindakan indisipliner pada budak yang melecehkan majikan pun dilakukan Umar bin Khattab, ketika belum menjadi Mualaf, yaitu pada budak wanita bani Muammal dari bani Adi bin Ka’ab (bernama Laniba/Lubina/Labiba), Ia dipecut terus menerus dan terhenti dari pemecutan hanya karena Umar kecapaian [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, bab 59, hal.278-279] juga pada satu budak wanitanya lagi yang bernama Zinnirah/Zanbara dari Roma (keduanya akhirnya dibeli Abu Bakar dari Umar).

    Tindakan keras Umar menegakkan martabat keluarga, agama, tuhan dan suku dilakukan bukan saja kepada para budak namun juga kepada suami (Sa’id bin Zaid bin Amr) adik perempuan Umar (fatima) sendiri yang telah ikut ajaran orang yang menghina adat istiadat, nenekmoyang, agama dan tuhan keluarga dan Suku mereka.[Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab 64, hal.304-306].

    Tindakan seperti ini tidak pernah dilakukan kaum Quraish kepada para pemeluk agama dan tuhan yang berbeda dengan mereka (contohnya pada Waraqah dan budak-budak mereka yang beragama lain, termasuk Nasrani), namun dilakukan hanya kepada mereka yang tidak mampu menghargai kedamaian beragama dan toleransi pada yang dianut masing-masing orang di komunitas.

    Bahkan di jaman kejayaan Islam [setelah Hijrah ke Medina dan seterusnya], pola dengan jalan kekerasan agar para budak DISIPLIN atau PATUH dan/atau MENGAKU juga tetap dipakai kaum muslim sendiri kepada budak-budak mereka [Tidak peduli kafir maupun bukan]. Sebagai sample, silakan baca Sirat Rasulallah, Hal.496, hadis Muslim 15.4089 (Abu Mas’ud), Abu Dawud 10.1814 (Abu Bakar), contoh:

      Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ia memukuli budaknya dan budaknya berkata, “Aku berlindung pada Allah”, namun tetap saja Ia dipukuli, hingga kemudian budak itu mengatakan, “aku berlindung pada Rasullullah”, Ia kemudian lepaskan. Kemudian Rasullullah SAW berkata: Demi Allah, Allah punya lebih banyak kekuasaan darimu daripada kamu terhadap budakmu. Ia berkata ia telah memerdekakan budaknya. Hadis ini juga dinarasikan Shu’ba dengan rantai perawi yang sama namun tidak disampaikan frase kalimat aku berlindung pada allah dan aku berlindung pada Rasullullah [Hadis Muslim 15.4089]

      Diriwayatkan Asma’ bint Abu Bakar:
      …Peralatan dan barang pribadi dari abu bakar dan rasullullah SAW ditempatkan di unta yang dibawa oleh budaknya abu bakar. Abu bakar sedang duduk dan menanti kedatangannya. Budaknya datang tanpa untanya. ketika ditanya, “Dimana untamu?”. Ia menjawab, “Aku kehilangannya tadi malam”. Abu Bakar menjawab, “Ini hanya 1 unta dan bahkan kamu telah hilangkan”. Ia kemudian memukulinya sementara Rasullullah SAW tersenyum dan berkata, lihat orang yang sedang berihram ini, apa yang dilakukannya?..[Abu Dawud 10.1814/no.1552, Ibn Majjah no.2924, Ahmad no.25679]


    Anda bisa lihat sendiri pendidikan keras dengan memukulipun tetap dilakukan dijaman Islam tidak peduli bahkan ketika telah mengatakan berlindung pada Allah sekalipun tetap saja dipukuli, bukan?

    Atau simak saat Ali bin Abu Thalib meminta pengakuan Barirah (budaknya Aisyah) ketika Aisyah tertuduh berhubungan serong dengan Safwan bin Al-Muathtal as Sulami, ketika Rasullullah SAW memanggil Barirah untuk bertanya kepadanya Ali bin Abu Thalib pergi kepada Barirah dan memukulnya dengan pukulan keras sambil berkata, ‘Berkatalah jujur kepada Rasulullah.’ [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Bab 166, hal.265-266].

    Demikianlah kebudayaan melakukan kekerasan terhadap budak-budak (Kafir/tidak) oleh majikan (kafir/tidak) di komunitas itu.

    Sehingga tindak disiplin adalah konsekuensi wajar yang diterima para budak yang telah mengikuti jalan orang yang telah melecehkan martabat majikan dan komunitas seperti yang dilakukan Bilal, keluarga Yasir (summayya, yasir dan amir, anaknya), Khabbab bin al Arat, Ummu Ubais, Zinnirah, Abu Fukaihah, Al-Nadyah, Amr bin Furairah dan Hamamah dan ini bukan karena mereka beragama yang berbeda (atau Islam) tapi karena telah melecehkan majikan.

    Mari kita teliti kasus Bilal Ibn Rabah al-Habashi,
    Ketika Bilal didisiplinkan majikannya [Umayah b. Khalaf], Bilal selalu selamat dan kemudian “dipertukarkan dengan budak lain” sebagai perjanjian antara majikannya dan Abu Bakar. Ia hidup hingga tua.

    Sementara tuannya, Umayah b. Khalaf, sewaktu di Perang Badr, bersama anaknya [Ali] menjadi tawanan kawannya sendiri yang baru saja masuk Islam [Abd Umar]. Kemudian mantan kawan lainnya [Abd-al-Rahman ibn Awf] mengambil alih tawanan Abd Umar. Kejadian ini dilihat Bilal dan segera berteriak memanggil kawan-kawannya, walaupun telah di cegah rekan2nya, Ia [dan juga mereka] tetap menghajar tanpa ampun ayah dan anak itu dengan pedang hingga tewas.

    Narasi Ibn Ishaq, semasa Bilal di Mekkah:

      Ibnu Ishaq berkata bahwa Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata,

      “Ketika Bilal sedang disiksa, dan mengatakan, ‘Ahad, Ahad.’ Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya. Waraqah bin Naufal berkata, ‘Demi Allah, Ahad, dan Ahad, wahai Bilal.’ Waraqah bin Naufal menemui Umaiyyah bin Khalaf dan orang-orang dari Bani Jumah yang menyiksa Bilal. Waraqah bin Naufal berkata kepada mereka, ‘Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuh Bilal dalam keadaan seperti ini, pasti aku akan menjadikan tempat kematiannya sebagai tempat mencari keberkahan.’ …

      Itulah yang terjadi, hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berjalan melewati mereka yang sedang menyiksa Bilal.

      Rumah Abu Bakar berada di Bani Jumah. Abu Bakar berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, ‘Kenapa engkau tidak takut kepada Allah dari orang miskin ini? Sampai kapan engkau menyiksanya?’

      Umaiyyah bin Khalaf berkata, ‘Engkaulah yang merusak orang ini. Oleh karena itu, selamatkan dia kalau engkau mau!’

      Abu Bakar berkata, ‘Ya, aku mempunyai budak hitam yang lebih kokoh daripada dia, dan lebih kuat memegang agamamu. Aku serahkan budak tersebut kepadamu.’ Umaiyyah bin Khalaf berkata, ‘Aku terima.’ Abu Bakar berkata, ‘Budak tersebut menjadi milikmu.’ Kemudian Abu Bakar memberikan budaknya kepada Umaiyyah bin Khalaf dan ia mengambil Bilal kemudian memerdekakannya.”[Ibn Ishaq hal. 277-278]


    Disiplin yang dilakukan jelas bukan karena Bilal adalah Muslim namun karena terindikasi Bilal-lah yang melalaikan pekerjaannya. Ini jelas merugikan majikannya secara ekonomi dan pertukaran budak membuat majikannya tidak mengalami kerugian lagi!

    Anda lihat nama Waraqah bin Naufal? Ia adalah salah satu orang yang dihormati kaum Quraish Mekkah. Kata-katanya lah yang MENGAKHIRI masa pendisiplinan Bilal!

    Setelah Muhammad menerima wahyu di gua Hira, Ia bersama Khadijah bertemu dengan Waraqa bin Naufal. Waraqa wafat beberapa hari kemudian dan wahyu terputus selama beberapa saat [Ibn Ishaq hal.204-206; Bukhari: 1.1.3 dan 9.87.111].

    Muslim pertama selain Khadijah adalah Ali bin Abu Talib, setelah itu adalah Zaid bin Haritsah [Ibn Ishaq hal.203, 209, 211]. Abu bakar merupakan muslim pertama di luar keluarga Muhammad [Ibn Ishaq hal.213]. Abu Bakar masuk Islam setelah turunnya surat Al Dhuhaa AQ 93:1-11, yaitu surat yang turun lagi setelah wahyu sempat terputus selama beberapa saat [Ibn Ishaq hal.204-206] yang artinya adalah:

    1. Waraqa SUDAH WAFAT sebelum surat Al Dhuhaa AQ 93:1-11 turun
    2. Abu Bakar belum menjadi muslim saat Waraqa hidup dan meminta Umaiyyah bin Khalaf menghentikan menyiksa Bilal!
    3. Bilal belum menjadi muslim, ketika Waraqa meminta Umaiyyah bin Khalaf menghentikan menyiksa Bilal, karena orang berikutnya yang masuk Islam bukanlah Bilal melainkan Abu Bakar!

    Walaupun Bilal pengikut monoteism, namun saat itu Bilal BUKANLAH MUSLIM!

    Sekarang kita lihat kejadian di Medinah. Bagaimana perlakuan Bilal, yang memang tidak mengetahui bahwa yang menyelamatkan dia saat itu bukanlah cuma Abu Bakar namun juga Waraqah bin Naufal dan majikannya sendiri KARENA MAU BERTUKAR BUDAK!

      Abdul Wahid bin Abu Aun berkata kepadaku dari Sa’id bin Ibrahim dari ayahnya dari Abdurrahman bin Auf yang berkata,

      “… Demi Allah, aku menuntun Umaiyyah bin Khalaf dan anaknya, Ali bin Umaiyyah. Tiba-tiba Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf bersamaku.

      Ketika Bilal melihat Umaiyyah bin Khalaf, ia berkata, ‘Ini dia gembong kekafiran, Umaiyyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia selamat.’
      Aku berkata kepada Bilal, ‘Hai Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?’
      Bilal berkata, ‘Aku tidak selamat jika dia selamat.
      Aku berkata kepada Bilal, ‘Apakah engkau tidak mendengar suaraku, hai anak Si Hitam?’
      Bilal berkata, ‘Aku tidak selamat jika dia selamat.’
      Bilal berteriak dengan suara terkerasnya, ‘Hai para penolong Allah, ini dia gembong kekafiran. Aku tidak selamat jika dia selamat’.”

      Abdurrahman bin Auf berkata, “Kemudian para sahabat mengepung kami, hingga mereka menjadikan kami seperti berada di lingkaran. Aku tetap berusaha melindungi Umaiyyah bin Khalaf. Seseorang mencabut pedangnya dari sarung pedangnya, dan pada saat yang bersamaan seseorang memukul anak Umaiyyah bin Khalaf hingga ia jatuh tersungkur.
      Melihat anaknya jatuh tersungkur, Umaiyyah bin Khalaf berteriak dengan teriakan yang tidak pernah aku dengar sebelumnya.

      Aku berkata kepada Umaiyyah bin Khalaf, ‘Selamatkan dirimu, karena tidak ada keselamatan bagimu. Demi Allah, sedikit pun aku tidak dapat melindungimu.’
      Para sahabat memotong-motong keduanya dengan pedang mereka [Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisham, Jilid.1 hal.608; Juga Tabari, vol.VII, Hal.57; Bukhari 3.38.498; juga: “Pedang Terhunus: Hukuman Mati bagi Pencaci Maki Nabi SAW”, Judul asli: Ash Sharimul maslul ‘ala Syatim Ar Rasul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-Rahimahullah-Taqrib: Dr Shaleh Ash Shahawi]


    Terlihat jelas yang saat itu kaum Muslim lakukan bukanlah tindak disiplin dan juga bukan dalam keadaan berperang, namun motif kebencian dan dendam semata.

  4. Di buku “THE BIOGRAPHY OF MAHOMET“, AND RISE OF ISLAM, Sir William Muir, Bengal Civil Service., [Smith, Elder, & Co., London, 1861], Ch.4. hal.126-127., footnote no.50. Muir menjelaskan bahwa kisah “martir-martiran” tersebut berawal dari Ibn Sa’d (Ibn Sa’d adalah Katib (sekretaris) dari Al-Waqidi) dan tidaklah benar terjadi:

    50 Yasir belonged to a tribe in Yemen of the Madhij or Cahlan stock. He with two brothers visited Mecca to seek out their maternal relatives. Instead of returning to Yemen he remained behind with his patran Abu Hodzeifa, who gave him in marriage his slave girl Sommeya. She bore to him Ammar (freed by Aub Hodzeifa) and Abdallah.

    “After Yasir” Sommeya married Azrack, a Greek slave, belonging to a man of Taif, and to him she bore Salma. It is not easy to explain this, for at the time referred to in the text (i.e. 614 or 615 A.D.) Yasir was alive, and is mentioned as having with his wife joined the cause of Mahomet and suffered severe persecution. The second marriage of Sommeya, and the birth of Salma, were consequently after this period. But Ammar, her son by Yasir, was at least one year (perhaps four) older than Mahomet; that is he was now at lent forty-six years of age. Consequently, his mother (who had moreover borne to Yasir a son, Horeith, older than Ammar, Katib al Wackidi p.227), must have been at this time sixty years old. Yet we are to believe that she married, and bore a son, after that age!

    The Secretary of Wackidi has a tradition that Sommeya suffered martyrdom at the hands of Abu Jahl:


    (after a day of persecution) when it was evening, Abu Jahl came and abused Sommeya, and used filthy language towards her, and stabbed (or reviled?) her, and killed her. And she was the first martyr in Islam, – excepting Bilal, who counted not his life dear unto him in the service of the Lord; so that they tied a rope about his neck and made the children run backwards and forwards, pulling him between the two hills of Mecca (Abu Cobeis and Ahmar, marg. gloss.); and Bilal kept saying, ONE, ONE! I only God!” Katib al Wackidi p.224.

    The story of this martyrdom is certainly apocryphal.

    1. I. This is the only place we find it mentioned in the early biographers; whereas had it really occurred, it would have been trumpeted forth by every collector and biographer in innumerable traditions and versions. There is certainly no danger of the perils and losses of the early Moslems being under-estimated or lost sight of by tradition.

    2. II. The tendency to exaggerate persecution would readily lead the descendants of the family to attribute Sommeya’s death (which we may conclude happened before the Hegira) to Abu Jahl’s ill treatment, with which it had probably little or nothing to do. See Introduction, p. lx, Canon II.a. The double signification of the word (abuse and stabbing) may have formed a starting point for the story. The manner in which it was subsequently expanded and embellished will be seen by a reference to Sale’s note on Sura xvi. p.106.

    3. III. The desire to heap contumely on Abu Jahl would lead to the same result. Introduction, p. lviii., Canon I. G.

    4. IV. Bilal, in the above extract, is also noticed as the first martyr, though he long survived these persecutions, and died a natural death. This certainly is in favour of a metaphorical and not an exact and literal interpretation of the passage.

    5. V. The chronological difficulty, above stated, still remains. Repeated traditions speak of Yasir, Sommeya, and Ammar (Father, Mother and Son), being all tormented together, and in that predicament seen by Mahomet as he passed by, Katib al Wackidi, p. 227 1/2; and the manner in which this is mentioned clearly implies that Sommeya was at the time the wife of Yasir. Yet “after Yasir” (apparently after his death) she married Azrack.

    How then are we to understand that she died under persecution? It may be suggested
    1. (1), that her marriage with Arrack was a previous interlude in her married life with Yasir, to whom she again returned as wife; but this is unlikely and is not the natural meaning of the expressions used ; – or

    2. (2), that her marriage to Azrack and her martyrdom may have occurred at a later period. But this, too, is out of the question; for she bore Arrack a son, and must have survived the period of hot persecution.

    On the whole the evidence for the martyrdom is totally insufficient. Arrack belonged to Taif, and wan one of the slaves who at the siege of that city (some fifteen years later), fled over to Mahomet’s camp. It is natural to conclude that Sommeya, after Yasir’s death, married Arrack, and lived at Taif.

    Some accounts represent Ammar as one of the emigrants to Abyssinia, but others state this to be doubtful. He was killed in the battle of Siffin, A.H. 37, aged ninety-one or ninety-four. He was at one period appointed, by Omar, Governor of Cufa

So, bagaimana mungkin seorang yang telah dinyatakan terbunuh secara brutal dan kejam, namun ternyata di kemudian hari menikah lagi?

Kenapa turunnya An Najm 53:19, menjadi berita yang sangat menggembirakan bagi kaum kafir dan kaum muslim?

Sekelumit di atas, kita ketahui bahwa hijrahnya mereka ke Habasyah/Abyissina adalah karena ulah mereka sendiri, yang setelah menjadi mualaf malah mencercai adat istiadat dan tuhan suku mereka, yang membuat kaum Quraish menjadi memusuhi mereka. Upaya mendapatkan penghidupan lebih baik ke Habasyah terjadi SETELAH DIPERINTAHkan Nabi mereka:

    ‘Ali b. Nasr b. ‘Ali al-Jahdami and ‘Abd al-Warith b. ‘Abd al-Samad b. ‘Abd al-Warith—‘Abd al-Samad b. ‘Abd al-Warith—Aban al-‘Attar—Hisham b. ‘Urwah—‘Urwah: Ia menulis kepada ‘Abd al-Malik sebagai berikut, merujuk pada Nabi: Ketika Ia mengajak orang-orang mengikuti petunjuk sebagaimana yang diturunkan padanya, sejak dari awal Ia berkotbah, KAUM QURAISH TIDAKLAH MENARIK DIRI DARINYA dan berada pada posisi mendengarkannya. NAMUN KETIKA IA MENYINGGUNG TUHAN-TUHAN MEREKA, beberapa hartawan Quraish yang berasal dari Al-Ta’if, bertindak keras menentangnya, tidak menyukai apa yang disampaikannya. Mereka mengajak orang-orang menentangnya dan banyak orang memalingkan diri dan mengabaikannya, kecuali mereka yang “tuhan” lindungi dan jumlahnya sedikit.

    Keadaan berlangsung selama yang “Allah” kehendaki dan para pemimpin mereka kemudian bersatu bersama untuk membujuk pengikut allah yang merupakan anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, budak-budak mereka yang mengikutinya. Beberapa upaya sangat mengagetkan kaum muslim yang telah mengikut Nabi. Beberapa dapat di bujuk, namun Allah melindungi dari kesalahan orang-orang yang ingin ia lindungi. Ketika kaum muslim diperlakukan seperti ini, NABI MEMERINTAHKAN MEREKA UNTUK HIJRAH KE Habasyah/Abyssinia..Ketika Nabi memerintahkan melakukan ini, mereka pergi ke Habasyah/Abyssinia karena keadaan yang memaksa di Mekkah. ketakutan karena akan terbujuk murtad dari agamanya. Nabi tetap tinggal di Mekkah. [“The History of al-Tabari“, Vol. 6, hal. 98-99].

    Tabari: Terdapat beda JUMLAH yang beremigrasi ke Habasyah/Abyssinia: 11 pria dan 4 wanita (Ibid, hal.111) VS 82 Pria (Ibid, hal.100-101].

    Riwayat Al-Harith — Ibn Sa’d — Muhammad b.‘Umar — Yunus b. Muhammad al-Zafari — ayahnya, Pria dari sukunya, Juga ‘Ubaydallah b. ‘Abbas al-Hudhali — Al-Harith b. Al-Fudayl: Mereka yang pergi pada emigrasi pertama melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan rahasia, dan berjumlah 11 pria dan empat wanita…Terjadi di BULAN RAJAB DI TAHUN KE-5 kenabian Muhammad SAW [Ibid, Hal.99]

    Riwayat Ibn Humayd — Salamah — Muhammad b.Ishaq: Nabi melihat penderitaan yang melanda mereka, meskipun Ia sendiri terlindungi belas kasih Allah dan Pamannya Abu Talib, namun Ia tidak mampu melindungi pengikutnya atas derita yang mereka alami. Untuk itu, IA BERKATA KEPADA MEREKA, “KENAPA KALIAN TIDAK PERGI KE Habasyah/Abyssinia?..” ITULAH SEBABNYA PENGIKUT NABI PERGI KE Habasyah/Abyssinia TAKUT MEREKA TERGOdA MENINGGALKAN ALLAH DAN AGAMANYA. INILAH EMIGRASI PERTAMA DI ISLAM [Ibid, hal.100]

    Tabari: Ibn Ishaq kemudian memperhitungkan bahwa semuanya ada 82 orang, termasuk 10 yang saya sebutkan namanya, beberapa berkeluarga dan anak, beberapa punya anak lahir di Habasyah, dan beberapa tidak berkeluarga [Ibid hal.101]

Dalam penyampaian lain, kita akan temukan pemicu Hijrah pertama ke Abyssinia itu bukan penyiksaan fisik, namun akibat sangsi adat, sosial ekonomi yang berkepanjangan:
    “Kaum Quraish berkumpul bersama untuk berunding dan memutuskan untuk mendraft dokumen yang mana mereka menyatakan untuk tidak mengawini wanita dari/memberikan wanita untuk dikawini kepada bani Hasim dan bani Muttalib dan tidak menjual kepada/atau membeli dari bani Hasim dan bani Muttalib. Mereka menuliskan maklumat itu dan mengawasinya dengan seksama. Mereka menggantungkan dokument itu di interior Ka’bah yang mengikat diantara mereka.

    Ketika suku-suku Quraish lainnya melakukan ini, Bani Hasim dan bani Muttalib bergabung bersama Abu talib menujulembah Abu talib. Muhammad SAW lahir di sini, tempat keturunan Hasyim, dulunya bernama Abdulmuttalib [Ahmet Cevdet Pa‏a, Peygamber Efendimiz (s.a.s.), ed. M. Ertuًrul Düzdaً, Istanbul 2002, Hal.52] dan mereka berkumpul di sana; Namun ‘Abu Lahab ‘Abd al Uzza b. ‘Abd al-Muttalib meninggalkan Bani Hasim dan bersama dengan kaum Quraish lainnya mendukung boycot terhadap ‘Abu Talib. Kejadian ini berlangsung sekitar 2-3 tahun dan membuat 2 suku ini kekurangan perbekalan, karena tidak ada yang menghampiri mereka kecuali yang dikirim secara diam-diam oleh kaum quraish yang hendak memelihara hubungan dengan mereka [Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hasyim, jilid 1, bab.65, hal.311-314; “The History of al-Tabari” vol.6. hal.105-106. “Kitab Al-Tabaqat Al-Kabir”, Ibn Sa’d, vol.1. part 1.53.1].

    Mengisolasi kawasan yang menjadi tempat tinggal baru kaum bani Hasyim. Mereka dilarang mengirimkan berbagai makanan ke lokasi kaum bani Hasyim tinggal [Ibn Sayyid al-Nas, Vol.I, Hal.126]. Kaum muslim dilarang keluar dari kawasan KECUALI ketika ber-haji/Ziarah, di saat itu barulah mereka juga mendapatkan makanan [Ibn al Athir, Vol.II, hal.88; Said Havva, vol.I, Hal.343]. Mereka mengenakah harga dan bunga tinggi jika ada kaum muslim berniat membeli, Walid b. Mugira berkata pada para penjual bahwa “ketika engkau melihat muslim manapun yang membeli makanan apapun, naikan harganya, jika mereka tidak punya uang, beri mereka pinjaman dan kenakan bunga setinggi mungkin.[Manuskrip Yunus ibn Bukayr yang mendengarkan kuliahnya Ibn Ishaq, “New Light on the Life of Muhammad”, Alfred Guillaume, hal.35, TIDAK ADA di sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hasyim].

    [Note: kaum Hasyim dan Muttalib yang dikucilkan TIDAK SEMUANYA MUSLIM. Baik Tabari, Ibn Sa’d dan Ibn Hisyam, tidak menyatakan ada larangan keluar kawasan/bepergian (karena Muhammad diperiode ini, siang malam berdakwa secara rahasia dan terbuka, tidak ada larangan menggembalakan ternak atau berdagang dengan dengan suku lainnya, tampaknya tidak benar terjadi kekurangan perbekalan. Tidak juga ada pengisolasian kawasan dan larangan memberikan makanan, kecuali kasus perseorangan saat Abu Jahal melarang Hakim membawa makanan ke bibinya/Khadijah dan pencegahan Abu Jahal ditentang Abu Al-Bakhtari].

    Ketika keadaan semakin tak tertahankan, Nabi mengijinkan para muslim untuk beremigrasi ke Abyssinia/Habasyah [Ibn Sayyid al-Nas, Vol.I, Hal.126], Hari-hari yang sangat berat bagi mereka dan seringkali mereka terpaksa memakan dedaunan TALH atau pisang raja [Siratun Nabi, Shibli Numani. Vol.1, Hal.218, English trans. M. Tayyib Bakhsh Budayuni]

Berapa lama sangsi adat, sosial dan ekonomi ini berlangsung?
Peran paling besar pencabutan sangsi ini justru dilakukan bukan oleh Allah atau Nabi atau Umar atau Abu bakar atau Usman atau Paman nabi atau para muslim lainnya, Peran itu justru dilakukan oleh para orang kafir yang dimotori oleh Hisyam bin Amr! Ia adalah orang yang sama yang datang di tengah malam membawa unta yang dimuati makanan atau gandum dan sesampainya di celah gunung, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat kaum Muslimin.

Karena rasa kasihan bahwa yang diberikan sangsi adalah kerabat mereka juga, maka ia kemudian menemui Zuhair bin Abi Umayyah (Bani Makhzum). Ibu Zuhair adalah Atika binti Abdul Muthalib (Bani Hasyim)

“Zuhair,” kata Hisyam, “Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan wanita-wanita. Padahal seperti kau ketahui, keluarga ibumu tidak boleh berhubungan dengan orang lain, tidak boleh berjual-beli, tidak boleh saling mengawinkan. Aku bersumpah, bahwa kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibu—keluarga Abul Hakam bin Hisyam [ABU Jahl)—lalu aku diajak seperti mengajak kau, tentu akan kutolak.”

Keduanya kemudian sepakat akan sama-sama membatalkan piagam itu dan mengajak Mut’im bin Adi (Naufal), Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan Zam’ah bin Al-Aswad (keduanya Bani Asad). Mereka berlima lalu bertemu di Al-Hacun di dataran tinggi mekkah pada tengah malam disana mereka mendiskusikan strategi dan mengorganisir untuk menghancurkan piagam kesepakatan tersebut.

Setelah tujuh kali mengelilingi Ka’bah di keesokan paginya, si kafir Zuhair bin Umayyah berseru kepada orang banyak, “Hai penduduk Makkah! Kamu sekalian enak-enak makan dan berpakaian padahal Bani Hasyim binasa tidak dapat mengadakan hubungan dagang. Demi Allah, aku tidak akan duduk sebelum piagam yang kejam ini dirobek!”

Abu Jahal, begitu mendengar ucapan itu, berkata bahwa Piagam itu tidak boleh di robek. Saat itulah mereka melancarkan strategi lanjutan mereka. Zama’ah mengatakan Abu Jahal bohong dan mengatakan kita tidak menerima keputusan Abu jahal (pemimpin mereka) ketika di tuliskan. Abu Al Batari menambahkan Jam’ah benar mereka tidak sepakat dan tidak tau isi detail, Mut’im b adiy berkata kalian berdua benar dan abu Jahl bohong. Hisham b Amar juga mendukung mereka.

Abu Jahl berkata tindak tanduk mereka ini telah diorganisasikan sebelumnya dan merencanakan kejadian ini. Selama berlangsungnya pembicaraan, Mut’im b. ‘Adiy mendekati piagam itu dan merobeknya (Ibn Ishaq, menulis, (ﺛﻢ ان اﻟﻤﻄﻌﻢ ﺑﻦ ﻋﺪى ﻗﺎم اﻟﻰ اﻟﺼﺤﻴﻔﺔ ﻓﺸﻘﻬﺎ‬) (Mut’im b. ‘Adiy mendekati piagam itu dan merobeknya) dan “‫ “ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺰﻗﺖ‬ (ketika dirobek) [Ibn Ishaq, 147; Ibn Hisham, I. 253; Tabari, II 228] dan melihat keseluruhan piagam dimakan binatang kecil kecuali bagian “bismikallahumma”. Piagam itu dituliskan Mansur b. Ikrime b. Amir [Ibn Ishaq hal.147; Ibn Hisham vol.I, hal.253; Tabari vol.II, hal.228].

Demikianlah Akhirnya Sangsi sosial itu berakhir. Setelah itu dilanjutkan dengan kamatian Khadijah dan Abu Talib. Surat 28:56, turun di urutan ke-49 adalah berkenaan dengan wafatnya Abu Talib. Mereka berdua wafat di tahun ke-10 masa kenabian Muhammad SAW [Tareekh Al-Islam 1/120, Talqeeh Fuhoom Ahl-al-Athar p.7; Rahmat-ul-lil’alameen 2/164] dan 3 tahun sebelum Hijrah ke Medinah [Bukhari 5.58.236].

Tentang waktu wafatnya Khadijah dan Abu Talib, pernikahan Muhammad dengan Aisyah dan Saudah,
Tabari: Setelah Khadijah meninggal, Rasulullah SAW menikah, tentang siapa yang duluan dinikahi setelah Khadijah. ada perbedaan pendapat, beberapa menyatakan A’ishah, lainnya menyatakan Saudah [“History of Tabari”, Vol.9, hal.128]

  1. Khadijah meninggal tiga tahun sebelum Aisha menikah dengan Muhammad. [Muslim 4.29.5971-5972 hal.1297, Bukhari 5.58.164,165 hal.103]
  2. Riwayat Ibn Sa`d – Muhammad Ibn `Umar al-Aslami: Abu Thalib wafat sekitar pertengahan Syawal di tahun ke-10 dari saat menjadi Rasul Allah.. dan dia berusia lebih dari 80 tahun. 1 bulan lima hari setelah kematiannya, Khadijah, yang berusia 65 tahun, wafat..’. [Al-Tabaqat Al-Kabir, Ibn Sa’d, Vol.1, Bagian 1.30.18]
  3. Riwayat Ibn `Umar [al-Wagidi] – al-Mundhir b.`Abdallah al-Hizam – Musa b.`Ugbah – Abu Habibah: Khadijah bt. Khuwaylid wafat pada bulan Ramadhan tahun ke-10 setelah kenabian, pada usia 65 tahun. [“History of Tabari”, Vol. 39, hal.161]. Riwayat Ibn `Umar [al-Wagidi] – Muhammad b.`Abdallah b. Muslim – ayahnya: Nabi menikahi Saudah di bulan Ramadhan, pada tahun ke-10 setelah kenabiannya. Ini terjadi setelah kematian Khadijah dan sebelum pernikahannya dengan Aisyah. [“History of Tabari”, Vol.39, hal.170]. Tabari: `Nabi menikahi` Aisyah di Syawal pada tahun ke-10 setelah kenabiannya, 3 tahun sebelum Emigrasi (ke Medinah). Nabi melakukan seksual perkawinan dengannya (consummated the marriage) di bulan Syawal, 8 bulan setelah Emigrasi (ke Medinah). Pada saat itu, Aisyah berusia sembilan tahun [“History of Tabari”, Vol.39, hal.170]
Untuk Perkawinan Nabi dengan Saudah dan Aisyah:
Tabari: Sebelumnya, Saudah telah menikah dengan Al-Sakran ibn ‘Amr Al-‘Amiriy, Kristen, tinggal dan meninggal di Abyssinia dan wafat disana. [Tabari vol.9 hal.128, namun di catatan kaki no.878 (hal 128): Ibn Ishaq dalam kitab al-mutabda menyatakan Pasangan ini pulang ke Mekkah, Al sakran meninggal di Mekkah. Saudah dan Muhammad menikah di bulan Ramadhan, tahun ke-10 kenabian. Pada periode belakangan pasca migrasi ke Medina, Saudah diceraikan Muhammad namun kemudian dikawini lagi [Ibn Ishaq, Kitab Al-Mubtada’,238. Ibn Sa’d, Tabaqat, vol.8, 35-39]. Masa menjanda Saudah dari Al-Sakran, tidak lama:
    Riwayat Hisham b. Muhammad [al-Kalbi] – Ayahnya Abu Salih [Badham] – [`Abdallah] Ibn` Abbas: Sawdah bt. Zam`ah menikah dengan al-Sakran b. `Amr, saudara laki-laki Suhayl b. `Amr. [Suatu kali]….Sejak hari itu al-Sakran mengalami derita beberapa keluhan; tidak lama kemudian Ia meninggal dan Nabi menikahi Sawdah [“History of Tabari”, Vol.39, hal.170]
Perkawinan Muhammad – Saudah terjadi hanya beberapa hari setelah wafatnya Khadijah:
    Riwayat Ibn `Umar [al-Wagidi] – al-Mundhir b.`Abdallah al-Hizam – Musa b.`Ugbah – Abu Habibah: Khadijah bt. Khuwaylid meninggal pada bulan Ramadhan tahun 10 setelah kenabian, pada usia 65 tahun. [“History of Tabari”, Vol. 39, hal.161]. Riwayat Ibn `Umar [al-Wagidi] – Muhammad b.`Abdallah b. Muslim – ayahnya: Nabi menikahi Saudah di bulan Ramadhan, pada tahun ke-10.. [“History of Tabari”, Vol.39, hal.170]
Saudah adalah Janda kaya:
    Riwayat al-Harith-Da’ud b. al-Muhabbar – `Abd al Hamid b. Bahram-Syahr – [`Abdallah] Ibn` Abbas: Nabi meminta untuk dinikahkan dengan seorang wanita sukunya yang bernama Sawdah. Dia [sudah] memiliki lima atau enam anak kecil dari [mantan] suaminya, yang sudah meninggal saat itu…Nabi bersabda kepadanya, “Wanita terbaik yang pernah menunggangi unta adalah wanita berbudi luhur dari suku Quraisy, yang paling menyayangi anak kecil dan paling baik dalam berbuat baik kepada suami mereka saat mereka kaya [“History of Tabari”, Vol.39, hal.171]
Usia Saudah ketika dinikahi Nabi:
    Beliau wafat tahun 54 H/674 M [..] [Abbas Jamal, hal.18] Saudah masih hidup hingga jaman Muawiyah 1 (memerintah mulai tahun 661 – 29 April/01 May 680). Muawiyah membeli rumah saudah seharga 180.000 dirham. Saudah wafat dipemerintahan muawiyah 1 pada bulan shawwal 54H/Oktober 674 M (The Encylopedia of Islam (new edition), Vol.9, tahun 1995, hal.90. History of Tabari vo.39, hal.171). Hindun/Ummu Salamah dinyatakan sebagai Istri nabi dengan usia terpanjang (84 tahun/w. 59 H) dan mereka yang wafat di jaman Muawiyah 1 sekurangnya ada 5 (Safiyah, Saudah, Maimunah, Umm Salamah dan Aisyah)
Jika dianggap usia wafat saudah = usia wafatnya Hindun (84 tahun), maka usia Saudah saat dinikahi: 84 – (674 – 620) = 30 tahun, namun Jika Saudah wafat di usia 70 tahun (artinya ke-2 terpanjang usianya), maka usia Saudah saat dinikahi: 70-54 = 16 tahun, Jadi, usia Saudah saat dinikahi Muhammad tidak lebih dari umur 29 tahun

Usia Aisyah saat menikah,
Hadis-hadis di bawah ini, semuanya menggunakan kata “zawaj”, artinya menikah. Kata zawaj bersinonim dengan nikah (artinya bersetubuh), contoh penggunaan di Quran:

    muttaki-iina ‘alaa sururin mashfuufatin wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin
    mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. [AQ 52.20 dan juga AQ 44.54]

    ..falammaaqadaa zaydun minhaa watharan zawwajnaakahaa..
    ..Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap (istri)nya, Kami kawinkan kamu dengannya ..[AQ 33.37]

Hadis-hadis tentang Aisyah menikah umur 6/7 dan tinggal bersama Muhammad di usia 9 Tahun:
    Bukhari:
    Riwayat Farwah bin Abu Al Maghra – ‘Ali bin Mushir – Hisyam bin Urwah – bapaknya – ‘Aisyah: Nabi SAW menikahiku [tazawwajani/”تَزَوَّجَنِي”] saat aku berusia 6 tahun..Ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu rumah..lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukkan aku [dakhalatni/”دْخَلَتْنِي”] ke dalam rumah itu [albayt/”الْبَيْتِ”] yang ternyata didalamnya ada para wanita Anshar..Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau dimana saat itu usiaku 9 tahun”.[Bukhari 5.58.234/no.3605]
    Riwayat ‘Ubaid bin Isma’il – Abu Usamah – Hisyam bin Urwah – bapaknya: “Khadijah wafat sebelum hijrah Nabi SAW ke Madinah selang 3 tahun. Lalu beliau tinggal di Madinah 2 tahun atau sekitar masa itu kemudian beliau menikahi ‘Aisyah ketika dia berusia 6 tahun. Kemudian tinggal bersamanya [bana biha/”بَنَى بِهَا”] ketika dia berusia 9 tahun”. [Bukhari no.3607]
    Riwayat Muhammad bin Yusuf – Sufyan – Hisyam bin Urwah – bapaknya – Aisyah: Nabi menikahinya [tazawwajaha/”تَزَوَّجَهَا”] ketika ia berusia 6 tahun dan tinggal bersamanya [wa udkhilat alayh/”وَأُدْخِلَتْ عَلَيْهِ”] ketika dia berusia 9 tahun, dan bersamanya [“وَمَكَثَتْ عِنْدَهُ”/wamakathat indaha] 9 tahun (yaitu sampai kematian nya (Nabi) [Bukkhari 6.62.64/4738]
    Riwayat Mu’alla bin Asad – Wuhaib – Hisyam bin Urwah – bapaknya – Aisyah: Nabi menikahinya [tazawajaha/”تَزَوَّجَهَا “] saat ia 6 tahun dan tinggal bersamanya [wabana biha/”وَبَنَى بِهَا”] saat ia 9 tahun. Hisham mengatakan: Saya diberitahu bahwa ‘Aisha bersamanya 9 tahun’ [Bukkhari 6.62.65/4739]
    Riwayat Qabishah bin Utbah – Sufyan – Hisyam bin Urwah – Urwah: Nabi menikahi [tazawwaj] ‘Aisha saat ia 6 tahun dan tinggal bersamanya [wabana biha] saat ia 9 tahun dan bersamanya 9 tahun (hingga nabi wafat) [Bukkhari 6.62.88/4761]

    Muslim:
    Riwayat (Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Ala`- Abu Usamah dan Abu Bakar bin Abi Syaibah – Abu Usamah) – Hisyam – ayahnya – ‘Aisyah: Rasullulah menikahiku ketika aku berumur 6 tahun dan ke rumahnya di usia 9….[Muslim 8.3309/2547]
    Riwayat (Yahya bin Yahya – Abu Mu’awiyah – Hisyam bin ‘Urwah dan Ibnu Numair – ‘Abdah (Ibnu Sulaiman) – Hisyam – ayahnya – ‘Aisyah): Rasulullah saw menikahi saya (tazawwajani alnnabi SAW) dan saya berusia 6 tahun (wa’ana bint sitt sinin) dan membangun bersama saya (wabanaa bi) dan saya berusia 9 tahun (wa’ana bint tise sinin)’. [Muslim 8.3310/2548]
    Riwayat Abd bin Humaid – Abdur Razzaq – Ma’mar – Az Zuhri – ‘Urwah – ‘Aisyah: Nabi SAW menikahinya, ketika dia berusia 7 tahun, dan dia diantar ke kamar beliau ketika berusia 9 tahun, dan ketika itu dia sedang membawa bonekanya, sedangkan beliau wafat darinya ketika dia berusia 18 tahun.[Muslim 8.3311/2549]
    Riwayat [Yahya bin Yahya, Ishaq bin Ibrahim (ke-2nya mengatakan: telah mengabarkan pada kami) dan Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Kuraib (ke-2nya mengatakan: telah menceritakan pada kami)] – Abu Mu’awiyah – Al A’masy – Ibrahim – Al Aswad – ‘Aisyah: Rasul menikahinya pada saat Aisha berumur 6 tahun dan tinggal bersamanya pada saat Aisha berumur 8 tahun dan meninggal pada saat Aisha berumur 18 tahun [Muslim 8.3311/2550, walaupun nomor sama namun ini dari jalur perawi yang berbeda]

    Abu Dawud:
    Riwayat Sulaiman bin Harb, Abu Kamil – Hammad bin Zaid – Hisyam bin ‘Urwah – ayahnya – Aisyah: Rasullulah mengawiniku [tazawwajani] saat usiaku 7 tahun” (Periwayat Sulaiman berkata: ‘atau 6 tahun’). dan bersama saya [wadakhal bi/”وَدَخَلَ بِي”] saat aku berusia 9 tahun’[Abu Dawud 11.2116/1811, Disahihkan Albani]
    Riwayat (Musa bin Isma’il – Hammad bin Salamah) dan (Bisyr bin Khalid – Abu Usamah) – Hisyam bin Urwah – Bapaknya – ‘Aisyah: Rasullullah mengawiniku [tazawwajani] ketika aku 7 atau 6 tahun. Ketika kami tiba di Madinah, maka datanglah beberapa kaum wanita, Bisyr menyebutkan, “lalu Ummu Rumman menghampiriku saat aku ada di ayunan. Mereka kemudian membawaku, lalu merias dan mengurusku. Setelah itu aku dibawa ke hadapan Rasulullah saw, kemudian membangun bersama ku [fabanaa bi] saat aku berumur 9 tahun. Ummu Rumman berdiri bersamaku di depan pintu, hingga aku pun berkata, ‘Hah.. hah..’. -Abu Dawud berkata, “Yaitu bernafas’- aku lalu dimasukkan ke dalam rumah, dan ternyata di dalam telah banyak para wanita Anshar. Mereka berkata, “Semoga membawa kebaikan dan keberkahan.” (Lafadz) Hadits keduanya: [Musa bin Isma’il dan Bisyr bin Khalid- kadang ada yang sama.”] – Ibrahim bin Sa’id – Abu Usamah seperti hadits tersebut. Ia berkata, “Semoga membawa kebaikan.” Ummu Rumman kemudian menyerahkan aku kepada wanita-wanita itu, mereka lalu mengkramasi kepalaku dan meriasku. Dan tidak ada yang membuatku kaget kecuali saat Rasulullah SAW datang di waktu dhuha, mereka kemudian menyerahkan aku kepada beliau.” [Abu Dawud 42.4915/4285 dan no. 4286. Hadis Abu Dawud 42.4915 dan Abu Dawud 42.4917, Ketiga Hadis disahihkan Albani]

    Ibn Majjah:
    Riwayat Suwaid bin Sa’id – Ali bin Mushir – Hisyam bin Urwah – Bapaknya – ‘Aisyah: Rasulullah SAW menikahiku di saat umurku 6 tahun..Ibuku lantas menyerahkan aku kepada beliau, sementara umurku waktu itu masih 9 tahun.” [Ibn Majjah no.1866]
    Riwayat Ahmad bin Sinan – Abu Ahmad – Isra`il – Abu Ishaq – Abu ‘Ubaidah – Abdullah: Nabi mengawini/tuzawij Aisah ketika ia berusia 7 tahun dan membangun rumah tangga [wabanaa biha] ketika Ia berusia 9 tahun, dan Nabi wafat ketika Ia berusia 18 tahun [Ibn Majah 9.1877. Ibn Majah ada juga meriwayatkan dari Jalur Hisham dan juga sahih yaitu di 9.1876]

    Nasai:
    Riwayat Ishaq bin Ibrahim – Abu Mu’awiyah – Hisyam bin ‘Urwah – ayahnya – Aisyah: Rasulullah SAW menikahinya [tazawwajaha] sedang ia berumur 6 tahun dan membangun rumah tangga dengannya [banaa biha] sedang ia berumur 9 tahun [Nasai no.3203]
    Riwayat Ahmad bin Sa’d bin Al Hakam bin Abu Maryam – pamanku (Sa’id bin Abi Maryam Al Hakam bin Muhammad bin Salim) – Yahya bin Ayyub – ‘Ammarah bin Ghaziyyah – Muhammad bin Ibrahim – Abu Salamah bin Abdur Rahman – Aisyah: Rasulullah SAW menikahiku sedang saya adalah anak yang berumur 6 tahun, dan beliau berumahtangga denganku saat umurnya 9 tahun. [Nasai no.5122]
    Riwayat Qutaibah – A’bthar – Mutarrif – Abu Ishaaq – Abu U’baidah – Aisha: Rasul menikahiku di umur 9 tahun dan aku tinggal bersamanya selama 9 tahun [Sunan Nasai 4.26.3259, disahihkan oleh Albani]

    Ahmad:
    Riwayat Sulaiman bin Daud – ‘Abdurrahman – Hisyam bin ‘Urwah – ayahnya – Aisyah: “Rasulullah SAW menikahiku (tazawwajani rasul alllah SAW) dan saya berumur 6 tahun di Mekah setelah wafatnya Khadijah (wa’ana abnat sitt sinin bimakka mutawaffa khadijat) wadakhal bi (dan masuk bersamaku) dan saya berumur 9 tahun di Madinah (wa’ana abnat tise sinin bialmadina).” [Ahmad no.23722]
    Riwayat Muhammad bin Basyar – Muhammad bin Amru – Abu Salamah dan Yahya: ..Kemudian Abu Bakar berkata kepada Khaulah; ‘Panggilkan Rasulullah kepadaku.’ Lalu ia memanggilnya dan menikahkan Aisyah dengan beliau. Tatkala itu, Aisyah masih berumur 6 tahun.. Kemudian Khaulah binti Hakim pergi menemui Saudah binti Zam’ah..Dia (Ayah saudah) berkata; ‘Panggilkan beliau untukku.’ Lalu Rasulullah SAW datang kepadanya dan ia menikahkan Saudah dengannya..Aisyah berkata; “Lalu kami datang ke Madinah..Rasulullah SAW datang dan memasuki rumah kami [fadakhal baytana]..Rasulullah SAW telah duduk di atas ranjang di rumah kami,..Lalu ibuku mendudukkanku di pangkuannya..Lalu para lelaki dan wanita segera beranjak pergi wabunaa bi rasul allah SAW fi baytina (dan membangun bersamaku Rasulullah SAW di rumah kami)…aku ketika itu masih berumur 9 tahun.” [Ahmad no.24857]
    Riwayat Abu Muawiyah – Al-A’masy – Ibrahim – Al-Aswad – Aisyah: “Rasulullah SAW menikahinya/tazawwajaha ketika dia berumur 9 tahun, dan beliau meninggal ketika ia berumur 18 tahun.” [Ahmad no. 23023, juga di no.23023, semuanya bukan dari jalur perawi Hisyam.]

    Tabari [vol.7, hal.7-8; vol.39, hal 171-173]:
    Aisyah dinikahi 3 tahun SEBELUM hijrah, setelah wafatnya Khadijjah, diusia 6/7 tahun dan digauli di bulan Syawal, 7 atau 8 bulan SETELAH hijrah ke Medinah, diusia 9 tahun [Tabari vol.7, hal.7; Tabari vol.39, hal.171-172]. Aisyah wafat di bulan Ramadhan Jun-Jul 678 M/58 H, diusia 66 tahun [Tabari vol.39, hal.173].

    Riwayat Abd Al Hamid bin Bayan Al Sukkari – Muhammad bin Yazid – Ismail (Ibn Abi Khalid) – Abd Al rachman bin Abi al Dahhak-Seorang dari Quraish – Abd Al Rachman bin Muhammad – Abd Allah bin Safwan – Aisyah: Rasullullah mengawiniku di usia 7 tahun, Pernikahanku dilaksanakan saat aku berusia 9 tahun

    Pengarang Sejarah Kehidupan Muhammad:
    [..]Rasulullah … menikah dengan Aisyah ….. Ketika itu Aisyah berumur enam tahun. Kemudian pada bulan Syawal tahun pertama hijrah, beliau mulai menggaulinya, di Madinah. Ketika itu Aisyah berumur sembilan tahun. [Mubarakfury, halaman 185]
    Umur Aisyah waktu itu baru menginjak 7 tahun … tetapi beliau baru serumah dengan Aisyah sebagai suami istri setelah terjadinya hijrah ke Madinah kurang lebih tiga tahun kemudiannya. Bagi Aisyah puteri Abu Bakar yang masih lugu[..] [Abbas Jamal, halaman 21]

Tentang Peristiwa Isra’a Mira’j,
Isra’ wal Mi’raj adalah dua peristiwa, namun secara tradisi kalangan Islam, dianggap terjadi dalam satu rangkaian perjalanan Muhamad SAW dari Masjidil Haram ke Masdil Aqsa (Bayt Al-Maqdis) dan berlanjut ke langit ke-7.

Peristiwa Isra’a:

    Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan(asrā, “أَسْرَىٰ”) hamba-Nya (biʿabdihi, “بِعَبْدِهِ”) pada suatu malam [laylan, “لَيۡلاً۬”) dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha (mesjid terjauh) yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [AQ 17.1]
Peristiwa mi’raj, yaitu naik ke langit ke-7, dianggap tersurat dalam ayat berikut ini:
    Maka apakah hendak membantahnya/meragukannya (afatumārūnahu) tentang (ʿalā) apa (mā) yang dilihatnya (yarā)? Dan sesungguhnya (walaqad) Ia telah melihatnya (raāhu) waktu turun (nazlatan) lainnya (ukh’rā), dekat (ʿinda) Sidratil Muntaha, Di dekat itu (ʿindahā) taman/surga (jannatu) tempat tinggal (al-mawā).. [AQ 53.12-15]
Pada waktu itu, Allah memberikan perintah kepada Muhammad untuk wajib mendirikan shalat 50 kali sehari namun sukses ditawar Nabi hingga tersisa 5 kali sehari
    Ibn Hazm dan Anas bin Malik berkata: Nabi berkata, “Kemudian Allah memerintahkan shalat 50x pada para pengikutku ketika Aku kembali dengan perintah Allah ini, Aku bertemu dengan Musa yang bertanya padaku, ‘Apa yang telah Allah perintahkan pada para pengikutmu?’ Aku jawab, ‘Ia memerintahkan shalat 50x pada mereka’ Musa berkata, ‘Balik kembali pada Tuhanmu (kata yang digunakan adalah rabbika “رَبِّكَ” (rabb-mu) bukan rabbana “رَبَّنَا” (rabb kita)) untuk para pengikutmu yang tidak akan mampu menanggung itu’ (Jadi Aku kembali pada Allah dan memohonkan pengurangan) dan Ia mengurangi itu menjadi setengahnya. Ketika aku bertemu Musa kembali dan mengabarkannya tentang itu, Ia berkata, ‘Kembali ke Tuhanmu karena pengikutmu tak akan kuat menanggungnya’ Jadi, Aku kembali pada Allah dan memohonkan pengurangan lebih lanjut dan setengahnya di kurangi. Lagi aku bertemu dengan Musa dan Ia berkata pada ku: ‘Kembali kepada Tuhanmu, Para pengikutmu tidak akan kuat menanggungnya. Jadi aku kembali pada Allah dan Allah berkata, ‘Shalatlah 5x dan ini setara dengan 50 x [dalam ganjaran] dalam kataku tak akan berubah.’ Aku kembali ke Musa dan Ia berkata padaku untuk kembali sekali lagi. Aku menjawab, ‘Sekarang Aku merasa malu untuk memohon pada Tuhanku lagi'” [Bukhari 1.8.345; 4.54.42; 5.58.227; dan 9.93.608]
Riwayat peristiwa ini
    Ibn Ishaq/Ibn Hisyam:
    Ibnu Ishaq berkata, “–Seperti disampaikan kepadaku bahwa hadits tentang isra’ Rasulullah SAW berasal dari Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, Aisyah istri Rasulullah SAW, Muawiyah bin Abu Sufyan, Al-Hasan bin Al-Hasan, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah dan ulama-ulama lainnya, serta Ummu Hani’ binti Abu Thalib. Mereka semua meriwayatkan dari Rasulullah SAW sebagian dari apa yang beliau sebutkan tentang peristiwa isra’ yang beliau alami. [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, Bab 74, Hal. 358]

    […]

    Al-Hasan berkata dalam hadisnya, “..Orang-orang yang tadinya telah masuk Islam banyak yang menjadi murtad…Ibnu Ishaq berkata bahwa Al-Hasan berkata, “Allah menurunkan ayat tentang orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa isra’ [AQ 17.60] [Ibid, hal. 359-361]

    […]

    Ibnu Hisyam berkata bahwa seperti disampaikan kepadaku dari Ummu Hani’ binti Abu Thalib (nama aslinya Hindun) tentang isra’ Rasulullah SAW di-isra’-kan ketika beliau sedang berada di rumahku. Pada malam itu, beliau tidur dirumahku. Beliau shala Isya’ akhir, kemudian tidur dan kita juga tidur. Menjelang Shubuh, beliau membangunkan kita. Setelah beliau shalat Shubuh dan setelah kami shalat Shubuh bersamanya, beliau berkata, ‘Wahai Ummu Hani’, sungguh aku telah shalat Isya’ akhir di lembah ini seperti yang sedang engkau lihat, kemudian aku datang ke Baitul Maqdis dan shalat di dalamnya, kemudian aku mengerjakan shalat Shubuh bersama kalian sekarang seperti yang kalian lihat.’

    Kemudian Rasulullah SAW keluar dan aku tarik ujung pakaiannya hingga perut beliau terlihat dan perut beliau seperti kain Mesir yang dilipat. Aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Nabi Allah, jangan ceritakan peristiwa ini kepada manusia, sebab nanti mereka mendustakanmu dan menyakitimu.’

    Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Allah, aku pasti menceritakan peristiwa ini kepada mereka…” [Ibid, Hal. 363-364]

    Haekal:
    Masa berkabung terhadap Khadijah itupun sudah pula berlalu. Terpikir olehnya akan beristeri,… Itu sebabnya ia segera melamar puteri Abu Bakr, Aisyah. Oleh karena waktu itu ia masih gadis kecil yang baru berusia 7 tahun, maka yang sudah dilangsungkan baru akad nikah, sedang perkawinan berlangsung 2 tahun kemudian, ketika usianya mencapai 9 tahun. Sementara itu ia kawin pula dengan Sauda, seorang janda yang suaminya pernah ikut mengungsi ke Abisinia dan kemudian meninggal setelah kembali ke Mekah.

    Pada masa itulah Isra’ dan Mi’raj terjadi. Malam itu Muhammad sedang berada di rumah saudara sepupunya, Hindun puteri Abu Talib yang mendapat nama panggilan Umm Hani. Ketika itu Hindun mengatakan:

    “Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai salat akhir malam, ia tidur dan kamipun tidur. Pada waktu sebelum fajar Rasulullah sudah membangunkan kami. Sesudah melakukan ibadat pagi bersama-sama kami, ia berkata: ‘Umm Hani’, saya sudah salat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang kaulihat di lembah ini. Kemudian saya ke Bait’l-Maqdis (Yerusalem) dan bersembahyang di sana. Sekarang saya sembahyang siang bersama-sama kamu seperti kaulihat.”

    Kataku: “Rasulullah, janganlah menceritakan ini kepada orang lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!”

    “Tapi harus saya ceritakan kepada mereka,” jawabnya…Apa yang dikatakan Muhammad kemudian menimbulkan kesangsian juga pada beberapa orang pengikutnya, pada orang-orang yang tadinya sudah percaya…Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik murtad…” [Hayat Muhammad, Muhammad Husayn Haykal, Hal. 189]

Tampaknya kisah ini memuat banyak persoalan.

Pertama,
Waktu Peristiwa dan tempat Muhammad berada saat berangkatpun laporannya bervariasi:

Waktu terjadinya Isra’ Mi’raj:

  1. Isra: (5 rantai perawi, lihat di bawah)..Malam ke-17 Rabiul Awal dan 1 tahun sebelum blokade pada jalan bukit Abu Talib [“Tabaqat Al-Kabir“, vol.1. buku 56.1 hal.144]
    Mi’raj: Muhammad Ibn `Umar – Abu Bakr Ibn ‘Abd Allah Ibn Abi Sabrah dan lainnya, mereka berkata:..Pada malam sabtu, 27 Ramadhan, 18 bulan sebelum Hijrah [“Tabaqat Al-Kabir“, vol.1. book 55.1. hal.143]
  2. Imam al-Qurtubi dalam tafsirnya menyatakan bahwa narasi penanggalam mi’raj berbeda-beda. Musa ibn ‘Uqbah: lewat 6 bulan sebelum Hijrah ke Medina. A’ishah: Khadijah telah meninggal sebelum turun perintah shalat diwajibkan. Imam Zuhri: Kepergian Khadijah terjadi 7 tahun setelah masa kenabian. Menurut beberapa redaksi hadis: Mi’raj terjadi 5 tahun setelah masa kenabian. Ibn Ishaq: Peristiwa mi’raj terjadi ketika Islam telah tersebar secara umum di mekkah (Ibn Ishaq/Hisyham, Guillaume, Hal. 181)..Al-Harbi: Isra’ dan Mi’raj terjadi malam ke-27 Rabi’ath-Thani, 1 tahun sebelum Hijrah dan Ibn al-Qasim adh-Dhahabi: Peristiwa ini terjadi 18 bulan setelah masa kenabian.. [Story of Isra/Miraj, Mariful Qur’aan by Mufti Mohammed Shafi]
  3. Musa ibn ‘Uqbah dari Az-Zuhri: 1 tahun sebelum Hijrah (juga pendapat dari ‘urwah). As-Suddi: 16 bulan sebelum Hijrah [Tafsir Ibn kathir utk AQ 17.1]
Tempat keberadaan Muhammad:
  1. Di rumah saudari sepupunya, Umm Hani [Hind atau Fathiha], hingga jauh malam (dekat subuh). Selain dari Haikal dan dari Ibn Ishaq, berikut Tabaqat Al Kabir, Ibn Sa’d: (Rantai perawi ke-1) Muhammad Ibn `Umar al-Aslami – Usamah Ibn Zayd al-Laythi – `Amr Ibn Shu`ayb – ayahnya (‘Amr) – kakeknya (‘Amr);
    (Rantai perawi ke-2) Ibn Sa`d – Musa Ibn Ya`qub al-Zam`i – ayahnya (Musa) – kakeknya (Musa) – Umm Salamah;
    (Rantai perawi ke-3) Musa – Abu al-Aswad -`Urwah – `Aisyah;
    (Rantai perawi ke-4) Muhammad Ibn `Umar – Ishag Ibn Hazim – Wahb Ibn Kaysan – Abu Murrah wali dari `Aqil – Umm Hani anak perempuan Abu Talib
    (Rantai perawi ke-5) Ibn Sa`d – `Abd Allah Ibn Ja`far – Zakariya Ibn `Amr – Abu Mulaykah – Ibn `Abbas dan yang lainnya; Narasi konsolidasi mereka adalah:

    beberapa dari mereka (para perawi) berkata: Umm Hani berkata: Ia dibawa dalam perjalanannya dari rumah kami. Ia tidur bersama kami malam itu; Ia melakukan shalat al-`Isha, kemudian ia tidur. Ketika menjelang pagi kami bangunkan dia (untuk) subuh (shalat). Ia bangun dan ketika ia melakukan shalat subuh ia berkata: 0 Umm Hani! Aku melakukan shalat al-Isha BERSAMA MU sebagaimana KAU SAKSIKAN, kemudian aku sampai di Bayt al-Muqaddas dan mendirikan shalat di sana; Kemudian Aku mendirikan shalat subuh sebelum mu. Setelah itu, Ia pergi keluar; Aku katakan padanya: Jangan sampaikan ini pada orang-orang karena mereka mendustaimu dan menyakitimu. Ia berkata: Demi Allah aku akan sampaikan ini pada mereka dan menginformasikan pada mereka…Allah, yang maha besar menurunkan: (Qur’an, 17:63)…[Tabaqat Al Kabir, Ibn Sa’d Vol.1, Parts 1.56.1]

    Tafsir AQ 17.1 dari:
    Tanwir al-Miqbas min Tafsar Ibn ‘Abbas: dari narasi Ibnu ‘Abbas sendiri..Ia bawa hamba-Nya Muhammad, saw, (pada malam hari) di awal malam..dari rumah Umm Hani ‘putri Abu Thalib..
    Tabari (w.310): Ibn Hamid – Salamah – Muhammad bin Ishaq – bend Mohammed bin massal – Abu Saleh bin Bamam – Umm Hani, anak perempuan Ibn Abu Talib berkata: Ia dibawa dalam perjalanannya dari rumah kami. Ia tidur bersama kami malam itu; Ia melakukan shalat al-`Isha, kemudian ia tidur…
    Para penafsir lainnya misal: Zamakhshalli (w. 538), Razi (w.606 H) juga menyampaikan salah satu pernyataan bahwa Muhammad berangkat Isra dari rumah Umm Hani


  2. Di rumahnya (Bukhari 1.8.345, 4.54.429, Ibn Sa’d: Ketika rasulullah SAW tidur sendirian di rumahnya, Jibril dan Michael datang dan berkata: Mari (ke tempat yang) kamu telah doakan pada Allah. Keduanya membawanya ke antara maqam (Ibrahin) dan Zamzam dan ada tangga yang dibawa. [“Tabaqat Al-Kabir“, vol.1. book 55.1. hal.143]
  3. Bersama Aisyah dan tubuh Muhammad tidak kemanapun [Ibn Ishaq/Hisyham, Guillaume, hal.183]. Ini mengindikasikan juga bahwa Aisyah ditiduri Muhammad sebelum Hijrah dan berusia 6 – 7 tahun!
  4. Sedang berbaring antara Al-Hatim atau Al-Hijr (Bukhari 5.58.227)
Kedua,
Keadaan nabi sesaat sebelum berangkat:
  1. Tertidur/mimpi (Bukhari 9.93.608),
  2. Diantara keduanya (Bukhari 4.54.429),
  3. Tidak tidur/Sadar (Ibn Sa’d’s Al-Tabaqat Al-Kabir Vol.I, Bukhari 1.8.345, 5.58.228, 5.58.227, Tafsir Ibn Kathir: Hal. 572-573)
Ketiga,
Perjalanan menuju Baitul Maqdis dan langit ke 7 dilakukan dengan mengendari Buraq:
  1. Riwayat dari Muhammad bin al-Mutsanna – Ibnu Abu Adi – Sa’id – Qatadah – Anas bin Malik – Malik bin Sha’sha’ah – Nabi SAW:..lalu dibawa pula kepadaku seekor binatang tunggangan berwarna putih yang disebut Buraq, ia lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada bagal. Ia mengatur langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas punggungnya. Kemudian kami pun memulai perjalanan hingga sampai ke langit dunia, setelah itu Jibril meminta agar dibukakan pintunya, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Siapa? ‘ Jawabnya, ‘Jibril’. Kemudian ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Lalu Jibril menjawab, ‘Muhammad SAW’. Lalu ditanya lagi, ‘Apakah dia orang yang telah diutuskan? ‘ Jawabnya, ‘Ya. Lalu malaikat yang menjaga pintu tersebut membuka pintu sambil berkata, ‘Selamat datang, sungguh tamu utama telah tiba’. Lalu kami mengunjungi Nabi Adam…” [Muslim 1.313/no.238]

  2. Riwayat dari Hasan bin Musa – Hammad bin Salamah – Tsabit Al-Bunani – Anas bin Malik – Rasulullah SAW: “Didatangkan kepadaku Buraq yaitu hewan putih tinggi yang lebih tinggi dari keledai dari lebih pendek dari kuda, yang bisa meletakkan kakinya sejauh pandangannya, saya menaikinya dan berjalan bersamanya hingga sampai di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya dengan tali yang biasa dipakai oleh para Nabi, kemudian saya masuk ke Baitul Maqdis dan shalat di dalamnya dua rakaat, kemudian saya keluar ..kemudian Buraq tersebut membawaku naik menuju langit dunia.. kemudian Buraq itu membawa kami naik menuju langit yang ke-2.. langit yang ke-3.. langit ke-4.. langit ke-5.. langit yang ke-6.. langit ke-7.. Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku menuju sidrotul muntaha yang lebar dedaunannya seperti telinga gajah, dan besar buahnya seperti tempayan besar, tatkala perintah Allah memenuhi sidrotul muntaha, dia berubah dan tidak ada seoarangpun dari mahluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat sidratul muntaha karena begitu indahnya..” {Ahmad no.12047]
Walaupun kepergiannya ke langit berkendaraan Buraq ramai diberitakan di hadis dan sirah (Muslim 1:309, Bukhari 4.54.429, 5.58.227, Al-Tabaqat Al-Kabir, Ibn Sa’d, Vol.I, dll) namun anehnya TIDAK ADA 1 pun ayat Quran yang menyinggung itu, padahal Quran menyebutkan keberadaan banyak binatang, misalnya: semut, ular, kuda, domba, unta, kera, babi dan lainnya, atau mahluk tak tampak: Jin, Setan dan Malaikat atau bahkan matahari yang tenggelam di laut hitam sekalipun. Seharusnya, Buraq juga merupakan suatu yang istimewa, namun entah mengapa Allah tidak berkenan menyebutkannya.

Keempat,
Terdapat informasi menarik di peristiwa Isra dan Mi’raj Muhammad,
Yaitu di setiap langit yang disinggahinya, beliau bertemu banyak Nabi lain yang telah lama wafat dan juga keturunan Adam, yaitu di langit ke-:

  1. Adam, beserta keturunannya: di kanan dan kiri Adam, di mana yang sebelah kanan adalah para penghuni Surga dan yang sebelah kiri adalah para penghuni neraka [Muslim 1.313; Bukhari 1.8.345].
  2. Yesus [Muslim 1.314]. Isa dan Yahya [Muslim 1.309 dan Bukhari 4.54.429; 5.58.227]. Idris [Bukhari 9.93.608]
  3. Yahya dan Yusuf [Muslim 1.314]. Yusuf [Muslim 1.309 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
  4. Idris [Muslim 1.309, 314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]. Harun [Bukhari 9.93.608]
  5. Harun [Muslim 1.309, 314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
  6. Abraham [Muslim 1.313 dan Bukhari 1.8.345, 9.3.608]. Musa [Muslim 1.309,314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
  7. Musa [Bukhari 9.93.608]. Abraham [Muslim 1.314 dan Bukhari 4.54.429, 5.58.227]
Informasi di atas ini seharusnya membingungkan. Mengapa?

Qur’an menyatakan bahwa mereka yang meninggal tidak otomatis mendapat kan penempatan surga atau neraka, namun MASIH berada di alam barzakh/”بَرْزَخٌ” [AQ 6:93, 9:101, 18:99, 22:7, 23:101-104, 27:82-90, 39:67-75, 40:46, 56:1-56, 75:1-14, 79:34-41, 101:1-11] hingga saat kiamat. Tafsir Ibn Kathir untuk ALAM BARZAH:

    Mujahid berkata, “Al-Barzakh adalah penghalang antara dunia dan akhirat”. Muhammad bin Ka `b berkata, “Al-Barzakh adalah apa antara dunia dan akhirat, Bukan orang-orang di dunia ini, makan dan minum, atau orang-orang di akhirat, yang mendapatkan pahala atau hukuman karena perbuatan”. Abu Sakhr berkata, “Al-Barzakh mengacu pada kuburan. Mereka tidak di dunia ini maupun akhirat, dan mereka akan tinggal di sana sampai hari kiamat”
Setelah itu mereka dibangkitkan. Hadis menginformasikan di hari kiamat, Muhammad-lah orang pertama yang akan dibangkitkan dari alam kubur [Bukhari 9.93.524, 564 4.56.732, Dari Usman bin Affan; dari Ibnu Umar (Al-Fakihy: 111/70-71)].

Kemudian manusia dikumpulkan, matahari mendekati bumi hingga sebatas 1 atau 2 mil dan manusia berkeringat deras:

    Al Hasan bin Sawwar – Laits bin Sa’ad dari Mu’awiyah bin Shalih – Abu ‘Abdur Rahman – Abu Umamah – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat matahari mendekat seukuran 1 mil, panasnya ditambahkan sekian dan sekian, serangga-serangga akan mendidih layaknya tungku, mereka mengeluarkan keringat berdasarkan kesalahan-kesalahan mereka, diantara mereka ada yang mencapai dua mata kaki, ada yang mencapai dua betis, ada yang mencapai pertengahannya dan ada yang dikekang keringat.” [Ahmad no.21162]

    ***
    Riwayat [Tirmidhi: (Suwaid bin Nashr – Ibnu Al Mubarak)/Muslim: (Al Hakam bin Musa Abu Shalih – Yahya bin Hamzah)] – Abdurrahman bin Jabir – Sulaim bin Amir – Al Miqdad bin Al Aswad – Rasulullah SAW:

    “Pada hari kiamat, matahari didekatkan ke manusia [Tirmidhi: “hingga sebatas 1 atau 2 mil”/Muslim: “hingga sebatas 1 mil”] -berkata Sulaim bin Amir: Demi Allah, aku tidak tahu apakah beliau memaksudkan jarak bumi ataukah mil yang dipakai bercalak mata- (Timirdhi: “lalu matahari melelehkan mereka,”) lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” [Tirmidhi: “Aku melihat”/Muslim: “Al Miqdad berkata:”] Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan ke mulut beliau. [Tirmidhi: + “maksudnya benar-benar tenggelam. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih dan dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Sa’id dan Ibnu Umar”] [Muslim no.5108/40.6852 dan Tirmidhi no.2354/4.11.2421]

    ***
    Abdul ‘Aziz bin Abdullah – Sulaiman – Tsaur bin Yazid – Abul Ghaits – Abu Hurairah – Rasulullah SAW: “Pada hari kiamat manusia berkeringat, hingga keringat mereka di bumi setinggi 70 hasta dan menenggelamkan mereka hingga telinga dan mulut.” [Bukhari no.6051/8.76.539]

Sejumlah orang akan ada yang masuk surga tanpa hisab (jumlahnya 70.000 orang saja), namun sisanya sebelum masuk surga akan dihisab dulu. Dalam tafsir Ibn Kathir jus 8/381-382, mengutip sahih Bukhari yang berasal dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri:
    nabi berkata jika orang-orang BERIMAN telah selamat dari neraka mereka tertahan di jembatan yang ada antara surga dan neraka. Di sana mereka diqishaskan untuk setiap perbuatan zalim ketika di dunia, setelah bersih maka diijinkan masuk surga.
Jembatan antara surga dan neraka ini juga di sebut Al A’raaf [AQ 57.13 dan AQ 7.46]. Dalam jus 8/385 disebutkan bahwa:
    Al A’raaf adalah bentuk jamak dari urf. Setiap bentuk dataran tinggi disebut urf..jengger ayam di sebut urf. Al araaf itu mempunyai pintu. Dari riwayat yang disampaikan oleh Ats Tsauri dari Jabir, dari Mujahid, dari Ibn abbas, “al Araaf adalah dinding spt jengger ayam jantan”. Riwayat lain dari ibn abbas menyatakan bukit antara surga dan neraka disana orang-orang berdosa ditahan diantara surga dan neraka. As Suddi mengatakan al A’raaf tempatnya tinggi karena disana penghuninya dapat menyaksikan orang-orang. [“Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsir”, Penerbit Mu-assasah Daar Al-Hilaal Kairo, cetakan ke-1, 1994, pustaka Imam Asy-sayfi’i, Bogor, cetakan ke-2, Mei 2003]
Tafsir Ibn kathir menyatakan:
    Ibn jarir menyampaikan hadis dari Hudhayfah yang ditanya oleh orang-orang tentang Al A’raaf dan berkata, “Mereka yang kebaikan dan kejahatannya setara. perbuatan buruknya mencegah dirinya termasuk golongan surga dan perbuatan buruknya mencegahnya masuk neraka. karena itu mereka dihentikan di sana pada sebuah dinding hingga allah menghakiminya.
Memperhatikan ini, maka, mereka semua, harusnya TIDAK SEDANG ADA Kanan (Surga) dan Kiri (Neraka) ADAM, bukan?

Juga,
terdapat hal menarik lain yang berkenaan dengan kejadian di LANGIT KE-1.

Jibril yang di setiap langit, MAMPU mengenali Nabi-nabi yang telah wafat lama namun entah mengapa di langit ke-1, beliau ini malah TIDAK MAMPU mengenali: Ayah, Ibu dan Kakek Nabi yang masuk neraka. BAHKAN juga TIDAK MAMPU mengenali paman Nabi Abu Thalib dan Khadijah (istri pertama nabi) yang wafat HANYA di kisaran 1 tahunan sebelum peristiwa Isra’ Mira’j

Kelima,
Dalam Peristiwa Mi’raj, Nabi juga melihat sungai Nil dan Efrat:

  1. Di langit ke-1 [Bukhari no.6963]
  2. Di langit ke-2 [Bukhari 9.93.608]
  3. Di langit ke-7 [Muslim 1.314; dan Bukhari no.4.54.429; 5.58.227]
  4. Di langit, namun tidak disebutkan langit keberapa [Muslim 40.6807 dan Bukhari 7.69.514]
Bagaimana mungkin sungai Nil dan Efrat sumbernya dari langit? Untuk detail lainnya lihat di sini.

Setelah penyampaian Isra’ Mira’j, diwartakan banyak yang kembali Murtad:

    Al-Hasan berkata dalam hadisnya, “..Orang-orang yang tadinya telah masuk Islam banyak yang menjadi murtad…Ibnu Ishaq berkata bahwa Al-Hasan berkata, “Allah menurunkan ayat tentang orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa isra’ [AQ 17.60] [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid 1, Bab 74, hal. 359-361]

    ..Apa yang dikatakan Muhammad kemudian menimbulkan kesangsian juga pada beberapa orang pengikutnya, pada orang-orang yang tadinya sudah percaya…Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik murtad…” [Hayat Muhammad, Muhammad Husayn Haykal, Hal. 189]

KE-5,
Sampai dengan surat Al hijr 15: 94-95 [Turun di urutan ke-54], maka Allah memerintahkan “DAKWAH” agar dilakukan secara terang-terangan.

Faktanya, sebelum surat ini turun, yaitu berdasarkan bukti urutan turunnya surat Al kafirun 109: 1-6 [turun di urutan ke-18], maka dakwah terang-terangan telah dilakukan berikut berbagai penghinaan dan pencercaan pada tuhan-tuhan dan nenek moyang kaum Quraish oleh Nabi.

Fakta yang terjadi tampak bertentangan urutan dan juga perintah di surat ini, namun urutan turunnya surat adalah berasal dari kalangan muslim sendiri.

Kekacauan urutan surat dan tetek bengek lainnya bukanlah sesuatu yang mengherankan karena bahkan penyusunan kitab Qur’anpun ternyata memiliki ragam permasalahan yang mencurigakan, yaitu mulai masalah penyusunannya s/d kitab yang dihasilkan ternyata memiliki variasi berbedaan TOTAL JUMLAH HURUF, sehingga tidak jelas mana yang asli mana yang bukan [Artinya termasuk Quran yang sekarang beredar]. Untuk jelasnya, lihat ini atau lebih detailnya di sini

KE-6,
Sampai dengan surat Al An’aam 6:108 [Turun di urutan ke-55]. Akibat dakwah-dakwah Nabi dan para Muslim sebelumnya, yang mengandung unsur memaki/mencela sesembahan dan nenek moyang kaum Kafir dan Musyrik, dan berakibat para pemuka kaum Quraish mendatangi Abu Talib untuk mengingatkan Muhammad agar menghentikan kebiasannya, maka turunlah Al An’aam 6:108, “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Di Tafsir Ibn Kathir: Ali bin Abi Talhah berkata tentang komentar Ibn `Abbas pada ayat [6:108]: “Mereka berkata, ‘O Muhammad’ Berhentilah menghina tuhan-tuhan kami, atau kami akan menghina tuhanmu“. Juga, kaum kafir terprovokasi ikut menghina gara-gara sesembahan mereka terus menerus dihina yaitu dari riwayat `Abdur-Razzaq – Ma`mar – Qatadah: “Para Muslim biasa menghina sesembahan non muslim lainnya hingga akhirnya mereka balik membalas menghina Allah”.

Dari tafsir, kita ketahui bahwa kaum Quraish jahiliyah ini, sangat menghormati perbedaan sesembahan, tidak mulai duluan dengan menghina sesembahan Muhammad dan baru bergerak setelah pengabaian berulang.

Note:
Berapa Muslim berdalih bahwa hadisnya lemah dan mursal, Silakan lihat link ini dan ini yang memberikan arahan dan alasan mengapa riwayat ini dapat diterima dan TETAP digunakan Ibn Kathir dalam menafsirkan.

Tabari dalam tafsirnya menuliskan beberapa hadis dari berbagai jalur perawi bahwa ayat ini turun karena Nabi dan pengikutnya kerap memaki sesembahan lain:

    Riwayat (no.13774) dari Al Mutsanna – Abu Shalih – Muawiyah bin Shalih – Ali bin Abu Thalhah – Ibnu Abbas: “Mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, hentikanlah, jangan mencela tuhan kami, atau kami akan mencela Rabbmu‘”. Riwayat (no.13775) dari Bisyr bin Muadz – Yazid – Said – Qatadah: “bahwa kaum muslim mencela tuhan-tuhan orang kafir, maka mereka membalas kepada kaum muslim“. [dua hadis di atas ini juga dikumpulkan Ibnu Abu Hatim dalam tafsirnya (4/1366),Ibnu Al Jauzi dalam Zad Al Masir (3/102),dan Al Baghawi dalam Ma’alim At-Tanzil (2/402)]

    Riwayat (no.13776) dari Muhammad bin Al Husain – Ahmad bin Al Mufadhdhal – Asbath – As Sudi: “Menjelang kematian Abu Thatib, kaum Quraisy berkata ‘Mari kita pergi mendatangi orang itu (Abu Thalib), kemudian kita perintahkan agar Ia melarang ponakannya (Muhammad), KARENA KITA MALU JIKA MEMBUNUH (Muhammad) SETELAH (Abu Thalib) MATI, sehingga orang Arab akan berkata, ‘Mereka menahannya, setelah mati mereka membunuhnya”’ Abu Sufyan pun pergi, demikian juga Abu Jahal, An-Nadhar bin Al Harits, Umayyah bin Khalaf, dan Ubay bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu’aith, Amr bin Al Ash, dan Al Aswad bin Al Bukhthuri. Mereka lalu mengutus seseorang bernama Al Muthallib. Mereka berkata, ‘Mintalah izin kepada Abu Thalib!’ Ia pun datang ke Abu Thalib seraya berkata, ‘Para tokoh kaummu hendak masuk!’ Ia lalu mengizinkan mereka, maka mereka pun masuk. Mereka berkata, ‘Wahai Abu Thalib, engkau adalah tuan dan sesepuh kami, sementara Muhammad telah menyakiti kami serta tuhan-tuhan kami. oleh karena itu, kami ingin jika engkau meminta kepadanya agar ia tidak mencela tuhan kami, niscaya kami meninggalkan tuhannya!

    Abu Thalib lalu memanggil beliau SAW: Beliau pun tiba. Abu Thalib lalu berkata kepada beliau, ‘Mereka adalah kaummu dan anak-anak pamanmu!’ Beliau bertanya, ‘Apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami ingin engkau membiarkan kami dan tuhan kami, niscaya kami akan membiarkanmu dan Tuhanmu!‘ Abu Thalib berkata, ‘KAUMMU TELAH BERBUAT ADIL, MAKA TERIMALAH!‘ Beliau pun berkata, ‘Maukah kalian aku berikan suatu kalimat, jika kalian mengucapkan kalimat ini, maka kalian akan menguasai kaum Arab, bahkan kaum asing akan tunduk kepada kalian, mereka pun akan membayar upeti untuk kalian‘. Abu Jahal berkata, ‘Tentu, kami akan memberikannya 10x lipat, apakah ia?’ Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah laa ilaaha illallah” Akan tetapi mereka menolaknya. Abu Thalib kemudian berkata, ‘wahai keponakanku, ucapkanlah yang lain, karena kaummu merasa takut terhadapnya!…” Artinya, beliau SAW ingin menjadikan mereka putusasa. Akhirnya mereka marah dan berkata, ‘BERHENTILAH MENCELA TUHAN KAMI, ATAU KAMI AKAN MENCELAMU DAN MENCELA TUHAN YANG TELAH MEMERINTAHMU’” [Hadis di atas juga dikumpulkan Ibnu Abu Hatim dalam tafsirnya (4/1367), Al Baghawi dalam Ma’alim At Tanzil (2/402), dan As-suyuthi dalam Ad-Darr Al Mantsur (3/38)]

    Riwayat (no.13777) dari Muhammad bin Abdul A’la – Muhammad bin Tsaur – Ma’mar – Qatadah: “Kaum muslim mencela berhala orang-orang kafir, lantas orang-orang kafir mencela Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu“. [Hadis ini juga dikumpulkan Ibnu Abu Hatim dalam tafsirnya (4/1367)]

    Riwayat (no.13778) dari Yunus – Ibnu Wahab – Ibnu Zaid: “Jika engkau mencela tuhannya, maka dia akan mencela ilah-mu, maka janganlah kalian mencela tuhan mereka” (Juga dikumpulkan As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al Mantsur (3/38), tanpa menuturkan sumbernya)

    [Tafsir Ath-Tabari, Tahqiq Ahmad Abduraziq Al-Bakri, dkk dari Naskah Syaikh Ahmad (dan Mahmud) Muhammad Syakir, Vol.10, hal.372-376]

Rupanya, perlu turun 37 surat dulu untuk kemudian Allah menyadari bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan nabi beserta pengikutnya merupakan tindakan keterlaluan.
    Ketika Rasul secara terbuka menggambarkan Islam sebagai Allah yang memerintahkan dia, kaum Quraish tidak berbalik melawannya, sejauh saya dengar, hingga Ia berbicara yang meremehkan dewa-dewa mereka. Ketika dia melakukan itu, mereka tersinggung hebat dan memutuskan bulat untuk memperlakukan dia sebagai musuh.(Ibn Ishaq 167)
Tafsir AQ 6:108, dari ‘Alī ibn Ahmad al-Wahidi, Asbab al-Nuzul:
    Ibn ‘Abbas berkata, menurut riwayat Al-Walibi, “Mereka [kaum pagan] berkata:” O Muhammad, berhentilah mencerca tuhan kami atau kami akan menghina Tuhanmu ‘..Qatadah berkata: “Muslim biasa mencerca tuhan mereka dan akhirnya Kaum pagan bereaksi balik melawan mereka..Al-Suddi berkata: “Ketika Abu Talib tengah sekarat, [beberapa pemimpin] Quraish berkata, “Mari kita temui dia dan memintanya untuk melarang kemenakannya mencerca tuhan-tuhan kita, karena kita malu untuk membunuhnya setelah ia wafat yang nantinya mendorong banyak orang arab berkata, ‘Ia biasa membelanya, namun saat Ia wafat, mereka membunuhnya’.

    Dan demikianlah Abu Sufyan, Abu Jahl, al-Nadr ibn al-Harith, Umayyah dan Ubayy anak-anaknya Khalaf, ‘Uqbah ibn Abi Mu‘ayt, ‘Amr ibn al-‘As, al-Aswad ibn al-Bukhturi pergi menemui Abu Talib. Mereka berkata padanya: ‘Kau adalah junjungan kami dan pemimpin, namun Muhammad telah menyakiti kita dan melecehkan Tuhan-tuhan kita. Kami memohon Kau memanggilnya dan mengingatkannya untuk berhenti berkata tidak baik pada tuhan-tuhan kita. Dan di bagian kami, kami akan membiarkannya dengan Allahnya’. Setelah dipanggil, Nabi datang.

    Abu Talib berkata padanya: “Mereka ini adalah kaummu dan juga sepupu-sepupumu”. Nabi berkata pada mereka: “Apa mau kalian?” Mereka berkata: “Kami ingin kamu membiarkan kami dengan tuhan-tuhan kami dan kamipun membiarkan engkau bersama tuhanmu” Abu Talib berkata: “Kaummu telah berlaku ADIL padamu, maka kabulkanlah”.

    Nabi berkata: “Jika Aku sepakat dengan ini maka apakah Kalian sepakat memberikan aku satu kalimat, jika engkau ucapkan ini, Kalian akan memerintah kaum arab dan non arab sekaligus?” [Di Tabari: “Jika engkau ucapkan ini, kalian akan memerintahkan kaum Arab dan NON ARAB akan membayar Jizyah pada mereka”]

    Abu Jahl berkata: ‘Ya, Demi nama Ayahmu, kami akan berikan hal tersebut padamu dan juga memberikan 10 hal lain yang seperti itu, tapi apakah kalimat itu?. Nabi berkata:”Tidak ada Tuhan selain Allah!”. Mereka menolaknya dan mengekspresikan ketidaksenangan mereka pada penawaran ini

    [Di tabari: Mereka berdiri dengan siaga, mengebaskan debu di baju mereka dan berkata, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan” Kemudian turun surat AQ 38:5-8 (Turun di urutan ke-38) yang di awali dengan kalimat yang di ucapkan mereka dan di akhiri dengan, “mereka belum merasakan azab-ku (‘-ku’ dalam huruf kecil)” Ini adalah kata-kata persis dari Riwayat Abu Kurayb], bahkan Abu Talib berkata: “Anak dari kakak-ku, mintalah sesuatu yang lain, kaummu sangat berhati-hati tentang ini”.

    Ia berkata: “Oh Paman, Aku tidak akan meminta selain dari itu. Bahkan jika mereka meletakkan matahari di tanganku, Aku tidak akan meminta selain itu”. Pemimpin kalangan Quraish berkata:”Kamu sebaiknya berhenti mencerca tuhan-tuhan kami atau kami akan balik mencercamu dan juga Ia yang memerintahkanmu“. Dan demikianlah, Allah mewahyukan ayat ini.

Diperjalanan waktu kemudian, AQ 6:108 ini DIBATALKAN/ABROGASI AYAT PEDANG (AQ 9.5, turun urutan ke-113) [Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn ‘Abbâs untuk AQ 6:108], tampaknya Allah dan Nabinya, belakangan merasa malu, ingat waktu didatangi kaum Quraish Mekah, TIDAK MAMPU PAKAI TANGAN hanya pakai LISAN:
    Riwayat [(Abu Bakar bin Abu Syaibah – Waki’ – Sufyan) dan (Muhammad bin al-Mutsanna – Muhammad bin Ja’far – Syu’bah)] – Qais bin Muslim – Thariq bin Syihab: “..Abu Said – Rasulullah SAW: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu DENGAN TANGANNYA. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” [Juga Riwayat Abu Kuraib Muhammad bin al-Ala’ – Abu Mua’wiyah – al-A’masy – Ismail bin Raja’ – bapaknya – Abu Sa’id al-Khudri – Qais bin Muslim – Thariq bin Syihab – Abu Sa’id al-Khudri dalam hadis Muslim no.70, juga di Abu Daud no.963, 3777. Tirmidzi no.2988. Nasa’i no.4922, 4923, dan lainnya]
Setelah turunnya AQ 6:108, faktanya tidak berubah, Allah, Nabi dan kaum MUSLIMIN TETAP TIDAK BERHENTI mencela VULGAR sesembahan kaum lainnya, ini konstan dilakukan hingga berakhirnya Quran diturunkan, misal:
  1. AQ 7.191-198 (turun sebelum AQ 6): (191) Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang; (192) Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu tidak dapat memberi pertolongan; (193) Dan jika kamu menyerunya untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja buat kamu menyeru mereka ataupun kamu herdiam diri; (194) Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk yang serupa juga dengan kamu…; (195) Apakah berhala-berhala mempunyai kaki yang dengan itu ia dapat berjalan, atau mempunyai tangan yang dengan itu ia dapat memegang dengan keras, atau mempunyai mata yang dengan itu ia dapat melihat, atau mempunyai telinga yang dengan itu ia dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)-ku. tanpa memberi tangguh (kepada-ku)”; (196) Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran)..; (197) Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri. (198) Dan jika kamu sekalian menyeru untuk memberi petunjuk, niscaya berhala-herhala itu tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat [AQ 7.191-198]

    Pernyataan ayat 195, juga menunjukan arti bahwa hanya Allah yang disembah Muhammad-lah, satu-satunya Allah yang benar-benar punya tangan, dapat berjalan, mendengar dan melihat.


  2. AQ 5.104: (turun urutan ke-112): Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” dan AQ 2.170 (turun urutan ke-87): Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?“. [Note: ..turunnya ayat ini (S. 2: 170) sehubungan dengan ajakan Rasulullah SAW kepada kaum Yahudi untuk masuk Islam, serta memberikan kabar gembira, memperingatkan mereka akan siksaan Allah serta adzab-Nya. Rafi’ bin Huraimallah dan Malik bin ‘auf dari kaum Yahudi menjawab ajakan ini dengan berkata: “Hai Muhammad! Kami akan mengikuti jejak nenek moyang kami, karena mereka lebih pintar dan lebih baik daripada kami.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas)]

  3. AQ 4.117:(turun urutan ke-92): Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka

  4. Di Hudabiyah (6 AH), sekitar pembuatan perjanjian Hudabiyah: Riwayat Muhammad b. ‘Abd al – A’la al-$an’ani – Muhammad b. Thawr – Ma’mar – Al Zuhri – ‘Urwah (b. al Zubayr] – Al Miswar b. Makhramah; dan Riwayat Ya’qub b. Ibrahim – Yahya b. Said Al Qattan – ‘Abdallah b. Al Mubarak – Ma’mar – al-Zuhri -‘Urwah – (Al Miswar b. Makhramah dan Marwan b. al-Hakam):….Kemudian ‘Urwah berkata: “Muhammad, katakan padaku: jika kamu memusnahkan sukumu, apakah kamu pernah mendengar ada orang Arab yang menghancurkan rasnya sendiri sebelum kamu? Dan jika yang terjadi sebaliknya, demi Tuhan aku melihat orang-orang terkemuka dan rakyat jelata yang kemungkinan besar akan lari dan meninggalkanmu.” Abu Bakar berkata, “PERGI HISAP KLITORIS AL-LAT! ” (Sesembahan dari Thaqif) …” Siapa ini? “tanya ‘Urwah. Mereka berkata, “Abu Bakar.” ‘Urwah berkata,”Demi Yang Esa yang memegang jiwaku di tangan-Nya, jika bukan karena bantuan yang kau lakukan padaku yang belum kubayar kembali padamu, aku akan menjawabmu” [History of Tabari, Vol.8, hal.74-76]
Jadi,
KONSTAN dari SEBELUM turunnya ayat 6.108 hingga SESUDAHNYA, DAKWAH Allah, Nabi dan juga sahabatnya, TETAP dengan mencela, memaki sesembahan dan nenek moyang kaum Kafir dan Musyrik.

KE-7,
Bahkan SETELAH turunnya surat Al Mu’min AQ 40:28 [Turun diurutan ke-60] dan surat Al Fushshilat AQ 41:1-13 [Turun di urutan ke-61], Semua penghinaan pada suku, ajaran dan agama kaum pagan, juga kekacauan dan perselisihan yang terjadi di antara suku mereka, maka tetep saja TIDAK TERJADI kekerasan pada Muhammad SAW, bahkan mereka telah mendemonstrasikan tindakan sangat toleran, bersabar dan berusaha menyelesaikan perbedaan dan pertikaian dengan cara yang sangat baik bagi ke maslahatan seluruh kaum Quraish.

Untuk surat Al Mu’min AQ 40:28 [Turun diurutan ke-60], Abu Ja’far (al-Tabari):

    Ketika pengikut nabi beremigrasi, Nabi tetap di Mekkah ia tetap berkotbah secara rahasia dan terbuka, dilindungi oleh Allah melalui Pamannya, Abu Talib dan oleh mereka yang menjawab panggilannya. Ketika Kaum Quraysh melihat itu Mereka TIDAK menyerangnya secara FISIK, mereka menyatakan dirinya penyihir, penenung, dan sinting, dan penyair..Berkenaan hal ini, terdapat laporan kekerasan terburuk yang terjadi ketika itu:

    Abu Salamah b. ‘Abd al-Rahman berkata pada ‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As, “Apa Kekerasan terburuk yang engkau lihat yang dilakukan kaum Quraish pada Nabi ketika mereka secara terbuka mereka menunjukan permusuhannya?” Ia menjawab, “Aku tengah berada dengan para orang terhormat mereka di satu hari di Hijr tengah mebicarakan Nabi. Mereka berkata, “kita ngga pernah menyaksikan seperti apa yang kita terima bertubi-tubi dari orang ini. Ia telah mencomooh nilai-nilai tradisi kita, melecehkan nenek moyang kita, mencerca agama kita, menyebabkan perpecahan dikalangan kita semua, dan menghina tuhan2 kita. Kita telah menerima bertubi-tubi banyaknya dari dia”..

    Ketika mereka berkata ini, Nabi tiba2 muncul dan berjalan dan mencium BATU HITAM. Ketika ya melewati mereka sambil melakukan ritual mengitari, dan sebagaimana yang ia lakukan maka mereka melakukan gerakan2 ejekan tentang dirinya. Aku dapat melihat dari wajah Nabi yang Ia dengar dari mereka, namun ia jalan terus. Ketika ia lewat ke 2xnya, mereka juga membuat gerakan yang sama, namun ia terus berjala.

    Ketika Ia lewat ke 3xnya, dan mereka melakukan gerakan yang sama, namun kali ini Ia berhenti dan berkata, “Dengar, orang2 Quraish. Atas nama Ia yang nyawa Muhammad ditangannya, Aku membawa pembantaian padamu”. Mereka kemudian menggengam atas apa yang telah Ia katakan..sangat menohok mereka..bahkan pada mereka yang telah sangat keras menghimbau padanya sebelumnya dengan cara yang damai kepadanya menggunakan ekspresi tersopan dan berkata, “berjalanlah di tuntunan yang benar, Abu al-Qasim; Demi Allah, engkau tidaklah bodoh”

    “Nabi pergi dan keesokan harinya mereka berkumpul kembali di Hijr dan aku (‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As) juga ada. Mereka berkata satu sama lainnya, “Engkau membicarakan tindakan tak menyenangkan yang bertubi2 engkau alami dan hal-hal yang Muhammad telah lakukan pada kalian namun ketika Ia secara terbuka menyatakan sesuatu yang tidak enak engkau takut padanya” Ketika mereka berkata ini, Nabi tiba-tiba muncul, mereka loncat kedepannya, mengelilinginya dan berkata, ” Benarkah engkau mengatakan ini dan itu?” mengulangi apa yang mereka dengar atas ucapannya dan juga tentang tuhan dan agamanya. nabi berkata “Ya, sayalah yang mengatakan itu”

    Kemudian Aku lihat satu diantara mereka mencengkram jubahnya, namun Abu Bakar berdiri didepannya menangis dan berkata, “terkutuklah kalian semua! Apakah kalian akan membunuh orang karena ia berkata tuanku adalah tuhan?” Mereka kemudian meninggalkannya dan itu adalah hal terburuk yang pernah aku lihat kaum Quraish lakukan padanya” [“The History of al-Tabari“, Vol. 6. hal 101, Riwayat Ibn Humayd — Salamah — Muhammad b. Ishaq — Yahya b. ‘Urwah b. al-Zubayr — his father ‘Urwah—‘Abdullah b. ‘Amr b. al-‘As]

    Abu Salamah b. ‘Abd Al Rahman berkata pada ‘Abdullah b. ‘Amr, “Apa Kekerasan terburuk yang engkau lihat yang dilakukan kaum Quraish pada Nabi” Ia menjawab,”‘Uqbah b. Abi Mu’ayt datang ketika Nabi ada di Ka’bah, membelit jubah disekeliling leher nabi dan memitingnya secara keras, Abu Bakar berdiri yang berdiri dibelakangnya, mendorongnya menjauh dari Nabi. dan berkata, “Tuhanku ialah Allah?..sampe pada kalimat “Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas, pendusta?” [Ibid, Hal.102, Riwayat Yunus b. ‘Abd al-A’la — Bishr b. Bakr — al-Awzai — Yahya b. Abi Kathir — Abu Salamah b. ‘Abd al-Rahman] (AQ 40:28, urutan ke-60)]

Untuk surat Al Fushshilat AQ 41:1-13 [Turun di urutan ke-61]:
    Imam Abd b. Humaid di koleksi hadis Musnad-nya menyatakan bahwa Abu Bakar b. Shayba yang berhubungan dengannya, mengutip Ali bin Mishar, dari al-Ajlah, putra dari ‘Abd Allah al-Kindi, dari al-Dhayyal b. Harmala al-Asadi, dari Jabr b. ‘Abd Allah, yang berkata, “Kaum Quraisy suatu hari bertemu dan bersepakat untuk menentukan siapa yang paling paham sulap, sihir, dan puisi diantara mereka. Dia kemudian akan mendekati pria yang telah menyebabkan pertikaian dan perpecahan di kaumnya dan telah menyalahi agama mereka, untuk berbicara dengannya dan memutuskan bagaimana menanggapinya. Mereka sepakat bahwa ‘Utbah b. Rabi’ah adalah pilihan yang tepat, mereka mendekatinya dan berkata kepadanya, “Orangnya adalah engkau, hai Abu al-Walid”

    “‘Utbah kemudian pergi ke Rasulullah dan berkata,’ Wahai Muhammad, siapa yang lebih baik, Kamu atau Abdulllah?”, Muhammad tetap terdiam.

    “Lalu ia berkata, ‘Siapa yang lebih baik, Kamu atau Abdul Al-Muttalib” Muhammad tetap terdiam.

    “‘Utbah lalu berkata,”Jika engkau mengklaim bahwa orang-orang itu lebih baik darimu, Faktanya adalah mereka menyembah tuhan yang kamu cerca. Jika engkau mengklaim dirimu lebih baik dari mereka, Maka bicaralah sehingga kita bisa mendengar apa yang engkau katakan. Demi Allah, kami belum pernah melihat orang bodoh yang lebih berbahaya untuk kaumnya selain dari engkau, Engkau telah menyebabkan perpecahan dan pertikaian di antara kita, mengkritik AGAMA KAMI dan merendahkan kita semua dimana kaum arab bahwa dipermalukan kita di mata orang Arab bahwa desas-desus yang beredar diantara mereka saat ini, ada seorang pesulap atau penyihir di tengah-tengah Quraisy.

    Demi Tuhan, sesama, tampaknya kita harus tangisan seorang wanita hamil pada kita semua untuk berada satu sama lain dengan pedang hingga kita musnahkan diri kita sendiri! Jika diperlukan maka itu adalah persoalan engkau, kami akan mengumpulkan untuk membuatmu menjadi yang terkaya di antara kaum Quraish, jika status yang engkau inginkan, pilihlah perempuan Quraisy manapun yang engkau sukai dan kami akan menikahi sepuluh untukmu.

    Nabi menjawab, “Sudah selesai?” “Ya”, jawab ‘Utbah. Rasul Allah kemudian berbicara: “Dalam nama Allah, Maha Penyayang dan Pemurah. Haa Miim. Sebuah wahyu dari Maha Penyayang dan Pemurah. Sebuah Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui … ‘dan seterusnya hingga ayat, “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud.” “‘

    “‘Utbah berkata,”Apakah itu cukup. tidak ada lagi yang di sampaikan?”‘

    “‘Tidak,’ jawabnya.

    “‘Utbah kemudian kembali ke Quraisy dan mereka bertanya apa yang terjadi. Dia menjawab, ‘Aku tidak menghilangkan satu kalimatpun kepadanya tentang yang kalian bicarakan.”

    “dia menjawab?”, Tanya mereka. “Ya”, jawabnya. Kemudian ia menyatakan, “Mmmh, tidak, oleh Dia yang berdiri seperti sebuah bangunan, saya ngga ngerti apa yang dia katakan, kecuali bahwa ia memperingatkan kita tentang hukuman yang mengerikan seperti ‘Ad dan Tsamud” [Ibn Kathir, The Life of the Prophet Muhammad SAW (Al-Sira al-Nabawiyya), Vol.I, Hal. 363-364]

Sampai sejauh inipun, atas semua perselisihan, kekacauan dan perpecahan yang diakibatkan Nabi, sama sekali tidak ada penyiksaan kepada Nabi, bahkan malah Nabi yang mengancam mereka semua

KE-8,
Kaum Quraish telah banyak memberikan kesempatan pada Muhammad untuk membuktikan kenabian dirinya:

    Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian tokoh-tokoh Quraisy dari setiap kabilah (seperti disampaikan kepadaku oleh sebagian orang berilmu dari Sa’id bin Jubair dan dari Ikrimah, mantan budak Ibnu Abbas dari Abdullah bin Abbas RA) seperti Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, An-Nadhr bin Al-Harts bin Kildah saudara Bani Abduddaar, Abu Al-Bakhturi bin Hisyam, Al-Aswad bin Al-Mututhalib bin Asad, Zam’ah bin Al-Aswad, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahl bin Hisyam (semoga dikutuk Allah), Abdullah bin Abu Umaiyyah, Al-Ash bin Wail, Nubaih, Munabbih (keduanya anak Al-Hajjaj), Umaiyyah bin Khalaf, dan lain-lain mengadakan pertemuan setelah matahari terbenam di samping Ka’bah.

    Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Pergilah salah seorang dari kalian kepada Muhammad kemudian bicaralah dengannya, dan berdebatlah dengannya hingga kalian bisa mengajukan alasan-alasan kepadanya.’ Mereka mengutus seseorang dengan membawa pesan untuk disampaikan kepada Rasulullah SAW, ‘Sesungguhnya kaummu sedang berkumpul membahas perihal dirimu. Mereka ingin bicara denganmu. Oleh karena itu, datanglah engkau ke tempat mereka!’ Rasulullah SAW mendatangi mereka..Ketika beliau telah duduk bersama mereka, maka salah seorang berkata kepada beliau, ‘Hai Muhammad, sungguh kami telah mengirim orang untuk berbicara denganmu.

    Demi Allah, kita belum pernah melihat ada seseorang dari Arab yang lancang kepada kaumnya melebihi kelancanganmu kepada kaummu. Sungguh engkau telah menghina nenek moyang. Engkau mencela agama dan melecehkan tuhan-tuhan. Engkau membodoh-bodohkan mimpi-mimpi dan memcah belah persatuan. Tidak ada hal yang jelek, melainkan engkau bawa dalam kaitan hubunganmu dengan kami (atau seperti yang mereka katakan). Jika dengan pembicaraan ini semua, engkau menginginkan kekayaan, kami akan mengumpulkan seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika..engkau menginginkan kehormatan, maka kami menjadikan engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau menginginkan menjadi raja, kami mengangkatmu sebagai raja kami. Jika apa yang engkau alami adalah karena faktor jin yang tidak mampu engkau usir, kami akan mengeluarkan seluruh kekayaan kami sebagai biaya untuk mencari dokter hingga engkau sembuh darinya.’

    Rasulullah Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, ‘Apa yang kalian katakan tentang aku? Apa yang aku bawa kepada kalian tidak dengan maksud ingin mendapatkan kekayaan dari kalian, atau kehormatan di mata kalian, atau kekuasaan atas kalian. Namun Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku, dan memerintahkanku menjadi pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi kalian. Aku sampaikan pesan-pesan Tuhanku kepada kalian dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita, — atau seperti yang disabdakan Rasulullah SAW.’

    Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Hai Muhammad, jika engkau tidak menerima satu tawaran pun yang telah kami ajukan kepadamu, ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih sempit daerahnya, dan lebih sedikit persediaan airnya, dan lebih keras kehidupannya dari kami.

    Oleh karena itu, berdoalah kepada Tuhanmu yang mengutusmu dengan membawa apa yang engkau bawa ini agar Dia:

  1. menggoncang gunung-gunung yang terasa sempit bagi kami,
  2. meluaskan daerah kami, mengalirkan sungai-sungai seperti Sungai Syam dan Irak untuk kami di dalamnya,
  3. membangkitkan nenek moyang kita, dan pasti, dan pastikan bahwa di antara nenek moyang yang dibangkitkan untuk kita adalah Qushai bin Kilab, karena ia orang tua yang benar, kemudian kita bertanya kepadanya apa yang engkau katakan; benar atau salah?

Jika nenek moyang kita membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami pintakan kepadamu, maka kami membenarkanmu, mengakui kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Allah mengutusmu sebagai Rasul seperti yang engkau katakan.’

Rasulullah SAW bersabda kepada mereka, ‘Aku diutus kepada kalian tidak untuk seperti itu. Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dengan membawa apa yang aku bawa. Sungguh, apa yang telah diutus kepadaku telah aku sampaikan kepada kalian. Jika kalian menerimanya, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita.’

Mereka berkata, ‘Jika engkau tidak mau mengerjakan permintaan kami, maka bangunlah untuk dirimu. Mintalah Tuhanmu:

  1. mengutus malaikat bersamamu yang membenarkan apa yang engkau katakan dan meminta pendapat kami tentang dirimu.
  2. memberikan untukmu taman-taman, istana-istana, dan kekayaan dari emas dan perak hingga engkau menjadi kaya dengannya, karena engkau berada di pasar seperti halnya kami dan mencari kehidupan seperti kami.

Ini semua agar kami mengetahui kelebihanmu dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu jika engkau betul-betul seorang Rasul seperti pengakuanmu.’

Rasulullah Saw bersabda kepada mereka, ‘Aku tidak akan melakukan itu semua, dan aku tidak akan meminta itu semua kepada Tuhanku, serta aku tidak diutus kepada kalian dengan itu semua. Namun Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan–atau seperti yang beliau sabdakan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah hingga Allah memutuskan persoalan di antara kita.’

Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Kalau tidak begitu jatuhkan untuk kami gumpalan dari langit karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia pasti melakukannya. Sungguh, kita tidak beriman kepadamu jika engkau tidak melakukannya.’

Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika itu kehendak Allah pada kalian, pasti Dia melakukannya.’

Tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Hai Muhammad, apakah Tuhanmu mengetahui bahwa kami akan duduk bersamamu, kami menanyakan ini semua kepadamu, dan meminta ini semua kepadamu, kemudian Dia datang kepadamu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan sebagai bahan untuk menjawab pertanyaan kami dan Dia menjelaskan kepadamu tentang apa yang akan Dia kerjakan terhadap kami jika tidak menerima apa yang engkau bawa? Sungguh, kami telah mendapatkan informasi bahwa engkau diajari seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Demi Allah, kami tidak beriman kepada Ar-Rahman. Hai Muhammad, kami telah mengajukan banyak hal kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu dan apa yang engkau sampaikan kepada kami hingga kami berhasil membinasakanmu atau engkau membinasakan kami.’

Salah seorang dari tokoh-tokoh Quraisy berkata, ‘Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak wanita Allah.’

Salah seorang dari mereka berkata, ‘Kami tidak beriman kepadamu hingga engaku bisa mendatangkan Allah dan para malaikat berhadapan dengan kami.’

Ketika mereka usai berkata seperti itu kepada Rasulullah SAW, beliau berdiri dan diikuti Abdullah bin Abu Umaiyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum yang tidak lain adalah saudara misannya, dan suami Atikah bin Abdul Muththalib.

Abdullah bin Abu Umaiyyah berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Hai Muhammad,

  1. kaummu telah mengajukan banyak tawaran kepadamu, namun semua tawaran mereka engkau tolak.
  2. Mereka memintamu memberi hal-hal agar dengan yang demikian mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Allah seperti pengakuanmu.
  3. Mereka memintamu, dan mengikutimu, namun engkau tidak mengabulkannya.
  4. Mereka memintamu mengambil sesuatu untuk dirimu sehingga dengan sesuatu tersebut, mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu di sisi Allah, namun engkau tidak mengabulkannya.
  5. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan kepada mereka, namun engkau juga tidak mengabulkannya–atau seperti dikatakan Abdullah bin Abu Umaiyyah.

Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak beriman kepadamu hingga engkau membangun tangga ke langit, kemudian engkau naik ke langit melalui tangga tersebut dan aku melihatmu tiba di sana, setelah itu engkau mengambil tempat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa apa yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan berharap aku membenarkanmu.’

Kemudian Abdullah bin Abu Umaiyyah berpaling dari Rasulullah SAW dan beliau sendiri pulang kepada keluarganya dengan perasaan sedih, dan berduka karena tidak tercapainya keinginan beliau pada mereka ketika mendakwahi mereka, dan karena melihat mereka menjauh dari beliau. [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, bab56, hal 248-251]

Bahkan permintaan yang sungguh wajar inipun tidak mampu Muhammad lakukan.

Kaum Quraish bahkan telah bertanya pada para rahib Yahudi untuk membuktikan bahwa Muhammad bukanlah Nabi. Ide ini ulah dari An Nadir bin Al-Harits. Ia tahu bahwa Muhammad BUKAN nabi, Ia juga orang yang menyatakan bahwa Muhammad BUKAN JUGA: penyihir, dukun, penyair dan orang gila. [Ibid, hal. 252-253]. Ia memberikan ide membuktikan Muhammad pembohong untuk bertanya kepada para rahib Yahudi. Kaum Quraish kemudian menugaskan dirinya dan Uqbah bin Abu Mu’aith ke rahib Yahudi Madinah dan Rahib Yahudi memberikan solusi dengan 3 pertanyaan yang jika Muhammad mampu menjawab 3 hal tersebut, maka ia seorang Nabi dan jika tidak, maka Ia pembohong:

  1. Pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama dan informasi tentang mereka?
  2. Seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat
  3. Roh; apakah roh itu?
3 hal itu ditanyakan pada Muhammad yang kemudian berjanji akan menjawab esok paginya namun bahkan sampai 15 malam Muhammad tidak mendapatkan wahyu tentang itu (tentu saja, ada alasan pembelaan tentang ini, yaitu karena Muhammad saat berjanji tanpa mengatakan insya Allah)
    Mereka berkata, ‘Muhammad menjanjikan jawaban atas pertanyaan kita besok pagi, dan waktu sudah berjalan 15 malam, namun tidak ada jawaban atas pertanyaan kita.’..
Kaum Quraish mentertawakan Muhammad dan An-Nadhr telah sukses merubuhkan klaim Muhammad sebagai nabi.
    Kemudian Malaikat Jibril datang kepada beliau membawa surat Al-Kahfi (no.18, turun di urutan ke-69) dari Allah swt yang berisi informasi perihal pemuda-pemuda yang mereka maksud, sang pengembara dan permasalahan roh [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.252-264 atau The Life Of Muhammad, by Ibn Ishaq, A. Guillaume, mulai hal.136]
Walaupun Allah pada akhirnya membantu menjawab, namun jawabannya ngawur:
  1. Ashabul Kahfi (Penghuni Gua), tercantum di AQ 18:9-26 [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.252-264] seharusnya ketika merujuk pada kisah di kitab Yahudi, seharusnya, jawabannya adalah kisah tentang Onias dan Abimelek/Ebed-Melech, TIDAK PERNAH kalangan Yahudi di kitab mereka memuat para pemuda di Efesus, Juga, Allah SWT rupanya tidak tahu bahwa cerita para pemuda yang tertidur di gua itu, ternyata hanya dongeng buatan pendeta Nasrani belaka. Untuk jelasnya, buka ‘“Seven Sleepers” tertidur 309 Tahun?

  2. Dzu Al-Qarnaini, tercantum di AQ 18:83-98 [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.264 – 255] dan hadis Qudsi dan hadis nabi. Allah menyampaikan klaim bahwa Matahari berjalan dari Timur ke Barat dan terbenam di mata air/lumpur Hitam. Dunia Islam tidak pasti tentang siapakah Dzu Al-Qarnaini.

    Sebagian ulama menyatakan Dzu Al-Qarnaini adalah Koresh Yang agung:
    Pendapat-pendapat ulama abad ke 20an seperti: Maududi [1903 – 1979, tafsir quran surat al kahf], Javed Ahmed Ghamidi [lahir tahun 1951], Maulana Abul Kalam Azad [1888 – 1958], Allameh Tabatabaei [1904-1981, Tafsir aliran Syiah, tafsir al-Mizan, vol 26] and Naser Makarem Shirazi [Lahir 1924, Tafsir Aliran syiah, Bargozideh Tafseer-i Nemuneh (برگزیده تفسیر نمونه), Vol 3, p69], menyatakan bahwa Dhul Qarnayn adalah Koresh yang Agung (576 SM–530 SM)

    Sebagian lainnya menyatakan Dzu Al-Qarnaini adalah Alexander Yang Agung:
    Sirah Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam: Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang mendapatkan hadits-hadits dari orang-orang non Arab berkata kepadaku, Dzu Al-Qarnaini berasal dari Mesir. Nama aslinya Marzaban bin Mardziyah Al-Yunani. Ia berasal dari anak keturunan Yunan bin Yafits bin Nuh. Ibnu Hisyam berkata, “Nama aslinya Iskandar. Dialah yang membangun kota Iskandariyah, kemudian kota Iskandariyah diberi nama dengan namanya.” [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.264-265]

    Hadis nabi:
    THE PROPHETS, THEIR LIVES AND THEIR STORIES“, Abdul-Sâhib Al-Hasani Al-‘âmili, dengan mengutip banyak sumber menyatakan Dhul Qarnayn adalah alexander. Tabari dari rantai perawi Utbah ibn Amr ketika SEKELOMPOK orang Yahudi bertanya kepada Nabi SAW tentang Dhul-Qarnayn, Nabi SAW menjawab bahwa Ia adalah anak muda dari romawi yang membangun Alexandria.

    Tafsir:
    Tafsir Jalalayn, “Dan mereka, para Yahudi, menanyaimu mengenai Dhū’l-Qarnayn, yang mempunyai nama Alexander; Ia bukan Nabi…Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam (‘ayn hami’a: [mata air] berisi ham’a, yaitu lumpur hitam)…Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat, yang bernama para Negro (zanj) yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari..”
    Tabari,”كان شاباً من الروم، فجاء فبنى مدينة مصر الإسكندرية” (Dia adalah seorang pemuda Romawi, dia membangun kota alexandriya-mesir)
    Al-Zmakhshari,”ذو القرنين: هو الإسكندر الذي ملك الدنيا” (Zulkarnain: Alexander adalah raja dunia.)
    Razi,”أنه هو الاسكندر بن فيلبوس” Ini adalah Alexander yang agung dari Yunani
    Qurtuby,”فأما اسمه فقيل: هو الإسكندر الملك اليوناني المقدوني،” (Adapun nama-Nya dan diberitahu: Alexander adalah Raja Yunani Makedonia)

    Namun, baik Koresh dan Alexander bukan pemuja Allah, Koresh adalah pagan pemuja Mithra, sedangkan Alexander adalah pagan penyembah Ammon-Zeus, menyatakan diri anak dari Ammon


  3. Jawaban Allah dan Rasulnya tentang Roh. Juga tidak ada:
    Ibnu Ishaq berkata Allah Ta’ala berfirman tentang pertanyaan mereka seputar roh, ‘Dan mereka bertanya kepadamu tetang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’: 85) [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam Bab 56. hal.265]

    Bayangkan! Bagaimana mungkin seorang utusan Allah, tapi tidak diberitahu ilmu tentang roh dan hanya menghindar dengan mengatakan ‘Dan mereka bertanya kepadamu tetang roh. Katakanlah, ‘Roh termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (AQ 17.85, Turun di urutan ke-50)?

Kaum Quraish telah dengan baik merubuhkan klaim Muhammad bahwa Ia adalah utusan Allah dan bahkan pembuktian inipun dilakukan mereka dengan tanpa kekerasan dan tanpa PENGHINAAN pula! Sementara Muhammad, tetap saja konstan dengan caranya yaitu memberikan ancaman-ancaman verbal kepada mereka.

Menariknya pula,
Muhammad (dengan membawa nama Allah) juga memberikan tantangan kepada kaum Quraish agar membuat ayat/kalimat/surah yang semisal Quran, misal:

  1. Atau mereka mengatakan: “ Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: maka cobalah datangkan sebuah surat (bisūratin) seumpanya dan panggilah siapa-siapa yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” [Aq 10.38, Surat Yunus, turun di urutan, ke-51]
  2. mereka mengatakan: ”Muhammad telah membuat-buat Alquran itu”, katakanlah: ”maka datangkanlah sepuluh surat (biʿashri suwarin) yang dibuat-buat menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. [AQ 11.13, Turun di urutan ke-52]
  3. Ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendalah mereka mendatangkan kalimat (biḥadīthin) yang semisal dengan Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar (AQ 52.33-34, Turun di urutan ke-76)
Cilakanya, tantangan sepele dari Allah ini JUGA TELAH dijawab baik oleh An Nadhr bin Al-Harits, Ia juga mampu menciptakan dongengan (kalimat/surah/ayat) yang sama semisal quran di tempat manapun itu setelah Muhammad menyampaikan dongengannya:
    ..Jika Rasulullah SAW duduk di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka, dan beliau beranjak dari tempat tersebut, maka An-Nadhr bin Al-Harits duduk di tempat yang sama, kemudian berkata, ‘Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, aku lebih bagus ucapannya daripada Muhammad. Sekarang kalian ke marilah, niscaya aku katakan kepada kalian perkataan yang jauh lebih bagus daripada perkataan Muhammad!‘ Kemudian An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah-kisah tentang raja-raja Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata, ‘Dengan apa Muhammad lebih bagus ucapannya daripada saya?’ ” Ibnu Hisyam berkata, “An-Nadhr bin Al-Harits inilah (sama seperti disampaikan kepadaku) orang yang berkata, ‘Aku akan menurunkan ayat seperti yang diturunkan Allah’” [Sirat Nabawiyah Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, Jilid I, Bab.56, Hal.253-264]

    Ibnu Ishaq berkata: “Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas berkata, ‘Al-Qur’an menurunkan delapan ayat tentang An-Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta’ala, ‘Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘Itu adalah dongeng orang-orang yang dahulu.’ (AQ 83.13, turun urutan ke-86). Dan semua ayat-ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir (dongeng orang-orang terdahulu) dalam Al-Qur’an’ [Ibid, hal.253]

Tantangan Allah ini, TELAH PATAH berkali-kali dan bahkan patahnya inipun dilakukan DITEMPAT yang sama dan dilakukan TANPA JALAN KEKERASAN hanya dengan PEMBUKTIAN LANGSUNG yang SEDERHANA, pula.

KE-9,
Sampai dengan surat Ar Ruum AQ 30:1-6, [Turun di urutan ke-84 dan merupakan 4 surat terahir yang turun di Mekkah]. Pada hadis yang meriwayatkan surat Al ruum 30:1-6, kita temukan fakta bahwa kaum Quraish memang TIDAK-LAH PERNAH memusuhi/memerangi Muhammad SAW dan pengikutnya:

    Diriwayatkan bahwa tatkala sampai berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia itu kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya di Mekah, maka merekapun merasa sedih, karena kekalahan itu berarti kekalahan bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani yang termasuk agama Samawi dan kemenangan bangsa Persia yang beragama Majusi yang termasuk agama syirik.

    Orang-orang musyrik Mekah yang dalam keadaan bergembira itu menemui para sahabat Nabi dan berkata: “Sesungguhnya kamu adalah ahli kitab dan orang Nasrani juga ahli kitab, sesungguhnya saudara kami bangsa Persia yang bersama-sama menyembah berhala dengan kami telah mengalahkan saudara kamu itu. Sesungguhnya jika kamu memerangi kami tentu kami akan mengalahkan kamu juga. Maka turunlah ayat ini.

    Maka keluarlah Abu Bakar menemui orang-orang musyrik, ia berkata: “Bergembirakah kamu karena kemenangan saudara-saudara kamu atas saudara saudara kami? Janganlah kamu terlalu bergembira, demi Allah bangsa Romawi benar-benar akan mengalahkan bangsa Persia, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi kami”.

    Maka berdirilah Ubay bin Khalaf menghadap Abu Bakar dan ia berkata: “Engkau berdusta”.

    Abu Bakar menjawab: “Engkaulah yang paling berdusta hai musuh Allah. Maukah kamu bertaruh denganku sepuluh ekor unta muda. Jika bangsa Romawi menang dalam waktu tiga tahun yang akan datang, engkau berutang kepadaku sepuluh ekor unta muda, sebaliknya jika bangsa Romawi kalah, maka aku berutang kepadamu sebanyak itu pula”.

    Tantangan bertaruh itu diterima oleh Ubay.

    Kemudian Abu Bakar menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab : “Tambahlah jumlah taruhan itu dan perpanjanglah waktu menunggu”.

    Maka Abu Bakarpun pergi, lalu bertemu dengan Ubay. Maka Ubay berkata kepadanya: “Barangkali engkau menyesal dengan taruhan itu”.

    Abu Bakar menjawab: “Aku tidak menyesal sedikitpun, marilah kita tambah jumlahnya dan diperpanjang waktunya sehingga menjadi seratus ekor unta muda, dan waktunya sampai sembilan tahun”.

    Ubay menerima tantangan Abu Bakar, sesuai dengan anjuran Rasulullah kepada Abu Bakar.

    Tatkala Abu Bakar akan hijrah ke Madinah, Ubay minta jaminan atas taruhan itu, seandainya bangsa Romawi dikalahkan nanti. Maka Abdurrahman putra Abu Bakar menjaminnya. Tatkala Ubay akan berangkat ke perang Uhud, Abdurrahman minta jaminan kepadanya, seandainya bangsa Persia dikalahkan nanti, maka Abdullah putra Ubay menjaminnya.

    Tujuh tahun setelah pertaruhan itu bangsa Romawi mengalahkan bangsa Persia dan Abu Bakar menerima kemenangan taruhannya dari ahli warisnya Ubay karena dia mati dalam peperangan Uhud tersebut. Kemudian beliau pergi menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw” [H.R. Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan Baihaqi]

Atau sebagaimana diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam kitab sunan miliknya dari Ibnu Abbas ra tentang firman Allah yang berbunyi:
    “Aliif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa romawi di negeri yang dekat”. (Ar-Ruum 1-3).

    Ibnu Abbas berkomentar tentang ayat ini yaitu: mengalahkan dan dikalahkan. Kaum musyrikin sangat senang dengan kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi, karena mereka sama-sama menyembah berhala. Sedangkan kaum muslimin menyukai kemenangan Romawi karena mereka adalah ahli kitab. Dan oleh orang-orang musyrik hal itu diungkapkan kepada Abu Bakar ra, yang kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah saw.

    Lalu beliau saw bersabda: “Adapun mereka bangsa Romawi akan memperoleh kemenangannya”. Maka Abu Bakar ra pun balik menyampaikan hal itu kepada orang-orang musyrik dan mereka berkata: ” Kalau demikian, maka tetapkan batasan waktunya. Jika kami menang kami akan mendapatkan ini dan itu, jika kalian menang akan mendapatkan ini dan itu”. Kemudian Abu Bakar ra menetapkan batas waktu kepada mereka yakni lima tahun.

    Namun nyata bangsa Romawi belum mendapapat kemenangan.

    Kemudian Abu Bakar memberitahukan hal itu kepada Rasulullah saw dan bersabda: “Kenapa tidak engkau katakakan sampai dibawah?”

    Ibnu Abbas berkata: “Aku berpendapat bahwa apa yang dimaksud oleh beliau saw adalah di bawah sepuluh tahun”.

    Note:
    Tahun 614 M-615 M, Persia menang melawan Romawi. Jadi turun surat Ar ruum 30:1-6, seharusnya di tahun 615 M [atau 616 M]

    Tahun 622 M/623 M, Perang Romawi/Persia mulai lagi.
    Tahun 622 M, Hijrah ke Medinnah
    Tahun 625, Perang Uhud
    Desember 627 M, Perang terakhir dan dimenangkan oleh Romawi namun belumlah tuntas.
    Maret 628 M, Surat permintaan damai dari persia dan Perayaan kemenangan.

    Perhitungan:
    628 M – 616/615 M = 12/13 tahun
    628 M – 614/615 M = 13/14 tahun

    Jadi, jangankan “lima tahun” sebagaimana di sebutkan di riwayat ke-1, yang sudah menunjukan bahwa kaum kafir memenangkan pertaruhan BAHKAN jika memakai ucapan Ibn Abbas sebagaimana disebutkan di riwayat ke-2, yaitu “dibawah sepuluh tahun”-pun telah terlewati!

    Sehingga seharusnya: Abu bakar kalah, Nabi Muhammad SAW kalah dan Allah salah

    Namun jika kita gunakan selisih waktu 7 tahun antara pertaruhan dan kemenangan Romawi [628 M] sebagaimana yang disebutkan di riwayat ke-1, maka surat Ar Ruum 1-6 seharusnya turun pada 621 M atau 2 (dua)tahun SETELAH wafatnya Khadijah dan Abu Talib [619 M]!

    Artinya bahkan hingga 1 (satu) tahun SEBELUM Hijrah ke Medinnah-pun, TIDAK PERNAH kaum Quraish memusuhi Muhammad SAW dan pengikutnya dan semuanya justru disebabkan oleh Muhammad SAW dan pengikutnya sendiri!

Bayangkan kesabaran orang2 Quraish pada tingkah laku nabi. Kesabaran itu berlangsung s/d 13 tahun lamanya sejak Muhammad SAW jadi Nabi!
    [Orang-orang Mekkah] berkata bahwa mereka tidak pernah ketemu kekacauan terus menerus seperti yang dilakukan orang ini. Ia nyatakan cara hidup mereka bodoh menghina nenekmoyang mereka, mencerca agama mereka, memecah komunitas dan mengutuki tuhan mereka(Ibn Ishaq 183).
Dari segala yang Muhammad SAW lakukan, satu2nya KEKERASAN terburuk yang melanda nabi selama 13 tahunan di mekkah justru ketika ia telah hijrah!
    Selama 13 tahun, yang terburuk yang melanda Muhammad SAW di mekkah adalah lemparan pasir oleh pengejeknya dan terkadang ejekan ketika ia berdoa di Ka’bah. Nabi terus menggusarkan orang2 mekkah, Pada satu point memberitahukan mereka bahwa Ia datang membawa mereka pada “pembantaian” Hal ini mengakibatkan mereka menangkap Muhammad SAW [salah satunya bernama Uqba] dan berusaha memitingnya, namun hampir persegera dilepaskan tanpa terluka kemudian mereka meninggalkannya. Itu adalah yang terburuk yang kulihat kaum quraish lakukan padanya [Ibn Ishaq hal.184]

    Aku tanya ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As untuk memberitahukanku, hal terburuk yang pagan lakukan pada rasulluallah. Ia katakan: “Ketika Utusan Allah sedang berdoa di halaman Ka’bah, ”Uqba bin Abi Mu’ait datang dan menangkap utusan Allah di bahunya dan memelintir kainnya sekeliling lehernya dan memitingnya. Abu Bakr datang dan menangkap dan memiting bahu ‘Uqba dan melemparkannya jauh dari utusan Allah dan berkata, “Apakah engkau akan membunuh seseorang karena ia berkata ‘Tuhanku adalah Allah’ dan telah datang padamu tanda yang jelas dari Allahmu?” [Bukhari 6.60.339]

Apa yang kita bisa pelajari dari laporan-laporan di atas?
  1. Sangsi adat, sosial dan ekonomi tersebut berlangsung selama 5 tahun lebih [< 615 M s/d 619 M]

  2. Peristiwa hijrah pertama dan ke-2 ke Habasyah/Abyssinia, disebabkan ulah kaum muslim sendiri yang tidak berhenti menghina adat-istiadat, nenek moyang dan tuhan sukunya walaupun telah diingatkan secara berulang namun tetap dilakukan, bahkan telah pula dengan sangsi adat, sosial dan ekonomi namun tidak juga berhenti menghina, sehingga membuat kaum Quraish menjadi tidak tahan atas penghinaan ini dan menjadi bertindak lebih tegas. Usman juga Hijrah ke Abyssinia dan pulang pada 3 bulan kemudian. Sepulangnya dari Abyssinia, Usman tidak ikut Nabi namun malah menetap di Mekkah dan membangun bisnisnya. Demikian pula ABU BAKAR dan UMAR juga ada di mekkah.

  3. Ketika kaum Islam kelaparan akibat sangsi ekonomi, Abu Bakar dan Umar TIDAK berpartisipasi membantu dengan resiko di musuhi, yang membantu justru kaum pagan sendiri, misal: Hakim b. Hizam b. Huwaylid dan Hisham b. Amr b. Rebi.

    Mengapa Mereka tidak ikut bersama Nabi dan mengapa tidak membantu Nabi dan pengikutnya dengan perbekalan makanan dikala susah?..Inilah juga yang kemudian menjadi pertanyaan abadi kaum Syi’ah yang tidak pernah dapat dijawab oleh kaum Sunni.


  4. Sangsi adat, sosial dan ekonomi menyebabkan berkurangnya harta Khadijah dan kelompok Bani Hasyim/Bani Muttalib. Kejadian ini juga yang memicu wafatnya Khadijah dan Abu Talib namun juga memicu perkawinan berikutnya Muhammad dengan 2 wanita, yaitu janda kaya bernama Saudah dan lainnya adalah Aisyah anak Abu Bakar.

  5. Berbalik murtadnya mereka yang telah masuk Islam terjadi setelah peristiwa Isra’a Mira’j.

  6. Selain sangsi sosial-ekonomi, TIDAK ADA penyiksaan fisik khusus kepada Nabi. Bahkan Nabipun sampai melakukan taktik memuji tuhan-tuhan orang kafir. Kekerasan yang dilakukan kaum Quraish terbatas dilakukan hanya kepada para budak mereka yang telah membangkang terhadap tuannya, malas terhadap tuannya, ikut menghina nenek moyang tuannya, adat-istiadat tuannya, tuhan dari tuannya, dan juga kepada anggota keluarga sendiri.
Sekarang kita bisa pahami apa yang melatar belakangi motif hijrahnya Nabi ke Medina, yaitu melakukan penggalangan kekuatan, uang untuk bergerak melalui Jizyah, dengan penyerangan, penaklukan dan penyebaran ajaran di berbagai wilayah.

KE-10,
Klaim hijrahnya Nabi ke Medinah, karena hendak dibunuh kaum Quraish (yang kemudian terdapat kisah ajaib di gua Tsur) pasca wafatnya Khadijah dan Abu Talib.

Setelah pelindungnya, yaitu pamannya Abu Talib, wafat, maka Abu Lahab bin Abdul Muttalib menjadi pelindung Muhammad hingga kemudian berhenti melindunginya karena Muhammad menyatakan bahwa kakeknya sendiri (Ayah dari Abu Lahab, Abu Talib dan Abdullah/bapak Muhammad) ada di neraka.

    Jalur ke-1: Muhammad Ibn `Umar – Mubammad Ibn Salih Ibn Dinar, `Abd al-Rahman Ibn `Abd al-`Aziz dan al-Mundhir Ibn `Abd Allah – Hakim Ibn Hiram atas otoritas beberapa sahabat;
    Jalur ke-2: Muhammad Ibn `Abd Allah – ayahnya -`Abd Allah Ibn Tha’labah Ibn Su`ayr;

    Mereka berkata:
    Wafatnya Abu Talib dan Khadijah berjarak waktu 1 bulan dan 5 hari; kedua bencana melanda Nabi SAW. Ia, kemudian, tinggal di tempatnya, jarang keluar…Abu Lahab menerima Informasi ini dan mendatanginya dan berkata: O Muhammad! Lakukan apa yang engkau suka dan telah engkau lakukan ketika Abu Talib masih hidup.

    Demi al-Lat! tidak seorangpun berkesempatan dapat mengganggumu hingga aku mati.

    Ibn Al-Gaytalah melecehkan Nabi SAW, maka Abu Lahab mendatanginya (Al Gaytalah) dan balas melecehkannya, ia menangis dan berteriak: O kaum Quraish! Abu ‘Utbah (abu lahab) telah murtad. Ketika kaum Quraish mendatangi Abu lahab, Ia berkata: Aku tidak meninggalkan keyakinan Abdul Al-Muttalib, namun Aku harus melindungi anak kakak-ku jika ia dilecehkan agar ia dapat melakukan apa yang ia kehendaki.

    Mereka berkata: Bagus! Bagus sekali! Engkau telah berlaku adil bagi keluargamu.

    Nabi SAW, tetap dalam keadaan ini dalam beberapa hari. Ia buasa pergi keluar dan kembali dan tidak ada seorang quraishpun yang mengganggunya. Mereka takut pada Abu lahab.

    ‘Uqbah Ibn Abi Mu’ayt dan Abu Jahl Ibn Hisham mendatangi Abu lahab dan berkata padanya: Apakah anak kakakmu menyampaikan padamu dimana Ayahmu (Abdul Muttalib) tinggal?.
    Abu Lahab berkata padanya: O Muhammad! Dimana Abudl Muttalib tinggal?

    Ia berkata: Dekat kaumnya.
    Abu Lahab kembali kepada mereka dan berkata: Aku tanya dia dan ia menjawab: Dekat kaumnya.
    Mereka berkata: Ia percaya bahwa ia (Abdul Muttalib) di neraka.
    Kemudian Ia berkata: O Muhammad! Akankah Abdul Muttalib masuk neraka?
    Nabi SAW berkata: Ya dan siapapun yang mati dalam keyakinan seperti Abdul Muttalib akan masuk neraka.
    Mendengar ini Abu Lahab berkata: Aku tidak akan berhenti memusuhimu selamanya karena kau percaya Abdul Al-Muttalib di neraka.
    Mulailah Ia (Abu Lahab) dan kaum Quraish memperlakukannya dengan kasar. [Ibn Sa’d, AL-Tabaqat Al kabir, vol.1 Parts 1.54.1]

Terlihat jelas bahwa Abu Lahab tidak memusuhi, bahkan telah berbaik hati ikut pula melindungi Muhammad, anggota keluarga mereka sendirir, namun karena Muhammad berkata bahwa sesepuh mereka, yaitu kakek Muhammad, ayah, ibu, dan pamannya (yang telah berjasa sangat besar melindunginya selama ini) dan juga semua yang punya keyakinan yang sama dengan kakeknya berada di neraka, maka Abu Lahab menjadi memusuhinya. Karena ucapan ini, Muhamad kehilangan pelindung pengganti.

Muhammad kemudian pergi ke Thaif [80 Km jaraknya dari Mekkah] untuk mencoba mencari perlindungan pada orang-orang Tsaqif [Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas’ud bin Amr bin Umair dan Habib bin Amr bin Umair bin Auf bin Aqdah bin Ghirah bin Auf bin Tsaqif], namun mereka tidak mau diperalat Nabi untuk berhadapan dengan kaum Quraish. [Ibn Ishaq hal 381-383]

Ini membuat Nabi Marah.

Orang-orang Thaif mengerahkan budak-budak mereka untuk mencaci maki, mentertawakan dan “mengepung” Nabi hingga sampai di kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah dan kemudian Orang-orang itu pun pulang. [Ibn Ishaq hal.382]

Dengan pulangnya mereka tanpa membunuh dan melukainya, maka ini merupakan upaya untuk memastikan seseorang yang tidak di kehendaki karena jelas beritikad mencelakakan/menghasut 1 kampung dalam kekacauan, digiring keluar dari kampung mereka.

Ini membuat Nabi marah.

Kemudian beliau balik lagi ke Mekkah. Selama musim haji, Muhammad S.A.W menawarkan dirinya pada setiap Khabilah yang datang dan berusaha meminta perlindungan pada kaum kafir [baca: memperalat], diantara yang gagal di bujuk dan diperalat adalah: Kindah, bani Kalb, Bani Hanifah, Bani Amir bin Sha’sha’ah dan beberapa lainnya. [Ibn Ishaq hal.384-386]

Ini membuat Nabi Marah.

Namun, beberapa ada yang berhasil di bujuk dan masuk Islam, diantaranya adalah Iyaz bin Muadz serta kaum Ansar. Setelah pulang mereka pun merekrut anggota baru dan kemudian membaiat Nabi.

    Ka’ab bin Malik berkata, “Setelah kami membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, syetan menjerit dari atas Al-Aqabah dengan teriakan keras yang bisa aku dengar, ‘Hai penduduk Al-Jabajib, ketahuilah bahwa Mudzamam (yang ia maksud dengan Mudzamam ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) dan orang-orang murtad bersamanya telah bersatu untuk memerangi kalian.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ini Azab, syetan Al-Aqabah. Ini anak Azyab. Dengarkan wahai musuh Allah, demi Allah, aku pasti mematikanmu.’ Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada kaum Anshar, ‘Pulanglah kalian ke pos kalian’.” [Ibn Ishaq hal.387-405]
Ini adalah fakta sederhana yang terjadi pasca kematian Abu Thalib.

Nabi menyusun rencana dan mempersiapkan angkatan perang untuk menghadapi suku-suku yang sebelumnya telah kenyang beliau hina dan lecehkan cara hidup, nenekmoyang, ajaran dan tuhan-tuhan mereka serta terutama karena tidak mau tunduk pada kehendaknya menyembah Allahnya.

    Ketika orang-orang Quraisy semakin membangkang kepada Allah Azza wa Jalla, menolak kehendak Allah untuk memuliakan mereka, mendustakan hamba-Nya yang menyembah-Nya, mentauhidkan-Nya, membenarkan Nabi-Nya dan berpegang teguh kepada agama-Nya, maka Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, menahan, mengalahkan orang-orang yang mendzalimi kaum Muslimin dan menindas mereka. Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengizinkan beliau berperang, darah dihalalkan bagi beliau dan memerangi orang-orang yang menindas beliau seperti dikatakan kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dan ulama-ulama lain ialah firman Allah di surat Al-Hajj AQ 22:39-40 [Ibn Ishaq hal.421-422]:

    Telah diizinkan bagi yang mengalami hendak dibunuh karena dizalimi” (udhina lilladhīna yuqātalūna bi-annahum ẓulimū). Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah.‘..” .

    Setelah itu, Allah menurunkan surat Al-Baqarah AQ 2:193:

    Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah lagi Dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Allah Ta’ala mengizinkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, kaum Anshar masuk Islam, menolong beliau dan para pengikut beliau, serta melindungi kaum Muslimin yang datang ke tempat mereka, kaum Muhajirin dari kaumnya dan kaum Muslimin yang lain di Makkah untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara mereka, kaum Anshar..

    Kemudian kaum Muslimin Makkah hijrah ke Madinah kelompok per kelompok. Rasulullah SAW menetap di Makkah menunggu izin dari Tuhannya untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.” [Ibn Ishaq/Ibn Hisyam hal 422-423]

    Note:
    Zalim adalah (1) Menyembah SELAIN Allah (AQ 11.101; AQ 2.165) (2) bersifat angkuh dengan kekafirannya (AQ 18.35), (3) menolak beriman setelah diturunkan kitab (AQ 21.10-15) (4) menolak memutuskan perkara atas apa yang diturunkan Allah, ini juga disebut fasik dan mengikuti hawa nafsu karena meninggalkan kebenaran yang telah datang (AQ 5.45, 5.48-49), (5) mengingkari Quran, setelah diberikan keterangan dan penjelasan tapi tetap membantah dan membangkang (AQ 29.46-49) namun ketika menjadi Muslim, maka Ia adalah Saudara

    Akar kata Q-T-L (Qaf-Ta-Lam) kerap diterjemahkan sebagai “perang”. Terjemahan ini justru mengaburkan maksud Allah. Akar kata QTL menunjukan suatu perbuatan yang berakibat ‘kematian atau terjadinya pembunuhan’, misal: qatala: ‘dia (pria) membunuh’, qattala: ‘Ia sering membunuh’, qutila: ‘dia (pria) dibunuh’, qutilū: ‘mereka dibunuh’, uqtul: ‘membunuh’, qātil: ‘membunuh, ‘iqtāl: ‘sebab untuk membunuh, qatl: ‘pembunuhan’ ‘qitl’: musuh (yang ingin membunuh), qutl/qātil: ‘pembunuh’, maqtal: ‘titik vital ditubuh (luka yang membawa kematian)’, istaqtala: ‘membahayakan nyawa seseorang’ [lihat di: sini, sini, sini, sini dan sini]

    Tentang tidak ada Fitna lagi:
    [Hadis No. 3103 Ibn Hatim 1/327: Riwayat Bisyr bin Mu’ads → Yazid bin zurai → Sa’id] atau [hadis No. 3104 Ibn Hatim 1/327 dan Abdurrazaq 1/315: Riwayat Al Hasan bin Yahya → Abdurrazzaq → Mamar] → Qatadah: “sehingga tidak ada kemusyrikan“. [Hadis No. 3105 Mujahid 223 dan lbnu Hatim 1/327: Riwayat Muhammad bin Amar → Abu Ashim → Isa ] atau [Hadis No. 3106: Riwayat Al mutsanna → Abu Hudzaifah → Syibil] → Ibn Abi Najih → Mujahid: “fitna yaitu syirik“. Hadis No.3107 Ibnu Katsir 2/217: Riwayat Musa bin harun → Amr bin Hammad → Asbath → As Suddi: “Fitnah yaitu Syirik” Hadis No. 3113 As-Suyuthi di Ad-Durr Al mantsur 1/495: Riwayat Bisyr bin Mu’adz → Yazid bin Zurai’ → Sa’id → Qatadah → Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan kalimat ‘Laa Ilaaha illallah, Kemudian Ia menyebutkan seperti hadits Ar-Rabi” [Tafsir Ath-Tabari, Vol 3, hal. 220-222, Tahqiq: Ahmad Abdurrazig Al Bakri, dkk, dari naskah Syeikh Ahmad/Mahmud Muhammad Syakir]

AQ 22:39-40 adalah ayat pertama yang turun tentang JIHAD. Para penafsir biasanya memberikan alasan bahwa peperangan ini diijinkan karena ketika itu umat Islam Mekkah diperlakukan zalim oleh kaum musyrik Quraish. Alasan ini TIDAK BENAR, Ikrimah dan Qatadah mengatakan orang yang zalim ialah orang yang menolak mengucapkan ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’. Kemudian jika dimaksudkan sebagai dianiaya, ini juga TIDAK BENAR dan TERBALIK karena sedari awal dan secara konstan, kaum Quraish-lah yang JUSTRU mengalami pelecehan, penghinaan keagamaan dari Nabi SAW dan pengikutnya. Penelusuran kita sebelumnya, juga membuktikan TIDAK ADA pengusiran terhadap para Muslimin, malah mereka yang kembali hijrah (dari Habasyah) kembali Mekkah TIDAK mengalami tentangan, TIDAK dihalang-halangi beribadah, dibiarkan berusaha [Misal: Usman bin Mad’un yang berlindung pada Al Walid Bin Al-Mughirah, Abu Salamah yang berlindung pada Abu Talib, dan lainnya]

Bahkan, Kaum Quraish TIDAK mengusir pengikut Muhammad, malahan menahan mereka pergi
Ibnu Ishaq dari Abu Ishaq bin Yasar, dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin Abu Salamah dari neneknya dari Ummu Salamah berkata bahwa ketika Abu salamah memutuskan untuk hijrah ke Madinah menaikan istri (umm salamah) dan anaknya (Salamah bin Abu Salamah). Orang-orang Bani Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum marah, menahan abu salamah pergi dengan menarik tali kendali unta dan menarik Umm salamah. Bani Abdul Asad juga marah atas keputusan Abu Salamah, anak abu salamah di boyong ketempat mereka namun Abu Salamah tetap pada putusannnya dan pergi ke Madinah. Selama hampir setahun Umm Salamah menangis karena terpisah dari suaminya. Kejadian ini membuat bani Al-Mughira iba dan mengatakan jika Ia mau, ia boleh menyusul suaminya. Bani Asad juga mengembalikan anak itu pada ibunya dan mereka berdua pergi menyusul Abu Salamah ke Medina [Ibn Ishaq, hal. 423-424].

Setelah Abu salamah Hijrah yang ke-2 hijrah adalah Ibnu Amir bin Rabi’ah sekutu Bani Adi bin Ka’ab beserta istrinya, Laila binti Abu Hatsmah bin Ghanim bin Abdullah bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Ka’ab.” [Hal. 425] Mereka tidak juga mendapat penahanan dari kaum Quraish.

Setelah mereka adalah Abdullah bin Jash dan keluarga. Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Abdullah bin Jahsy bin Riab bin Ya’mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams. Abdullah bin Jahsy membawa hijrah istrinya dan saudaranya, Abd bin Jahsy (Abu Ahmad, seorang buta dan penyair, Istrinya. Al-Far’ah binti Abu Sufyan bin Harb dan ibu al-Far’ah bernama Umaimah binti Abdul Muththalib bin Hasyim). Rumah Abdullah bin Jahsy tertutup karena semua penghuninya hijrah ke Madinah. [Hal.425].

Setelah itu, kaum Muhajirn datang ke Madinah secara berkelompok-kelompok. Mereka adalah Bani Dudan yang telah masuk Islam. Mereka semua; laki-laki dan wanita hijrah ke Madinah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka adalah Abdullah bin Jahsy, saudara Abdullah bin Jahsy yang bernama Abu Ahmad bin Jahsy, Ukasyah bin Mihshan, Syuja’ bin Wahb, Uqbah bin Wahb, Arbad bin Humayyir (Ibnu Hisyam berkata, “Ada yang mengatakan Ibnu Humair.”), Munqidz bin Nubatah, Sa’id bin Ruqais, Mahraj bin Nadhlah, Yazid bin Ruqaisy, Qais bin Khabir, Amr bin Mihshan, Malik bin Amr, Shafwan bin Amr, Tsaqaf bin Amr, Rabi’ah bin Aksyam, Az-Zubair bin Ubaidah, Tammam bin Ubaidah, Sakhbarah bin Ubaidah dan Muhammad bin Abdullah bin Jahsy.

Wanita-wanita mereka adalah Zainab binti Jahsy, Ummu Habib binti Jahsy, Judzamah binti Jandal, Ummu Qais binti Mihshan, Ummu Habib binti Tsumamah, Aminah binti Ruqaisy, Sakhbarah binti Tamim dan Hamnah binti Jahsy.”

Abu Ahmad bin Jahsy bin Riab berkata mengingatkan hijrah kaumnya, Bani Asad bin Khuzaimah kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta kesiapan mereka untuk hijrah ketika mereka diserukan untuk hijrah [hal. 425-426]. Orang berikutnya yang Hijrah adalah Umar bin Khaththab, Ayyasy bin Abu Rabi’ah dan Hisyam bin Al-Ash [Hal.427]. Orang berikutnya yang Hijrah adalah Shuhaib, Ia hijrah dengan memberikan kekayaannya pada Quraish, karena sewaktu Ia datang kepada mereka ia datang dalam keadaan hina dan miskin serta menjadi kaya berkat mereka. [Hal.431].

Hamzah bin Abdul Muththalib, Zaid bin Haritsah, Abu Martsad Kannaz bin Hishn (Ibnu Hisyam berkata, “Abu Martsad Kannaz adalah anak Hushain.”), anak Kannaz bin Hishn yang bernama Martsad Al-Ghanawiyyan, sekutu Hamzah bin Abdul Muththalib, Anasah dan Abu Kabsyah–keduanya mantan budak Rasulullah SAW–menetap di rumah Kultsum bin Hidam, saudara Bani Amr bin Auf di Quba‘ [hal.431]

Ubaid bin Al-Harits bin Al-Muththalib, Ath-Thufail bin Al-Harits, Al-Hushain bin Al-Harits (keduanya saudara Ubaid), Misthah bin Utsatsah bin Ibad bin Al-Muththalib, Suwaibith bin Sa’ad bin Harmalah saudara Bani Abduddaar, Thulaib bin Umair saudara Bani Abd bin Qushai dan Khabbab mantan budak Utbah bin Ghazwan menetap di rumah Abdullah bin Salimah saudara Bal’ajlan di Quba’. [Hal. 431]

Abdurrahman bin Auf bersama sejumlah kaum Muhajirin menetap di rumah Sa’ad bin Ar-Rabi’ saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj di permukiman Al-Harits bin Al-Khazraj.[Hal. 431]

Az-Zubair bin Al-Awwam dan Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Adul Uzza menetap di rumah Mundzir bin Muhammad bin Uqbah bin Uhaihah bin Al-Julaj di Al-Ushbah di perkampungan Bani Jahjabi.[Hal. 431]

Mush’ab bin Umair, saudara Bani Abduddaar menetap di rumah Sa’ad bin Mundzir bin An-Nu’man, saudara Bani Abdul Asyhal di perkampungan Bani Abdul Asyhal.[Hal. 432]

Apakah mereka hijrah dalam keadaan miskin? Tidak.

    حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ فَرَضَ لِلْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ أَرْبَعَةَ آلَافٍ فِي أَرْبَعَةٍ وَفَرَضَ لِابْنِ عُمَرَ ثَلَاثَةَ آلَافٍ وَخَمْسَ مِائَةٍ فَقِيلَ لَهُ هُوَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ فَلِمَ نَقَصْتَهُ مِنْ أَرْبَعَةِ آلَافٍ فَقَالَ إِنَّمَا هَاجَرَ بِهِ أَبَوَاهُ يَقُولُ لَيْسَ هُوَ كَمَنْ هَاجَرَ بِنَفْسِهِ

    Diriwayatkan kepada kami Ibrahim bin Musa, kepada kami Hisyam dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Umar dari Nafi’ dari ‘Umar bin Al Khaththab, dia MEWAJIBKAN muhajirin awal membayar (“فَرَضَ”) empat ribu dan mewajibkan (“فَرَضَ”) Ibnu ‘Umar Tiga ribu lima ratus. Lalu dia ditanya, “Ibnu ‘Umar termasuk muhajirin, tapi kenapa engkau mengurangi dari kewajiban 4000?”. Maka dia jawab; “Dia berhijrah dibawa kedua orang tuanya.” Dia juga berkata; “Dia tidak sama dengan orang yang berhijrah sendiri”. [Bukhari no. 3622 atau Bukhari 5.58.251]

    Note:
    mata uang yang dimaksud tidak diketahui apakah itu dirham atau dinar, namun jika di asumsikan dengan yang memiliki nilai terkecil yaitu dirham, maka:
    1 dirham = 1/10 dinar [Bukhari no.2517] -> 4000 dirham = 400 dinar.
    1 dinar = 4.235 gram emas -> 1.694 Kilogram Emas
    1 gram Emas 24 karat = Rp 570.000an/g. Jadi total: ± Rp. 228.000.000,-, anda bisa bayangkan bahwa jika yang dimaksud adalah dinar bukan dirham maka nilainya berubah 10 x lipat menjadi 2.28 Milyard

Tidaklah patut seseorang dikatakan miskin ketika Ia mampu MENYERAHKAN UANG ± Rp. 228.000.000,-, bukan?. Nah, inilah bukti bahwa banyak dari mereka yang hijrah adalah kaya raya. Bagi mereka yang berstatus budak, tidaklah berkemampuan seperti ini, mereka ini sudah miskin baik di sebelum hijrah, saat hijrah dan di bulan-bulan awal setelah hijrah.

Setelah semua siap dan kekuatan telah terbentuk untuk memerangi kaum yang selama ini telah bertahun-tahun dan berulang-ulang beliau hina dan lecehkan, barulah Nabi hijrah ke Medinah:

    Ibnu Ishaq berkata, “Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Rasulullah SAW mempunyai banyak pengikut, sahabat-sahabat di negeri lain dan melihat hijrahnya sahabat-sahabat beliau dari kaum Muhajirin ke sahabat-sahabat dari kaum Anshar, mereka pun segera sadar bahwa kaum Muslimin telah mendapatkan negeri dan mendapatkan perlindungan. Oleh karena itu, mereka mewaspadai hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah. Mereka juga sadar bahwa kaum Muslimin telah bersatu padu untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka segera menggelar rapat di Daar An-Nadwah membahas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tadinya Daar An-Nadwah rumah milik Qushai bin Kilab. Orang-orang Quraisy tidak memutuskan satu perkara, melainkan mereka bermusyawarah di dalamnya. Di Daar An-Nadwah itu pula, mereka mengadakan rapat membahas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena mereka takut kepada beliau.”[Ibn Ishaq hal.434]
Diantara usulan pada rapat itu diantaranya adalah mengusir dan memenjarakan hingga mati namun di tolak. Usulan yang disepakati adalah agar dari setiap kabilah diambil seorang pemuda dan diberi pedang kemudian pergi ke Muhammad S.A.W dan menebasnya.

Pertanyaan sederhana:
Kenapa baru sekarang dan tidak dilakukan jauh hari sebelumnya, yaitu pasca wafatnya Abu Thalib?

Rencana itu kemudian bocor

[di versi Ibn Ishaq yang memberitahu adalah Jibril namun di versi Muhammad Husayn Haykal tidak disebutkan siapapun yang memberitahu dan dikatakan Nabi mengetahui].

Dikisahkan bahwa Ali bin Abu Thalib malam itu di tugaskan [baca: dikorbankan] menyamar jadi Nabi dan tidur di ranjang beliau dengan mengenakan selimut yang biasa digunakan beliau. Dalam pengepungan itu, dikisahkan Nabi dapat menyelinap keluar rumah tanpa sepengetahuan mereka, yaitu setelah mengucapkan surat Yasin AQ 36:1-9

[Note: Patut untuk diketahui, Sin adalah juga nama dewa bulan kaum Syiria dan babilonia. Nama gunung Sinai juga berasal dari nama dewa ini].

    Tidak lama setelah itu, seseorang datang menemui pemuda-pemuda Quraisy yang sedang berada di pintu rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepada mereka, ‘Apa yang sedang kalian tunggu?’ Mereka menjawab, ‘Kami sedang menunggu Muhammad.’ Orang tersebut berkata, ‘Allah telah menggagalkan kalian. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumahnya..”

    Mereka mengintip ke dalam rumah dan mendapati Ali bin Abu Thalib berada di ranjang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengenakan selimut beliau. Mereka berkata, ‘Demi Allah, ini pasti Muhammad sedang tidur mengenakan selimutnya.’ Mereka tidak meninggalkan rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga esok hari.[Ibn Ishaq hal.437]

Pertanyaan sederhana:
  1. Bagaimana mungkin, sekelompok pembunuh yang begitu membenci para muslim, MALAH MAU MENUNGGU di luar semalam, kedinginan sementara orang yang hendak dibunuhnya dibiarkan tidur nyenyak dalam kehangatan hingga esok harinya?

  2. Bagaimana mungkin, sekelompok pembunuh yang begitu membenci para muslim, ketika mengetahui mereka tertipu, masih membiarkan Ali bin Abu Thalib hidup, tidak segera menebas lehernya atau ditangkap?
Sejak malam itu, Nabi tidak diketahui rimbanya dan pada siang harinya Ia bertemu Abu bakar dan kemudian mereka hijrah.
    Aisyah meriwayatkan bahwa Abu bakar ketika itu tengah berangkat menuju ke Ethiopia dan ditengah jalan bertemu Ibn Ad-Daghina, kepala suku Qara, yang menyapa Ia hendak kemana.

    Abu Bakar menyatakan bahwa dirinya diusir oleh penduduk Mekkah.

    Pernyataan ini mengundang simpati Ibn Ad-Daghina yang kemudian menyatakan akan melindunginya dan atas nama abu bakar, Ia bertemu kaum Quraish dan meminta agar Abu bakar dibiarkan. Terjadilah perjanjian, di mana kaum Quraish tidak berkeberatan Abu bakar menyembah Tuhannya dan melantunkan Quran selama itu dilakukan di rumahnya sendiri dan tidak diluar rumah.

    Namun kemudian Abu bakar melanggar perjanjian ini dengan membuat mesjid diluar rumahnya dan melantunkan ayat2 quran secara terbuka.

    Ibn Ad-Daghina, sang Pelindungnya di tegur kaum quraish dan kemudian datang ke tempat Abu bakar menyatakan bahwa ia tidak mau di tuduh melanggar perjanjian hanya karena yang dilindunginya dan diwakilkan bicara malah yang melanggarnya serta memberikan 2 opsi yaitu meminta ia dibebaskan sebagai pelindung atau Abu Bakar mematuhi perjanjian.

    Abu Bakar kemudian memilih membebaskan Ibn Ad-Daghina.

    Saat itu, Muhammad S.A.W ada di Mekkah dan menyatakan pada orang-orang muslim bahwa Ia bermimpi diperlihatkan tempat mereka akan ber-emigrasi. Kemudian Ia meminta kaum Muslim, termasuk yang telah kembali dari Ethiopia, untuk hijrah ke Medinah.

    Abu bakar, ketika itu juga hendak hijrah namun Nabi menahannya untuk tidak pergi. Ia diminta untuk menunggu beberapa saat hingga Muhammad S.A.W mendapatkan “ijin” untuk pergi hijrah juga.

    4 (empat) bulan berlalu dan pada suatu siang, Nabi datang dan mengatakan Ia telah mendapatkan restu untuk Hijrah.

    Nabi dan Abu bakar menyewa tenaga seorang kafir Quraish dari Bani Ad-Dail sebagai penunjuk jalan. Setelah Asma binti Abu bakar mempersiapkan perbekalan, mereka berangkat menuju ke gua Tsur dan menginap disana selama 3 (tiga) hari.

    Selama di gua tersebut, hingga fajar menjelang, mereka juga di temani oleh Abdulah bin Abu bakar dan Amir bin Fuhaira.

    Selama 3 (tiga) hari itu, Abdullah selalu pergi sebelum fajar untuk mencari berita dari kaum Quraish sementara Amir bin Fuhaira yang menyiapkan susu segar sebagai bekal di gua [Sahih Bukhari: 7.72.698, 5.59.419, 5.58.245, 3.36.464 dan 465]

    Di hadis yang sama: ‘Urwa bin Az-Zubai: hari kedatangan Nabi di Medinah, kaum Muslim, telah siap menyambutnya dan menunggu di tengah terik siang hari. sementara dari riwayat ponakannya Surakah: jumlah tenaga pengejar kaum Quraish yang hendak menangkap, ternyata hanya 1 (satu) orang saja, yaitu Suraqa bin Ju’sham, Padahal hijrahnya Nabi ke Medinah, selain bersama Abu Bakar, juga ada Amir bin Fuhaira dan dipandu seorang kafir Quraish sebagai penunjuk jalan

    Ada hadis sahih bahwa Abu Bakar ketika hijrah tidak bersama Nabi, yaitu dari riwayat Nafi dari Ibn ‘Umar tentang Muhajirun PERTAMA yang tiba di Medina adalah Salim, Abu Bakar, ‘Umar, Abu Salama, Zayd dan ‘Amir ibn Rabi’a [Bukhari no.6754]


Ketika Rasulullah SAW pergi bersama Abu Bakar, Abu Bakar membawa seluruh kekayaannya yang berjumlah 5000 dirham atau 6000 dirham [Sirat nabawiyah ibn Ishaq, jilid ke-1, bab 90, hal.442]Hadis sahih, sirah/buku riwayat hidup Nabi di atas telah menunjukan jelas bahwa kepergian Muhammad S.A.W ke MEDINA telah direncanakan dengan baik, lebih dari 4 (empat) bulanan sebelumnya, BUKAN karena klaim adanya rencana penangkapan atau pembunuhan pada Muhammad S.A.W melainkan karena hendak mempersiapkan angkatan perang

Tentang keajaiban di gua Tsur (Thawr)
Muhammad Husain Haekal dalam “Sejarah Hidup Muhammad“, menyajikan kisah “ajaib” di gua Tsur, saat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di dalamnya dari kejaran Quraish kafir. Haekal akui nukilannya itu TIDAK ADA dalam sirat Ibn Ishaq/Ibn Hisyam:

    [..]Lalu orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi.

    “Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?” tanya kawan-kawannya.

    “Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir,” jawabnya. “Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana.”

    [..]

    Sarang laba-laba, dua ekor burung dara dan pohon. Inilah mujizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Thaur itu. Dan pokok mujizatnya ialah karena segalanya itu tadinya tidak ada. Tetapi sesudah Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka cepat-cepatlah laba-laba menganyam sarangnya guna menutup orang yang dalam gua itu dari penglihatan. Dua ekor burung dara datang pula lalu bertelur di jalan masuk. Sebatang pohonpun tumbuh di tempat yang tadinya belum ditumbuhi.

    Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem [note: Emile Dermenghem, “La Vie de Mahomet”], mengatakan:

    “Tiga peristiwa itu sajalah mujizat yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi.”

    Akan tetapi mujizat begini ini tidak disebutkan dalam Sirat Ibn Hisyam ketika menyinggung cerita gua itu.

Haekal ketika menulis ini [tahun 1933] tidak menyinggung derajat kekuatan riwayat yang dikutipnya. Namun derajat keabsahan kisah ajaib itu menurut “Q/A Fatwa no. 27224“:
    Kisah yang berisi sarang laba-laba diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3241) dari Ibnu ‘Abbas, “[..]Mereka naik ke atas gunung dan melewati gua, dan melihat sarang laba-laba menutupi pintu masuknya. Mereka berkata, Jika ada orang yang masuk kemari, laba-laba tidak akan membuat sarang menutupi pintu masuk.” [..]

    Pendapat ulama:
    Sanad: dinyatakan hasan (baik) oleh al-Hafidz Ibnu Hajar [Fath al-Baari] dan oleh Ibnu Katsir [al-Bidaayah wa’l-Nihaayah (3/222)]. Dinyatakan dhaif (lemah) oleh al-Albani [al-Silsilah al-Da’eefah]. Ahmad Shaakir [al-Musnad Tahqeeq (3251)]: ada beberapa perselisihan tentang sanad-nya. Para komentator al-Musnad berkata (3251): sanad-nya adalah dhaif.

    Berkenaan dengan kisah dua merpati atau burung merpati, Ibnu Katsir [al-Bidaayah wa’l-Nihaayah (3/223)], mengatakan bahwa hal itu diriwayatkan oleh Ibnu Asaakir’, sanad hadis ini: gharib Jiddan (sangat asing, dhaif). Para komentator dalam al-Musnad di atas, menggolongkannya sebagai dhaif.

    Al-Albani [al-Silsilah al-Da’eefah (3/339)]: Patut dicatat, meskipun banyak disampaikan di dalam kitab dan ceramah untuk peringatan hari hijrah nabi ke Madinah, namun TIDAK ADA hadits sahih yang menyebutkan tentang laba-laba dan merpati di gua. Jadi ini harus diingat.

    Berkenaan dengan “malaikat menyembunyikan Nabi dan Abu Bakar” [Ini tidak ada pada nukilan Haekal di atas] adalah berdasarkan riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir (24/106-108) dari hadis Asma ‘binti Abi Bakar: “Kemudian Abu Bakar berkata tentang seorang pria yang ia bisa lihat di balik gua, ‘Wahai Rasulullah, dia melihat kami’ Dia berkata, ‘Tidak, malaikat menyembunyikan kami dengan sayap mereka … “.

    Sanad hadis ini termasuk Ya’qoob bin Humaid bin Kaasib al-Madani, para ulama berbeda pendapat [Lihat Tahdzib al-Kamaal, al-Mazzi, 32/318-323]. Dianggap sebagai dhaif (lemah) oleh Ibnu Ma’een, Abu Haatim, al-Nasaa’i dan Abu Zar’ah al-Raazi.

    Abu Dawud al-Sijistaani: kita lihat dalam hadis musnad-nya yang kita anggap sebagai munkar (kecacatan perawi). Kami meminta sumber-sumbernya dan dia menolak memberitahukan pada kami, Ia riwayatkan mereka setelah itu. Kami menemukan, di beberapa buku, hadis-hadis telah diubah, ini adalah hadis mursal (terputus sanadnya, dhaif) tapi ia menambahkan isnad-isnadnya dan menambahkan sesuatu di teksnya. Adiyy Ibnu: Tidak ada yang salah dengannya serta laporannya. Ia meriwayatkan banyak hadis dan dilaporkan banyak gharib (salah seorang perawinya nyeleneh, dhaif). Al-Dhahabi: Ia adalah salah satu ulama hadis tetapi melaporkan laporan munkar dan gharib. Ibnu Hibban: Dia thiqah (dapat dipercaya). Al-Hafidz Ibnu Hajar: dia sadooq (jujur), tetapi kadang-kadang bingung.

    Al-Albani: menggolongkannya sebagai hadis hasan tetapi bukan kelas hadis ini sebagai hasan. Dalam al-Silsilah al-Da’eefah (3/263):

    Apa yang didirikan Ya’qoob tentang ini adalah hadis hasan..Jika tidak ada kesalahan lain dalam sanad maka itu adalah hasan … Lalu ia berkata: Syaikh al-Thabrani Ahmad bin ‘Amr al-Khallaal al-Makki tidak menemukan apa-apa tentang latar belakangnya. Ia meriwayatkan sekitar 16 hadits [di al-Mu’jam al-Awsat], ini menunjukkan bahwa Ia adalah salah satu syeikh ternama. Jika hadis ini dikenal atau ada yang menguatkan laporan, maka hadis ini hasan.

Masih mengenai keajaiban di gua Tsur [thawr], tentang kisah lainnya, saat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi di dalamnya, yaitu tentang cicak [lihat bentuknya: “الوزغ” = al wazagh. Jamaknya: awzagh/أَوْزَاغٍ] yang memberitahu musuh Nabi dengan bunyinya yang mengisyaratkan ada orang di dalam gua. Itulah mengapa nabi memberi perintah agar membunuh binatang ini di manapun dijumpai [BLOG INI memberikan Rujukan: Tafsir Imam ibn Katsir juz 3 hal.185, Tafsir Imam Attabari Juz 17 hal 45; Hadits shahih Imam Muslim no.2238. Kisah cicak musuh nabi dan gua tsur, dikutip banyak tulisan, silahkan check DI SINI].

Jadi, di samping dosa turunan cicak pada kasus: Cicak VS Ibrahim, banyak hadis menyampaikan bahwa cecak rumahan ini adalah musuh Islam yang wajib dibunuh seluruh muslim.

Bukhari mengkoleksi 4 hadis:

  1. Hadits no. 3109: Rasulullah memerintahkan membunuh cecak karena dahulunya cecak ikut membantu meniup api (saat eksekusi pembakaran) Nabi Ibrahim.
  2. Hadits no. 3062: Nabi memerintahkan untuk membunuh cecak.
  3. Hadits no. 3061: Nabi mengomentari cecak dengan istilah fuwaisiq (durhaka) dan Urwah tidak mendengar beliau memerintahkan untuk membunuh, tetapi Sa’ad bin Abi waqqas beranggapan bahwa Nabi memerintahkan untuk membunuhnya.
  4. Hadits no. 1700: Nabi bersabda, cecak itu fuwaisiq, dan aku (periwayat hadis) tidak mendengar beliau memerintahkan untuk membunuhnya.
Muslim mengkoleksi 5 hadis:
  1. Hadits no.4155: Rasulullah menamai cicak dengan fuwaisiq, Harmalah menambahkan aku belum mendengar beliau menyuruh untuk membunuhnya.
  2. Hadits no. 4154: Nabi memerintahkan membunuh cecak dan beliau memberi nama fuwaisiq.
  3. Hadits no. 4152: Nabi menyuruh ummu syuraik supaya membunuh semua cecak.
  4. Hadits no. 4156: Nabi bersabda siapa yang membunuh cecak sekali pukul maka akan mendapat kebaikan segini dan segini, barang siapa yang membunuh cecak dua kali pukul maka mendapat kebaikan yang berkurang dibanding pukulan pertama. Dan barangsiapa yang membunuh cecak tiga kali pukul maka pahalanya kurang dari itu. Jarir mengatakan dalam haditsnya, barangsiapa membunuh cecak sekali pukul mendapatkan seratus kebaikan, barang siapa memukul lagi maka pahalanya kurang dari pahala pertama, dan barang siapa yang memukul lagi maka pahalanya kurang dari pahala kedua. Dari Abu Hurairah, nabi bersabda pada pukulan pertama terdapat tujuh puluh kebaikan.
  5. Hadits no. 4153: Ummu Syarik bertanya kepada nabi tentang membunuh cecak, lalu nabi menyuruhnya agar dibunuhnya saja.
Ahmad mengkoleksi 8 hadis:
  1. Hadits no. 24463: Nabi bersabda bunuhlah cecak, sesungguhnya ia meniupkan api kepada nabi Ibrahim.
  2. Hadits no. 24643: Seorang wanita menemui Aisyah menjumpai anak panah tergeletak, dan bertanya, untuk apa panah ini? Aisyah menjawab, membunuh cecak, kemudian Aisyah menceritakan bahwa nabi berkata ketika Ibrahim dilempar ke dalam api, semua binatang melata berusaha memadamkannya, kecuali cecak, ia justru meniupnya.
  3. Hadits no. 23636: Saibah menemui Aisyah dan ia melihat sebuah panah tergeletak di rumahnya, lalu berkata, wahai ummul mukminin, apa yang kamu perbuat dengan panah ini?, aisyah menjawab untuk membunuh cecak, karena rasulullah mengkhabarkan kepada kami bahwa saat nabi Ibrahim, tidak ada binatang melatapun yang tidak memadamkannya kecuali cecak justru meniupnya, karena itu rasulullah memerintahkan membunuhnya.
  4. Hadits no. 23393: Saibah pembantu Faqih bin Al Mughirah menemui Aisyah dan menemui tombak yang tergeletak, seraya berkata, Wahai ummul Mukminin, untuk apa tombak ini?, Aisyah berkata, tombak ini untuk membunuh cecak, karena Rasulullah bercerita kepada kami, bahwa Ibrahim ketika dilempar di kobaran api, tidak ada binatang melatapun di bumi yang tidak memadamkan api, kecuali cecak, dia meniup kobaran api supaya Ibrahim celaka, oleh karena itu Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk membunuhnya.
  5. Hadits no. 25178: Nabi berkata cecak adalah fuwaisiq (berbahaya).
  6. Hadits no. 25127: Dari ya’qub Rasulullah bersabda cecak adalah fuwaisiq (berbahaya) tetapi Aisyah tidak mendengar, beliau memerintahkan untuk membunuhnya.
  7. Hadits no. 24059: Dari Hajjaj Rasulullah bersabda cecak adalah fuwaisiq (berbahaya) tetapi Aisyah tidak mendengar, beliau memerintahkan untuk membunuhnya.
  8. Hadits no. 23429: Dari Bisyr bin syu’bah Rasulullah bersabda cecak adalah fuwaisiq (berbahaya) tetapi Aisyah tidak mendengar, beliau memerintahkan untuk membunuhnya.
An-Nasai no. 2888 dan Ibn Majah no. 3228. “Umm Shurayk: Nabi memerintahkan agar wazagh di bunuh, dan ia berkata, karena ia meniupkan api ke Ibrahim”


Note:

Di kepercayaan masyarakat Yaman dan banyak negara Arab, penyakit kulit sering dikaitkan dengan cicak/tokek yang berjalan di atas wajah orang yang sedang tidur [Frembgen JW. The folklore of geckos: Ethnographic data from south and west asia. Asian Folklore Studies. 1996;55:135–143. ATAU lihat di NCBI]. Kata Arab: “wazagh” = cicak/tokek yang juga sejenis dengan:
  1. Sahliat/Kadal (سحلية)
  2. Abu Baris (أبو بريص)/Stenodactylus atau “samm abras”/”aza’a” (سام ابرص)
Keduanya ini lebih besar dari al wazagh. Pendapat para Ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani di Fathul Bari (6/395): “وَيُقَال لِكِبَارِهَا سَامٌّ أَبْرَصُ” (wayuqal likibariha samm ‘abras/dikatakan yang besaran adalah samm abras).
Imam Nawawi di Syarah Muslim (14/236): “قال أهل اللغة الوزغ وسام أبرص جنس فسام أبرص هو كباره” (qal ‘ahl allughat alwazgh wasam ‘abras juns fasam ‘abras hu kibarah/Kata para Ahli bahasa: al-wazagh dan samm ‘abras adalah sejenis, samm abras yang lebih besar).
As Syaukani di Nailul Authar 8/200: “قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ هِيَ مِنْ الْحَشَرَاتِ الْمُؤْذِيَاتِ وَجَمْعُهُ أَوْزَاغٍ وَسَامٌّ أَبْرَصُ جِنْسٌ مِنْهُ وَهُوَ كِبَارُهُ” (qal ‘ahl alllughat hi min alhasharat almudhiat wajameuh ‘awzagh wasamm ‘abras jins minh wahu kibaruh/Para ahli bahasa berkata ia salah satu binatang melata yang mengganggu, jamaknya awzagh (أَوْزَاغٍ) dan samm ‘abras (سَامٌّ أَبْرَصُ) adalah jenisnya dan lebih besar)
Lisanul Arab Ibnu Manzur: “الوَزَغُ دُوَيْبَّةٌ التهذيب الوَزَغُ سَوامُّ أَبْرَصَ ابن سيده الوَزَغةُ سامُّ أَبرصَ” (Al Wazagh adalah binatang melata kecil. At-tahdzib: al-Wazagh adalah samm abras. Ibnu Sayyidihi: al-wazagh adalah samm abras)

KE-11,
Hingga di Medinah, barulah muncul surat Al Hajj AQ 22.52 [Turun di urutan ke-103], Muhammad SAW menarik pengakuannya pada 3 tuhan Quraish [yang ada di surat AQ 53.19] dengan alasan itu adalah ulah setan, namun mengapa lama sekali baru dikoreksi, dan itupun setelah hijrah ke Madinah?!

Dari set kronologi ke-1 sampai ke-11, yaitu dari sumber kalangan islam sendiri, tersaji sebuah fakta sederhana, bahwa hijrah Muhammad SAW ke Madinah BUKAN karena pengusiran/penyiksaan fisik. Selama 13 tahun Muhammad SAW di Mekkah, TIDAK terjadi penganiayaan keji seperti klaim selama ini. Bahkan kejadian terburuk yang dialaminyapun juga bermula dari ulah Muhammad SAW sendiri dan kejadian itu tidak membuat 1 tetespun darah Muhammad SAW tumpah.

Juga tersaji fakta bahwa telah berkali-kali kaum Quraish meminta Muhammad membuktikan klaim kenabiannya namun tidak mampu Muhammad penuhi, malah klaim Muhammad sebagai Nabi justru terkuak ketidakbenarannya.

Maka dapatlah disimpulkan bahwa KORBAN SESUNGGUHNYA BUKANlah Muhammad elainkan Kaum Quraish.


Muhammad di Mekkah: Ke-Tauhid-an, Alat Berbalut Motif Ekonomi dan Balas Dendam

More Story on Source:

* Source→ *

0

Publication author

offline 2 months

SFi Official

0
Comments: 0Publics: 1632Registration: 11-03-2021